FOKUS: Finis Runner-Up Di Fase Grup Liga Champions Bisa Jadi Petaka Buat Arsenal Atau Barcelona

Mengklaim posisi puncak akan berarti penting setelah mengetahui semua pemenang babak grup sukses melewati babak 16 besar pada musim 2013/14.

OLEH JOE WRIGHT PENYUSUN ADHE MAKAYASA
Arsenal dan Barcelona mungkin sudah lolos ke babak sistem gugur Liga Champions namun, untuk mereka dan yang lainnya, matchday keenam kiranya akan menjadi partai terpenting sejauh ini.

Pada 2012/13, enam dari delapan tim yang lolos ke fase perempat-final sukses menjadi pemuncak babak grup. Musim lalu, delapan pemenang babak grup berhasil menumbangkan lawannya di babak 16 besar, di mana tiga duel berakhir dengan keunggulan selisih empat gol dalam hal agregat.

Dengan satu pertandingan tersisa, Barcelona, yang untuk sementara menghuni posisi kedua di Grup F, akan menghadapi Paris Saint-Germain yang memiliki keunggulan satu poin dan berdiri kokoh di puncak. Dalam hal ini, hanya kemenangan di Camp Nou lah yang akan membuat mereka menyalip juara Prancis tersebut di posisi pertama. Hal yang sama juga berlaku untuk Arsenal, yang harus mengalahkan Galatasaray sekaligus berharap Borussia Dortmund gagal menang saat menghadapi Anderlecht.

Di Grup A, Juventus akan menjamu sang pemuncak Atletico Madrid, di mana tim tuan rumah membutuhkan kemenangan dengan selisih dua gol untuk mengungguli finalis musim lalu secara head-to-head. Dan di Grup C, Bayer Leverkusen berpeluang lolos sebagai pemenang jika mampu mendulang tiga angka di markas Benfica untuk kemudian menempatkan mereka di atas Monaco dan Zenit, yang bakal bertemu satu sama lain di Stade Louis II.

Permutasinya mungkin terdengar rumit, terlebih bagi tim-tim yang terlibat, namun tujuannya sederhana: berjuang mati-matian untuk memenangkan babak grup. Hal ini tentu akan membuat perbedaan ketika Februari menjelang.

“Selalu lebih baik untuk finis di urutan pertama,” demikian penuturan Arsene Wenger pada bulan lalu. “Dalam beberapa kasus, Anda kadang merasa bersalah jika tidak bisa finis pertama. Orang-orang pasti berpikir: ‘OK, jika Anda dihukum [dengan undian yang susah] maka Anda pantas mendapatkannya karena Anda finis di posisi kedua.”

Di empat musim sebelum ini, Arsenal selalu lolos dengan predikat runner-up dan bertemu Barcelona, AC Milan dan Bayern Munich dua kali. Mereka selalu kalah di tahapan itu. “Sangat penting [untuk finis pertama] karena, jika Anda finis di posisi pertama, maka Anda bisa bermain melawan tim-tim yang bukan Barcelona atau Real Madrid,” demikian penilaian Santi Cazorla. Tiga tim top Spanyol, dan juara Jerman, Italia serta Prancis merupakan lawan potensial jika gagal menjuarai babak grup.

Kekalahan di matchday terakhir musim lalu dari Napoli menjadi pertanda bahwa petualangan mereka di Eropa akan berakhir lantaran pemenang babak grup Dortmund lantas terundi dengan Zenit, sebuah tim yang lolos ke babak berikutnya meski hanya berhasil meraih satu kemenangan, selagi The Gunners dipertemukan dengan Bayern. “Arsenal tidak punya peluang,” ujar mantan pemain internasional Jerman Paul Breitner kepada Goal.

Mereka memang tidak menang dan dihajar habis-habisan oleh Bavarians pada kenyataannya. Yang membuatnya lebih menyakitkan bagi para pendukung Arsenal adalah bahwa tanda-tanda peringatan yang sebelumnya dibunyikan justru diabaikan.

Setelah memastikan kelolosan secara meyakinkan pada 2012 menjelang matchday keenam, Wenger justru menurunkan tim lemah untuk laga tandang ke Olympiakos, termasuk memainkan Carl Jenkinson, Sebastian Squillaci, Francis Coquelin, Marouane Chamakh dan pertama kalinya memakai jasa Jernade Meade di bek kiri. Kemenangan 2-0 untuk tim tuan rumah membuat Arsenal lolos dengan predikat runner-up, di mana sang pemenang kompetisi di tahun tersebut, Bayern, menunggu mereka di babak 16 besar.

Barca dan PSG kini berada di posisi yang sama-sama sulit. Setelah menang 3-2 di Paris, hanya sebuah kemenangan lah yang akan membuat pasukan Luis Enrique menempati posisi puncak – sesuatu yang belum pernah mereka lewatkan sejak 2006/07. Namun tekad PSG sangat jelas. Pada 2012, mereka mengirim tim kuat untuk menghadapi Porto di partai pamungkas – terlepas keberhasilan mereka lolos ke putaran berikutnya – guna memastikan mereka berhadapan dengan Valencia ketimbang Bayern.

“Selalu lebih baik untuk finis di urutan pertama. Dalam beberapa kasus, Anda kadang merasa bersalah jika tidak bisa finis pertama. Orang-orang pasti berpikir: ‘OK, jika Anda dihukum [dengan undian yang susah] maka Anda pantas mendapatkannya karena Anda finis di posisi kedua.”

- Arsene Wenger

“Kami akan berjuang untuk posisi pertama di Barcelona. Sangat penting untuk finis di posisi puncak karena hal itu memberi Anda posisi yang lebih baik di masa depan,” ujar David Luiz selagi Thiago Silva menggambarkan duel ini sebagai ‘laga yang spesial’.

Memang ada benarnya, mengingat PSG mungkin akan berhadapan dengan juara bertahan Real Madrid, juara Spanyol Atletico, Bayern arahan Pep Guardiola atau Chelsea pimpinan Jose Mourinho seandainya mereka kalah. Barca sendiri lebih santai mengingat mereka tidak akan bertemu tim Spanyol di babak 16 besar, namun prospek bertemu tim hebat Jerman atau Inggris selalu ada. Jika berhasil menang, maka Basel kemungkinan akan menunggu mereka.

Bagi Atleti, klasemen saat ini menyarankan mereka untuk tampil maksimal di hari terakhir, dengan tekad menghindari kekalahan dengan selisih dua gol, dan mereka akan menjuarai grup. Bagaimanapun, Diego Simeone ingin memastikan posisi puncak klasemen untuk kemudian membuat mereka bertemu tim yang penuh masalah, seperti Milan di musim sebelumnya.

Dan selagi fans Juventus yang mungkin berpendapat bahwa mereka harusnya senang karena sudah lolos setelah merasakan dinginnya salju di Istanbul musim lalu, tim arahan Massimiliano Allegri jelas tidak akan senang dengan urutan kedua. “Saya memiliki firasat yang baik untuk Selasa,” ujarnya. “Kami harus menang 2-0 untuk finis pertama di babak grup.”

Terakhir kali mereka melakukan itu, mereka terhindar dari Barcelona dan unggul lima gol atas Celtic di babak 16 besar.

Bahkan Bayer Leverkusen, meskipun saat ini unggul di grup yang begitu ketat, mereka tentu tidak akan menyerahkan posisi teratas untuk Monaco atau Zenit. Setelah finis di urutan kedua di belakang Manchester United musim lalu, mereka dipertemukan PSG di babak 16 besar, dan mendapati kegagalan.

Tentu saja ada pengecualian. Real Madrid mencapai babak semi-final pada 2012/13 meski finis di urutan kedua. Namun pola yang menyatakan bahwa pemenang babak grup memiliki kampanye yang lebih baik di Liga Champions menjadi semakin nyata. Hal ini disebabkan karena perbedaan antara tim elite Eropa dengan mereka yang dianggap biasa sangat kentara.

Pada 2011, rata-rata poin kesenjangan antara urutan pertama dan ketiga setelah enam laga adalah 4,5. Musim lalu, angka ini melonjak menjadi 6,4 mengingat tiga tim sukses melalui putaran ini dengan tidak terkalahkan. Setelah lima laga pada 2014/15, rata-rata perbedaan poin ada di angka 7,4 di mana ada empat tim yang sejauh ini belum pernah kalah. Kesenjangan pun kian berkembang.

Bayern, Porto, Real Madrid dan Chelsea memiliki keuntungan setelah sudah memastikan posisi puncak; untuk yang lainnya, matchday keenam merupakan saat yang menentukan dalam musim Liga Champions. Jika mereka gagal memahami itu, maka akan ada banyak rasa bersalah yang akan muncul pada undian 15 Desember.

//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics