FOKUS: Enam Hal Yang Kita Pelajari Dari Fase Awal Indonesia Super League 2014

Delapan besar menanti, dan Indonesia Super League 2014 fase awal memberikan beberapa catatan.

OLEH FARABI FIRDAUSY Ikuti di twitter

Untuk pertama kalinya kompetisi kasta tertinggi Indonesia diubah menjadi dua wilayah sejak bernama Indonesia Super League (ISL), sebanyak 22 tim telah berjuang dan beberapa harus menyudahi petualangan mereka musim ini.

Delapan tim sudah menetapkan nasib mereka untuk tetap berjuang meraih trofi, lalu empat tim yakni Persiba Bantul, Persijap Jepara, Persita Tangerang dan Persepam Madura United dipastikan absen musim depan karena terdegradasi.

Dari mulai laga yang tak kondusif hingga tim kejutan menjadi bumbu ISL musim ini, dan Goal Indonesia coba mengulas --- hal yang telah kita pelajari dari fase pertama ISL 2014.

Anda tak akan lupa laga Persipura Jayapura kontra Persiba Balikpapan di Stadion Mandala Jayapura, 20 Februari lalu. Nama Ahmad Suparman menjadi sorotan ketika beberapa keputusan semacam mengada-ngada dan juga tak mampu bertindak tegas. Mulai pemukulan Dominggus Fakdawer kepada Fernando Soler serta tendangan Andri Ibo ke kaki Arif Alfiansyah. puncaknya pun pada penalti hantu di ujung laga yang dihadiahkan untuk tuan rumah hingga Persipura menang 1-0. Akibat laga itu, Suparman pun lenyap dari ISL.

Tapi sejatinya bukan hanya Suparman yang eror. Beberapa kesalahan keliru masih suka dilakukan wasit, Komite Wasit pun bertindak lumayan cepat kepada kekeliruan sang pengadil. Masih ada Djumadi Effendi, Iwan Sukoco, Dodi Setia Hadi dan lain-lain yang sempat dihukum Komite Wasit di bawah naungan Roberto Rouw pada Februari. Sayangnya, respons cepat terhadap kekeliruan wasit hanya terdengar di awal kompetisi saja.

Persijap, Persiba Bantul dan Persita, apa kesamaan mereka? Ya, ketiganya terdegradasi bersama Persepam. Namun hal lain yang menyamakan ketiganya adalah masih dijerat krisis finansial dan isu gaji pemain. Persiba dan Persijap bahkan tak jarang terbuka kepada insan pers bahwa mereka sulit untuk menggaji para pemain, sejak ISL baru bergulir. Persita pun ditinggal pelatih mereka Fabio Oliviera yang lalu membeberkan bahwa para awak Pendekar Cisadane harus mengutang karena belum gajian.

PSM Makassar yang sempat jadi calon kuat ke delapan besar pun pada awalnya berjuang di ambang degradasi, itu pun tak lepas dari gaji para pemain yang belum dipenuhi manajemen. Seiring pergantian pelatih Rudy William Keeltjes oleh Assegaf Razak dan menghilangnya isu gaji, Juku Eja pun malah ngotot mengancam tiket ke delapan besar. Meski akhirnya Syamsul Chaeruddin cs yang sudah luar biasa harus gigit jari karena kalah di laga penutupan wilayah timur.

Untuk hal ini, mungkin ada pihak lain yang harus lebih belajar dari pengalaman yang terus-menerus terulang.

Jika sepakbola masih bisa dianggap sebagai identitas sebuah daerah, maka beberapa tim di ISL gagal memenuhinya. Persita yang selayaknya menjadi kebanggaan masyarakat Tangerang ketika berlaga di Stadion Benteng malah bermain jauh di Singaperbangsa, Karawang, dan memengaruhi suntikan dukungan kepada mereka hingga kini harus turun kasta.

PSM yang jadi kebanggaan warga Makassar tidak bisa menggunakan Stadion Andi Mattalatta Mattoangin, bermarkas jauh di Surabaya dan gagal menembus delapan besar. Sungguh disayangkan karena PSM salah satu klub dengan sejarah dan punya pendukung yang besar di daerahnya.

Kemudian Persiram Raja Ampat yang tiap minggunya hanya ditonton segelintir orang di Stadion Maguwoharjo, Sleman. Sempat menjadi kuda hitam dan menakutkan di awal musim, tapi pada akhirnya malah nyaris turun kasta ke Divisi Utama.

Jika ada istilah Football Without Fans Is Nothing, makan memang bukan semata-mata karena industri. Tapi dukungan yang ada di stadion dan aura rumah sendiri.

Terlalu suram ISL musim ini untuk tim Jawa Tengah tatkala Persijap dan Persiba Bantul harus turun kasta. Masalah finansial menjangkit mereka, suporter yang tak kondusif dan sepi memadati stadion. Maka degradasi bukan lah yang aneh jika harus dialami Laskar Kalinyamat dan Sultan Agung.

Di lain hal secara dramatis dua tim Papua lolos dari degradasi di pekan akhir ISL. Persiram yang nasibnya bergantung kepada tim lain seperti Perseru dan Persepam sudah lebih dulu menyelesaikan kompetisi sambil harap-harap cemas di laga pamungkas. Untungnya Persepam takluk dari Persipura.

Dan untuk Perseru, Kuda Laut Oranye seakan menuliskan lembar sendiri sebagai tim protagonis yang punya harapan di masa mendatang. Berawal dari keadilan ketika Persepam kalah dari Persipura dan mereka mencetak kemenangan di laga pamungkas kontra Persela Lamongan. Sekaligus menjadi tim pertama yang mampu mengalahkan Persela di Stadion Surajaya, prestasi yang Persipura sekalipun belum bisa membuatnya. ISL musim depan yang lebih cerah pun menanti untuk klub Yapen ini, mereka akan bermarkas di rumah sendiri Stadion Marora.

Tidak ada yang menyangka Pelita Bandung Raya dan Persela Lamongan bisa sejauh ini di ISL. Kedua tim tersebut pun sejatinya bukan ancaman serius gelar juara musim lalu, bahkan PBR harus berkutat di laga play-off degradasi kontra Persikabo Bogor. Namun perombakan total yang dilakukan manajemen The Boys Are Back membuat mereka berada di posisi kini, delapan besar Grup A bersama Arema Cronus, Semen Padang dan Persela.

Persela sendiri tim yang naik-turun dan tak dominan di wilayah timur. Tapi satu nilai plus tim asahan Eduard Tjiong ini adalah konsisten di laga kandang. Mereka mampu tak terkalahkan dalam sembilan laga di Surajaya dengan mengamankan enam kemenangan. Hasil buruk hanya mereka rasakan di partai pamungkas kontra Perseru.

Para klub-klub ISL masih belum bisa melepas kebutuhan mereka akan bomber asing dan bek tengah asing, begitu jendela transfer dibuka, para klub kontestan sibuk mendengarkan para penawaran dari agen-agen sambil menyeleksi pemain asing yang tak dikenal betul rekap kariernya.

Dan hal terserbut tercermin dari klasifika pencetak gol terbanyak sejauh ini, di mana barisan bomber asing jadi sumber gol dari banyak tim di ISL. Emmanuel 'Pacho' Kenmogne asal Kamerun dan bermain untuk Persebaya memimpin dengan 22 gol, disusul darah Nigeria yang dinaturalisasi, Greg Nwokolo, dengan 14 gol.

Esteban Vizcarra, Cristian Gonzales dan Ilija Spasojevic masing-masing memperoleh sepuluh gol. Hanya Samsul Arif Munip dari Arema, darah asli Indonesia yang bisa menyamai pencapaian sepuluh gol. Hal ini yang akan terus membuat striker lokal tidak terlacak kemampuan aslinya.

addCustomPlayer('o0nj4a7l8zom1cxl39osncdku', '', '', 620, 540, 'perfo0nj4a7l8zom1cxl39osncdku', 'eplayer4', {age:1407083524494});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.