FOKUS: Faktor Yang Membuat Persijap Jepara Dan Persiba Bantul Terpuruk

Persijap dan Persiba banyak dilanda masalah dari segi teknis maupun non teknis, yang membuat mereka terpuruk di dasar klasemen pada putaran pertama.

OLEH AURELIUS BALAKOSA DAN ADHE MAKAYASA
Putaran pertama Indonesia Super League (ISL) 2014 menempatkan dua tim berada di posisi terbawah. Di wilayah barat ada Persijap Jepara, sementara di timur Persiba Bantul menjadi juru kunci. Banyak faktor yang membuat kedua tim tersebut sulit bersaing dengan tim lainnya pada putaran pertama. Mulai dari faktor teknis hingga non teknis.
Persijap misalnya. Bisa dibilang, pada putaran pertama mereka hancur lebur. Persiapan tim yang dipaksakan, serta minimnya pendanaan disebut manajemen Persijap menjadi biang keladi. Menurut informasi, dana satu-satunya tim Jawa Tengah yang berlaga di ISL tersebut hanya Rp2,5 miliar.
Tanpa dukungan tambahan pendanaan dari sponsor, dirasa sangat berat untuk bersaing di papan atas. Stadion Gelora Bumi Kartini yang biasanya dipadati suporter, dua musim terakhir sepi. Padahal, tiket penonton diharapkan bisa membantu pendanaan atau untuk operasional tim.

Dukungan: Persijap sangat membutuhkan dukungan suporternya untuk memenuhi stadion, guna memberi semangat sekaligus menjadi sumber pemasukan dari tiket.
Persijap akrab dengan masalah sebelum kompetisi dimulai. Pergerakan dari kompetisi Indonesia Premier League (IPL) yang terpuruk, ternyata berimbas sejajar dengan keterpurukan di ISL 2014. Target pelatih Persijap Raja Isa, sebelum digantikan Yudi Suryata, menempatkan Evaldo Silva dan kawan-kawan di posisi tujuh atau delapan akhir kompetisi.

Namun, apa yang terjadi. Laskar Kalinyamat berada di posisi buncit klasemen wilayah barat dengan koleksi empat poin dari sepuluh laga. Pertandingan kandang pun tak bisa dimaksimalkan skuat Merah-Merah. Statistik gol kemasukkan dan memasukkan juga sangat memprihatinkan. Gawang Persijap dibobol 24 kali, sementara para penyerang hanya mampu memasukkan sembilan gol.
Prestasi ini tentu saja berbeda jauh ketika masih ditangani almarhum Junaidi di awal kompetisi ISL pada 2008/09 dan 2009/10. Bang Jun, sapaan akrabnya, menciptakan bintang dengan melahirkan sosok Donny Siregar, Johan Juansyah, Danang Wihatmoko dan Pablo Alejandro Frances. Pablo (Argentina) pada musim perdananya merumput di Indonesia meraih sepatu emas dengan enam gol dalam Copa Indonesia.

Kala itu, Persijap masuk empat besar, yang merupakan prestasi puncak selama berkompetisi di ISL. "Kami mengakui, kesulitan finansial menjadi kendala utama pada awal pembentukan tim. Sebagian besar tim terbentuk didominasi pemain asli Jepara dan beberapa nama pemain lokal yang nilai kontraknya tidak besar," ujar M. Said Basalamah, manajer umum Persijap kepada Goal Indonesia.
Kini, asa mengamankan posisi di papan tengah dibebankan di pundak pelatih anyar Yudi Suryata. Yudi adalah pelatih yang membawa Laskar Kalinyamat promosi ke kompetisi ISL dari Divisi Utama.

Basalamah menambahkan, perombakan tim akan kembali dilakukan. Beberapa nama sudah tercoret di tengah putaran pertama. Sementara Ahmad Taufik dan Noorhadi “Emen” yang sebenarnya menjadi andalan lini tengah dan depan pindah ke klub yang memiliki uang.
Tiga bulan tak mendapatkan gaji, juga menjadi tembok tebal di tengah lapangan. Bak perang, para penggawa Persijap tak memiliki amunisi saat bertempur. Gambaran itu memang nyata yang harus dihadapi pemain Persijap musim ini.

"Manajemen akan berusaha keras demi Persijap agar tak terdegradasi. Kalau kami turun kasta, akan susah naik lagi. Butuh waktu lama kembali ke jalur ISL. Bidikannya akan menambah satu pemain asing di posisi striker. Lihat kondisi keuangan," tambah Basalamah.
Sementara, Yudi Suryata merasa tersanjung setelah tujuh tahun hengkang dari Bumi Kartini, kini bereuni dengan Evaldo, Anam Syahrul, Danang Wihatmoko, Chanif Muhajirin, dan Catur Rintang.
"Target saya Persijap di posisi kesembilan. Aman dari zona degradasi, itu tekad saya ketika melatih tim ini kembali. Tambahan amunisi jelas akan saya ajukan ke manajemen. Tapi, saya masih ingin melihat sepekan ke depan dan berdiskusi dengan manajemen dan kapten tim (Evaldo)," tutur Yudi.
Di lain pihak, kondisi serupa juga dialami juru kunci wilayah timur Persiba. Bahkan, tim ini nyaris ingin dibubarkan oleh Ketua Umum, Idham Samawi. Menyusul, adanya kerusuhan antarsuporter sendiri (Paserbumi dan Curva Nord Famiglia) usai ditumbangkan Persiram Raja Ampat, 1-0 di kandang sendiri.
Pasalnya, dampak dari kerusuhan itu berbuntut panjang. Selain jatuh tiga korban, yang masing-masing adalah warga Bantul itu sendiri, Persiba pada akhirnya memilih hijrah untuk sementara ke markas milik TNI AU dalam dua pertandingan. Itu saat menjamu Putra Samarinda dan Mitra Kukar.
Faktor non teknis benar-benar sangat mempengaruhi penampilan Wahyu Tri Nugroho dan kawan-kawan sepanjang putaran pertama. Terutama soal kejelasan kontrak bagi para pemainnya. Maklum, berdasarkan kabar yang ada, para pemain hanya dibayar per pertandingan. Sehingga, jika tidak bertanding mereka tidak mendapatkan bayaran.
Dari segi teknik, pelatih Persiba Sajuri Syahid mengakui para pemainnya tak memiliki stamina yang cukup untuk bermain selama 90 menit.
Melihat kenyataan itu, jajaran manajemen akhirnya mencoret enam pemain di interval pertama. Keenam pemain tersebut meliputi empat bek, dua gelandang, serta seorang penyerang. Pencoretan itu ternyata juga menghampiri Carlos Eduardo Bizzaro, yang selama ini menjadi bek asing andalan Laskar Sultan Agung. Ada pula Ramadhan Saputra, Didik Ariyanto, Johan Ibo, Solehudin, dan Claude Parfait Ngon A Djam.

Dicoret: Ngon A Djam menjadi salah satu pemain yang dicoret Persiba pada putaran kedua.
Selain itu, Persiba juga mendapati tiga pemainnya yang mengundurkan diri. Mereka adalah Idris Affandi, M. Isnaini, dan M.Yasir, yang langsung direspons oleh manajemen dengan menggelar seleksi tertutup untuk merekrut pemain baru guna bersiap menghadapi putaran kedua.
Pada putaran kedua nanti, Persiba yang dalam kondisi compang-camping dipastikan mendapati jalan terjal untuk bangkit. Pasalnya, untuk membentuk sebuah tim yang padu tidak ada cara instan, kecuali melakukannya setahap demi setahap. Ada pun, mampu bertahan di ISL adalah target yang masih mungkin untuk dicapai. (gk-18)

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.