FOKUS: Ferenc Puskas, Pahlawan Hungaria, Honved & Real Madrid

Bersama Hungaria, Honved dan Real Madrid, Puskas menunjukkan kontribusi besar atas kesuksesan timnya di tengah kondisi politis dan banyak sorotan publik.

OLEH PETER STAUNTON PENYUSUN MOHAMMAD YANUAR

Namanya lebih dikenal sebagai penghargaan FIFA, Puskas Award, yang diberikan setiap tahunnya untuk pencetak gol terbaik. Mungkin Puskas akan mendapat banyak penghargaan tersebut bila award tersebut digagas sebelum eranya.
Pada laga 1953 di Wembley, Puskas membawa Hungaria menang 6-3 dan membuat Billy Wright tertinggal di belakangnya. Begitulah Puskas, kejam dan inovatif.

Perjalanan karir Puskas diwarnai drama yang menarik. Klubnya Kispest diambil alih tentara pada 1949 dan kemudian diganti menjadi Honved.

"Saya harus mengatakan saya bukannya orang yang tak pernah berkomitmen," Puskas dalam tulisannya di otobiografinya, Puskas.

"Saya sama sekali tak tertarik pada politik, di dalam dunia sepakbola saya, isinya cuma bermain dan berlatih, dan memimpin kehidupan keluarga yang bahagia."

Namun terlepas dari kepentingan politis di sekelilingnya, Puskas bersama rekan satu timnya tetap total ketika mendapat panggilan timnas. Di bawah Gusztav Sebes, Puskas sukses mencatat kemenangan beruntun selama empat tahun, termasuk juara Olimpiade 1952 dan kemenangan bersejarah 6-3 atas Inggris di Wembley pada November 1953.

"Untuk memahami apa aerti kemenangan seperti ini, Anda harus memahami apa yang terjadi di Hungaria sejak tahun 1949," kata kiper Gyula Grosics.

"Kami hidup di bawah rezim yang sangat radikal yang menggunakan banyak senjata, termasuk intimidasi, untuk memaksakan visi.

"Sementara otoritas politik mencoba untuk memonopoli dan memanipulasi kesuksesan kami untuk tujuan mereka sendiri, massa dalam jumlah besar orang dibebaskan selama 90 menit untuk sepakbola."

Pada saat Piala Dunia 1954 di Swiss dighelat, Puskas dan Hungaria diharapkan untuk menang, terutama oleh fans mereka yang memiliki pengetahuan terbatas mengenai lawan. Mengalahkan Jerman Barat bukan hal sulit, tapi Puskas mengalami cedera pada engkel dan tak ambil bagian saat menang di perempat-final dan semi-final melawan Brasil dan Uruguay.

Dia kembali line up untuk final melawan Jerman dan membawa timnya memimpin 1-0, namun Hungaria akhirnya kalah dengan skor 3-2.

Tim pun akhirnya kembali dengan kecewa, menghadapi kemarahan publik dan menyalahkan Puskas. Meski sempat kembali ke penampilan terbaik, Hungaria tak lagi mendapatkan dukungan yang sama.

"Tim ini tak pantas mendapatkan apa yang diterima di Hungaria. Tempat itu layaknya pemakaman. Semua sepertinya mencari orang untuk disalahkan. Di jalanan, orang melihat saya seperti saya terkena penyakit," curhat Puskas.

Ketika Revolusi Oktober terjadi pada 1956, Honved bermain di luar negeri untuk Piala Champions menghadapi Bilbao dan dinyatakan tidak aman untuk kembali hingga ada jaminan untuk keamananan pemain dan keluarga mereka.

Karena alasan ini, para pemain menolak pulang dan akhirnya menghabiskan waktu mereka di luar negeri melakukan sejumlah tur, termasuk ke Amerika Selatan, yang berujung pada sanksi dari Federasi Sepakbola Hungaria dan FIFA.

Puskas nyaris bergabung dengan FC Internazionale, tapi terkendala sanksi yang diterimanya. Kemungkinan bergabung dengan Manchester United setelah tragedi Munich 1958 juga gagal.

Adalah Real Madrid yang kemudian menampungnya setelah sekretaris finansial Honved Emil Osterreicher melakukan pertemuan dengan presiden klub Santiago Bernabeu. Puskas mendapat kontrak.

"Saya pun tiba di Madrid, melakukan negosiasi yang aneh dngan Bernabeu," ujar Puskas.

"Pada akhirnya saya mengangkat tangan saya dan mengatakan: 'Dengar, semuanya sangat baik, tapi kamu harus lihat saya, saya setidaknya kegendutan 18 kilo'."

"Itu bukan masalah saya, itu milikmu." Bernabeu menjawab, dan begitulah. Saya pemain Real Madrid, meski sedikit kegendutan."

Hadirnya Puskas sempat membuat fans Real Madrid terkejut. Bukan hanya karena dia kegendutan, tapi juga usianya yang sudah memasuki kategori tidak produktif, 31 tahun.

Namun Puskas menjawab dengan prestasi. Bersama Alferdo di Stefano, Puskas membawa Real Madrid merajai Eropa, memenangi lima Piala Champions secara berturut-turut. Tak hanya itu saja, dia meraih empat penghargaan topskor, lima gelar liga dan satu Piala Interkontinental.

Final Piala Champions 1960 di Hampden Park menjadi momentum terbaik Madrid dengan menghajar Frankfurt 7-3 di mana Puskas mencetak empat gol dan tiga lainnya dilesakkan Di Stefano.

"Saya sangat bangga bisa bermai di performa terbaik saya meski sudah 40 tahun, terutama ketika saya banyak disebut sudah habis satu dekade sebelumnya," ujarnya.

Puskas memiliki dua karier dan keduanya pantas dimasukkan dalam Goal Hall of Fame. Tim Hungaria dari awal hingga pertengahan 1950-an dapat digambarkan sebagai salah satu tim terbaik di level internasional, sementara Real Madrid di bagian akhir dekade karirnya merupakan yang terbaik di kancah klub.

Bersama Hungaria dan Honved, Puskas sudah menunjukkan kematangan mental dan jiwa kepemimpinannya dan di Real Madrid, dia menegaskan determinasi dan kinerja yang luar biasa.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics