FOKUS: Hitung Peluang Babak Play-Off Promosi Liga Primer Inggris

Derby County, Queens Park Rangers, Wigan Athletic, dan Brighton & Hove Albion memperebutkan satu tiket promosi tersisa ke Liga Primer Inggris.

OLEH ERIC NOVEANTO & FARABI FIRDAUSY

Leicester City telah memastikan diri menggenggam tiket promosi otomatis ke Liga Primer Inggris setelah menjuarai divisi Championship beberapa waktu lalu. Sukses ini kemudian diikuti oleh Burnley. Dua tiket telah dipastikan dan seiring dengan berakhirnya Championship akhir pekan lalu, ada satu tiket promosi tersisa untuk diperebutkan empat tim dalam babak play-off.

Babak play-off promosi Liga Primer Inggris selalu menghadirkan cerita yang dramatis. Musim lalu, Crystal Palace memastikan tempat setelah mengalahkan Watford melalui babak final yang ketat di Wembley. Gol penalti penyerang veteran Kevin Phillips mewujudkan impian fans Palace untuk menyaksikan tim kesayangan mereka berlaga di kancah tertinggi sepakbola Inggris.

Melalui babak ini pula, Swansea City mengukir sejarah sebagai tim Wales pertama yang hadir di Liga Primer Inggris. Musim 2010/11, Swansea mengalahkan Reading di babak final dengan skor 4-2. Scott Sinclair mengemas hat-trick dan The Swans saat itu dilatih oleh Brendan Rodgers.

Jadi, jangan remehkan babak menentukan ini. Derby County, Queens Park Rangers, Wigan Athletic, dan Brighton & Hove Albion siap memperebutkan satu tiket promosi tersisa mulai Kamis (7/5) esok. Siapa tahu salah satu dari mereka akan mengguncang persaingan Liga Primer Inggris musim depan.

Review musim 2013/14:

2013/14 merupakan musim yang membawa para pendukung The Rams bagaikan sedang naik roller coaster. Sempat tak meyakinkan di bawah kepelatihan Nigel Clough (anak dari legenda Derby, Brian Clough), Derby secara mengesankan jadi pesaing serius papan atas Championship setelah Steve McClaren dipercaya menjadi suksesor Clough.

Hasil tiga kali kalah secara beruntun di bulan Oktober membuat Clough harus merelakan kursi kepelatihannya diambil alih oleh McClaren, namun ternyata tangan dingin pelatih yang pernah membawa FC Twente menjuarai Eredivisie Belanda itu ampuh untuk Craig Bryson dan kawan-kawan.

Yang paling gemilang adalah raihan sembilan laga tanpa terkalahkan di Desember dengan catatan delapan kemenangan dan satu kali imbang. Membuat Derby sempat mantap di posisi kedua klasemen.

Namun sayang, klub penghuni stadion Pride Park malah mengawali tahun 2014 dengan buruk, Derby hanya bisa mengamankan dua kemenangan dari lima laga di bulan Januari, sehingga harus merelakan jalur promosi secara otomatis kepada QPR yang saat itu tengah menempel ketat.

Naik turun di Maret, Derby akhirnya memastikan tiket ke Liga Primer Inggris lewat jalur play-off usai menekuk Doncaster 2-0 di stadion Keepmoat, 18 April 2014. Musim regular 2014 pun ditutup Derby dengan bermain imbang melawan Leeds United, setelah sebelumnya meraih lima kemenangan beruntun di bulan April.

Pemain bintang:
Chris Martin jadi pilihan utama lini depan Derby sejak dipermanenkan dari Norwich City 2013 silam. Ia mencetak 20 gol dari total 44 penampilannya musim ini.
Gaya permainan cepat disertai kotrol bola bagus menjadikan Chris striker yang sempurna untuk level Championship. Pemain yang merupakan jebolan terbaik akademi Norwich 2007 ini juga bisa mencetak gol dengan berbagai cara.
Belum lagi Chris juga bisa menjadi kreator serangan dan cermat menjadi penyuplai bola, terbukti dengan delapan assist musim ini, merupakan kedua terbaik untuk Derby setelah Craig Bryson.
"Ia (Chris) memudahkan pemain untuk datang kepadanya karena ia bisa menahan bola, memiliki kesadaran yang tinggi dan sentuhan yang bagus. Kunci utama adalah ia mencetak gol dan juga memberikan umpan. Jika ia tidak bisa melakukan itu, maka ia tidak akan ada dalam tim," puji McClaren usai Chris mencetak hat-trick-nya ke gawang Blackpool, 7 Desember silam.

Pelatih dan filosofi permainan:
Steve McClaren memberikan banyak warna dalam permainan Derby County. The Rams seakan menikmati berbagai ilmu yang McClaren telah ambil selama perjalanannya di dunia kepelatihan. Dari mulai menjadi asisten Sir Alex Ferguson, mencicipi gelar bersama FC Twente, melatih klub Bundesliga seperti Wolfsburg, hingga jadi sasaran kekecewaan publik Inggris ketika Three Lions gagal lolos ke Piala Eropa 2008.
Kesuksesan di Twente mungkin yang paling manis dalam kariernya, ia pun mengakui bahwa Belanda merupakan negeri yang indah untuk seorang pelatih bereksperimen.
"Saya selalu menginginkan hal baru," katanya. "Terutama di Belanda tempat dimana filosofi pelatih 100 persen. Pendidikan sangat bagus di sana - mereka membanggakan diri sendiri bila menjadi pelatih hebat. Ke sana merupakan pembelajaran yang baik dan tentunya membuat saya berkembang sebagai pelatih, pemahaman saya tentang game," jelasnya.
McClaren menanamkan pakem yang sangat mujarab di Derby, sejak dipegang oleh pelatih 53 tahun itu, Derby konsisten bermain dengan satu striker dengan dukungan dua penyerang sayap, tentu bukan hal asing di Eredivisie, namun cukup jarang ditemukan di kasta Championship. Gaya umpan pendek, cepat, dan berusaha menguasai permainan dengan defensive line tinggi jadi khas The Rams besutan McClaren.
Ia pun tahu apa yang diperlukan tim, transfer peminjaman bisa dibilang seluruhnya sukses. Talenta didikan Chelsea Patrick Bamford dan bintang muda West Bromwich Albion, George Thorne, keduanya penuh kontribusi bersama Derby.

Peluang di babak play-off:

Sejak tampil dengan sepakbola atraktif dan memiliki tren positif di musim ini, stadion dari The Rams, Pride Park, jadi lebih ramai dibandingkan musim sebelumnya. Optimisme yang tinggi pun kini dimiliki oleh Will Hughes cs. Dari seluruh semi-finalis play-off, seluruhnya pernah merasakan kalah dari tim racikan MacClaren. Dan lawan terdekat Brighton & Hove Albion, tidak bisa meraih satu pun poin dari Derby. Rasanya bukan tidak mungkin mereka kembali lagi ke Liga Primer Inggris sejak absen selama tujuh musim absen.

Review musim 2013/14:

Memiliki komposisi dan kedalaman skuat yang baik ditambah dengan kehadiran sosok pelatih berpengalaman seperti Harry Redknapp, menjadikan QPR sebagai tim yang diunggulkan untuk meraih tiket promosi ke Liga Primer Inggris secara otomatis.

Hanya saja semuanya tak berjalan mulus bagi The Hoops. Kendati memulai musim 2013/14 dengan awal yang menjanjikan dengan catatan sepuluh laga tak terkalahkan, performa mereka cenderung kurang stabil saat memasuki paruh musim. Terlebih Joey Barton dan kawan-kawan kerap kehilangan angka saat berduel dengan para pesaing di papan atas.

Bahkan selepas Februari, klub asal London tersebut mengalami penurunan performa drastis ketika melewatkan empat laga tanpa kemenangan. Hal tersebut membuat QPR harus terlempar dari zona promosi otomatis.

Kinerja QPR yang naik turun sepanjang putaran kedua sempat membuat khawatir para pendukung. Hal itu cukup beralasan mengingat beberapa kompetitor mereka justru mengalami peningkatan performa. Pekan ke-44 menjadi momen krusial, kemenangan 2-1 atas Watford di Loftus Road sukses mengamankan satu tempat bagi mereka di babak play-off.

Pemain bintang:

Ditebus dengan mahar sebesar £4 juta dari Burnley, Charlie Austin langsung menunjukan kualitasnya di musim perdananya bersama QPR. Ia mengakhiri musim sebagai top skor R's dengan catatan 18 gol dari total 31 penampilan di semua kompetisi.

Berbekal dengan pengalamannya selama dua musim memperkuat Burnley, tak butuh waktu lama bagi Austin untuk beradaptasi, ia sukses menjaringkan gol perdananya di ajang Championsip ke gawang Birmingham City, pada 14 September 2013, satu-satunya gol yang memastikan kemenangan timnya saat itu.

Austin memiliki peranan besar dalam perjananan QPR musim ini, bahkan hal tersebut diakui secara langsung oleh sang penjaga gawang, Rob Green yang menyebut absennya penyerang berusia 24 tahun itu di beberapa pekan akibat cedera membawa dampak negatif, "Charlie [Austin] merupakan rekrutan fantastis, bukan suatu kebetulan saat ia absen kami memiliki beberapa performa buruk."

Pelatih dan filosofi permainan:

Harry Redknapp merupakan sosok pelatih dengan reputasi tinggi di ranah Inggris. Ia terkenal sebagai manajer bertangan dingin yang mampu membawa klub non-unggulan seperti Portsmouth untuk bersaing di level tertinggi.

Kehadirannya di QPR berawal di pertengahan musim 2012/13, menggantikan Mark Hughes yang saat itu gagal mengangkan performa tim di Liga Primer Inggris. Redknapp memberikan sentuhan berbeda bagi The Hoops, gaya permainan khas Britania Raya yang mengandalkan kecepatan serta lebar lapangan ia terapkan.

Namun tak banyak waktu yang dimilikinya untuk menghindarkan The Hoops lolos dari jurang degradasi. Meski begitu racikan mantan penasehat teknik Bournemouth itu terbukti ampuh dalam perjalanan QPR mengarungi Championship musim ini.

Strategi brilian yang ditunjang dengan pengalaman matangnya selama mengarungi ketatnya iklim sepakbola Inggris, membuatnya tak butuh waktu lama untuk menghadirkan asa bagi para penghuni Loftus Road itu untuk segera kembali menapak di strata tertinggi kompetisi.

Peluang di babak play-off:

Memiliki materi pemain yang merata di semua lini, membuat QPR layak menyandang predikat sebagai tim favorit untuk menggenggam satu tiket terakhir menuju Liga Primer Inggris musim depan. Motivasi dan ambisi para pemain untuk menebus kegagalan musim lalu menjadi energi tersendiri yang mampu menambah daya juang mereka untuk menyabet hasil maksimal.

Review musim 2013/14:

Untuk kali pertama sejak promosi ke Liga Primer Inggris musim 2005/06, Wigan Athletic harus kembali mengarungi derasnya persaingan Championship. Cukup ironis memang, The Latics terdegradasi dengan status sebagai juara Piala FA 2012/13!

Wigan memulai musim ini dengan langkah berat, mereka harus ditinggal manajer Roberto Martinez yang memilih hengkang ke Everton. Langkah cepat dilakukan manajemen dengan merekrut Owen Coyle. Sayang kiprah mantan juru latih Bolton Wanderers terbilang singkat.

Coyle dianggap gagal menangani tim setelah hanya mampu mempersembahkan tujuh kemenangan dari total 23 laga domestik maupun Liga Europa hingga awal Desember. Pemecatan pun tak dapat dihindarkan, posisinya diambil alih Uwe Rosler.

Kehadiran sosok manajer asal Jerman tersebut rupanya memberikan dampak positif bagi Wigan. Di bawah arahannya, pasukan asal DW Stadium itu mampu membukukan rekor delapan laga tanpa kekalahan sepanjang Februari hingga Maret. Kinerja apik itu berlanjut di ajang Piala FA musim ini, menjadikan satu-satunya tim kasta kedua yang berhasil melaju hingga babak semi-final.

Performa buruk di awal musim berhasil dibayar tuntas dengan kebangkitan signifikan di paruh kedua, puncaknya saat Wigan memastikan satu tempat di babak play-off usai menundukan perlawanan Birmingham City dengan skor 1-0, 29 April lalu.

Pemain bintang:

James McArthur merupakan sosok tak tergantikan di lini tengah Wigan musim ini. Bergabung sejak musim 2009/10 dari Hamilton Academical, ia perlahan menjelma menjadi roh permainan tim.

Potensi besar gelandang asal Skotlandia itu sudah tampak musim lalu saat bersama James McCarthy, duetnya di lini tengah Wigan musim lalu berhasil mempersembahkan gelar Piala FA. Pemain berusia 26 tahun itu piawai dalam mengatur serangan tim.

Musim ini perannya begitu vital, McArthur menjadi satu-satunya pemain tengah yang selalu mendapat kepercayaan tampil di setiap laga The Latics, bermain konsisten sepanjang musim bersama dengan gelandang pinjaman asal Manchester United, Nick Powell.

Pelatih dan filosofi permainan:

Sosok ambisius melekat pada diri Uwe Rosler, hal itu tampak pada catatan perjalanan kariernya saat memilih untuk hengkang dari klub raksasa Norwegia, Molde demi menangani klub divisi tiga Inggris, Brentford.

"Saya hanya ingin terus melangkah untuk mencapai suatu tempat di mana saya akan meraih kesuksesan. Saya telah menentukan pandangan untuk berkiprah sebagai manajer di Inggris dan saya pastikan tidak akan berhenti demi mewujudkan ambisi tersebut," ujar Rosler saat meninggalkan Norwegia.

Di sanalah pria asal Jerman itu membuktikan kapasitas manajerialnya. Dua musim ia butuhkan untuk membawa Brentford promosi ke ajang Championship. Sebuah pencapaian yang kemudian menjadi pertimbangan manajemen Wigan untuk merekrutnya.

Target pribadinya dan pihak klub berjalan lurus. Motivasi tinggi mampu ia tularkan kepada The Latics untuk mengarungi ketatnya persaingan musim ini, hingga akhirnya satu tempat di babak play-off menjadi buah manis kerja keras mereka selama ini.

Peluang di babak play-off:

Dengan komposisi skuat yang tak jauh berbeda dibanding musim lalu, Wigan kembali memasang target untuk lolos ke Liga Primer Inggris musim depan. Materi pemain yang dimiliki memang tak semewah kontestan play-off lainnya namun faktor pengalaman dalam menghadapi beberapa situasi krusial akan memegang peranan penting bagi mereka.

Review musim 2013/14:
Brighton & Hove Albion akhirnya punya kesempatan terbuka untuk mencicipi Liga Primer Inggris pertama kalinya dalam sejarah mereka. Klub berjuluk The Seagulls baru saja promosi ke kasta Championship pada musim 2010/11. Kala itu Brighton merupakan klub pertama yang dilatih oleh Gus Poyet.

Anehnya Gus harus dipecat pada Juni 2013 saat dia sedang menjadi pundit untuk BBC dalam laga Uruguay kontra Nigeria, setelah sebelumnya menerima sanksi sejak Mei sebagai manajer Brighton.

Namun tongkat estafet kepelatihan yang dilanjutkan oleh Oscar Garcia berbuah manis. Garcia mempersembahkan tim berseragam biru-putih itu tiket play-off dengan finis di posisi enam.

Perjalanan mereka pun tidak begitu mulus. Brighton dengan filosofi menyerang kerap kehilangan poin dan harus berpacu dengan Reading, Blackburn Rovers juga Ipswich untuk bisa finis di posisi keenam.

Drama pun terjadi di pekan terakhir. Brighton bisa saja harus rela untuk kembali bermain di Championship kalau saja Reading menumbangkan Burnley.

Tapi dewi fortuna memihak Matthew Upson dan kawan-kawan, Reading bermain imbang dengan Burnley, dan Brighton menumbangkan Nottingham Forest 2-1 di City Ground.

Terima kasih untuk Stephane Ward dan gol Leonardo Ulloa di menit 90+3, yang membuka tirai menuju Liga Primer Inggris di depan mata pada menit-menit akhir laga tersebut.

Pemain bintang:

Tidak diragukan lagi bahwa Leonardo Ulloa merupakan bintang bagi publik Falmer Stadium musim ini. Terlebih pemain berpaspor Argentina tersebut jadi pahlawan Brighton pada laga pamungkas Championship, melawan Notingham Forrest.

Mantan bomber dari Almeria itu bisa menorehkan 24 gol di liga pada musim perdananya bersama The Albions. Hilangnya sosok Craig Mackail-Smith karena cedera sepanjang musim dapat ia tutupi dengan sempurna.

Bahkan para suporter dari Brighton menyerukan bahwa mereka sudah melupakan Glenn Murray sejak Ulloa datang, lewat sebuah chant khusus untuk Ulloa.

Pelatih dan filosofi permainan:

Oscar Garcia tidak begitu sulit untuk meneruskan sentuhan dari Gus Poyet kepada Brighton. Baik Gus atau Oscar Garcia, sama-sama menerapkan formasi 4-3-3 dengan tumpuan kepada Will Buckley dan Kazenga Lua Lua di kedua sisi sayap.

Garcia memperlakukan Brighton layaknya Barcelona, sebagaimana ia pernah menukangi Barcelona B musim 2010 hingga 2012. Gaya main total menyerang dengan mengandalkan umpan-umpan pendek jadi khas Brighton.

"Obsesi saya adalah untuk menyerang, mempertahankan bola dan menguasai bola sebisa mungkin."

"Jika kita menguasai bola, kita akan mendapatkan banyak peluang untuk mencetak skor dan memenangkan pertandungan. Itulah filosofi saya."

"Jika Anda memainkan sepakbola yang baik maka Anda memiliki peluang lebih untuk menang ketimbang Anda memainkan sepakbola yang buruk."

Penyuntikan DNA Barcelona kepada Brighton pun dipermudah dengan tersedianya lima amunisi asli Negeri Matador yang telah lama jadi penghuni stadion Falmer, yaitu Inigo Calderon, David Lopez, Bruno Saitor, David Rodriguez serta Andrea Orlandi. Plus pemain yang pernah mencicipi sepakbola Spanyol, Leonardo Ulloa.

Memainkan ball possesion, menyerang dari sayap dan meninggalkan crossing untuk memainkan umpan terobosan lebih sering, membuat Brighton jadi tim yang cukup bisa dinikmati permainanya.

Peluang di babak play-off:
Di antara keempat semi-finalis, Brighton mungkin jadi tim yang paling tidak diunggulkan untuk menyikat tiket terakhir promosi ke Liga Primer Inggris. Namun perlu diketahui bahwa Brighton merupakan klub dengan jumlah kemasukan paling sedikit di antara keempat semi-finalis tersebut. Bahkan rekor pertahanan mereka terbaik kedua di bawah Burnley. Meski Derby yang jadi lawan terdekat belum pernah mereka kalahkan musim ini, namun rasanya bukan tidak mungkin armada racikan Oscar Garcia membalaskan dendam di play-off.

Semangat mati-matian yang ditunjukkan Brighton pada laga kontra Nottingham Forrest akan mereka lanjutkan di duel hidup mati selanjutnya melawan Derby. "Mereka (Derby) mengalahkan kami dua kali musim ini. Namun kali ini kami akan siap, kami akan mempelajari mereka dan siap untuk mengalahkan mereka," kata Oscar.

"Kami tahu pemain kami tidak akan menyerah hingga akhir. Kami akan terus berjuang untuk mendapatkan gol yang kami butuhkan hingga menit akhir," cetus Oscar penuh semangat.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics