FOKUS: Italia Juga Harus Salahkan Diri Sendiri

Italia memang tersingkir dari babak fase grup secara kontroversial, tapi performa mereka sepanjang Piala Dunia 2014 juga tak menolong kegagalan besar ini.

OLEH AHMAD REZA HIKMATYAR Ikuti @rezahikmatyar di twitter
Lagi dan lagi, salah satu negara yang dianggap sebagai kiblat sepakbola dunia, Italia, harus angkat koper terlalu dini dari pagelaran Piala Dunia 2014.

Ya, Tim Biru Langit memastikan langkahnya terhenti setelah kalah 1-0 dari Uruguay di laga pamungkas Grup D, kendati hanya butuh hasil imbang! Kegagalan ini sekaligus menempatkan Italia dalam kotak bersama unggulan lainnya, Spanyol dan Inggris, yang sudah dipastikan pulang terlebih dahulu.

Rentetan kejadian kontroversial kembali mewarnai kegagalan La Nazionale di Piala Dunia. Kita tentu masih ingat bagaimana anehnya keputusan Byron Moreno, yang berakibat pada mandeknya langkah Italia di babak 16 besar Piala Dunia 2002, karena kalah dari Korea Selatan.

Kini sorotan terletak pada Marco Rodriguez Moreno, pengadil lapangan asal Meksiko yang memimpin jalannya laga Italia kontra Uruguay. Sejak detik pertama pertandingan, sang wasit sudah melakukan tindakan yang dinilai berlebihan. Rodriguez terlampau mudah memberikan pelanggaran, sehingga permainan kedua tim sulit berkembang.

Bayangkan saja tercatat ada 45 pelanggaran yang terjadi di sepanjang babak pertama, atau artinya ada satu pelanggaran di setiap menitnya! Imbasnya kedua tim nyaris tak memiliki peluang mencetak gol dan 61,4 persen permainan terpusat di lapangan tengah.

Puncaknya terjadi di babak kedua. Rodriguez memulai dengan keputusan mengejutkannya memberi kartu merah pada Claudio Marchisio secara langsung, atas pelanggaran "ringan" sang pemain terhadap Maxi Pereira. Laga jadi berjalan satu arah, karena dengan kurangnya jumlah pemain, Italia otomatis menekan tombol catenaccio.

Saat laga memasuki menit ke-79, sebuah kontak terjadi antara Giorgio Chiellini dan Luis Suarez. Nama pertama terjatuh mengerang kesakitan di bagian pundak. Sementara nama yang disebut terakhir terlihat memegangi gigi kelincinya, seperti habis terbentur sesuatu.

Video dalam gerakan lambat kemudian memperlihatkan momen sensasional, manakala Suarez ternyata menancapkan giginya di pundak Chiellini! Rodrguez bergeming karena tak melihat kejadian, dan anehnya ia juga tak berkonsultasi dengan asistennya.

Pada akhirnya Italia tersingkir karena sesaat setelah momen kontroversial tersebut, Diego Godin membawa Uruguay unggul 1-0 hingga laga berakhir. Kontroversial? Jelas! Tapi, apakah Italia lebih pantas lolos? Tidak!

Tak seperti pada 2002, berdasar performa kali ini Gianluigi Buffon cs bahkan tak mampu mengatrol kualitas mereka atas kegagalan besar di Piala Dunia, layaknya empat tahun lalu.

Wasit berperan, tapi Italia memang gagal tunjukkan kelas

Mari lupakan cuaca panas Brasil yang beriklim tropis. Kondisi itu tak lagi layak dijadikan alasan atas kegagalan tim-tim dari Eropa, termasuk Italia. Karena nyatanya Belanda yang paling gencar menentang kondisi cuaca Negeri Samba, bisa lolos dengan kesempurnaan dari Grup B.

Kesalahan teknis dalam hal pemilihan pemain dan strategi permainan jadi alasan paling tepat kegagalan Italia. Hal itu diakui sendiri oleh pelatih mereka yang sudah mengundurkan diri, Cesare Prandelli.

"Kami gagal membuat satu peluang pun. Hal ini disebabkan lantaran tim memiliki pilihan pemain yang terbatas atau karena struktur skuat yang tidak proposional. Alasan itu murni kesalahan saya. Saya bertanggung jawab penuh atas kegagalan proyek ini," terang Il Mister, beberapa saat sebelum pengunduran dirinya.

Setidaknya terdapat tiga hal teknis yang jadi biang keladi kegagalan Italia. Dan yang pertama adalah efektivitas permainan. Juara dunia empat kali ini jadi salah satu tim dengan rerata penguasaan bola tertinggi di Piala Dunia 2014 dengan 58 persen per laga.

Total passing mereka juga jauh dari filosofi catenaccio, lewat 1.057 operan per laga. Akurasinya sangat tinggi karena menyentuh angka 89 persen! Tak diragukan lagi jika Andrea Pirlo adalah pusat permainannya. Il Metronom melepaskan 269 operan dengan akurasi 92,9 persen.

Melihat statistik tersebut logikanya peluang serta gol bisa lebih banyak dihasilkan. Nyatanya tidak, dari sekian banyak dan akuratnya operan yang mereka lakukan dalam tiga laga fase grup, hanya ada sembilan peluang bersih yang mereka hasilkan! Dan hanya dua diantaranya yang menjadi gol, ironis bukan?

Buruknya penentuan skema dalam setiap laga yang dilakoni jadi dosa selanjutnya. Sejak babak uji coba - terutama saat kehilangan Riccardo Montolivo - Prandelli terus mematangkan skema 4-1-3-1-1.

Dalam formasi ini Pirlo jadi pemain jangkar di tengah, namun begitu Daniele De Rossi dan Marco Verratti yang ada di depannya bakal berotasi menempati pos Il Metronom. Skema itu ternyata cocok bagi Italia yang kemudian menundukan Inggris 2-1.

Statistiknya spesial, karena mereka sukses melepaskan 642 operan yang mana 274 diantaranya jadi milik Pirlo, De Rossi, dan Verratti. Kans yang dihasilkan juga lebih banyak, lewat enam peluang bersih. Namun anehnya skema itu tak dipertahankan dalam laga kontra Kosta Rika bahkan Uruguay.

Dalam dua partai tersebut Prandelli menggunakan formasi 3-4-1-1 dan 3-5-2. Taktik tersebut bakal sedikit mengurangi kinerja hebat gelandang tengah karena lebih memaksimalkan peran wing-back atau winger. Adaptasi yang berjalan baik dalam skema 4-1-3-1-1 jadi rancu karenanya.

Meski beberapa kali menggunakan formasi tersebut dalam laga kualifikasi dan uji coba, para penggawa Italia harus melakukan adaptasi ulang, karena pola permainan sudah berganti. Segalanya diperparah dengan performa tak optimal para pengisi pos sisi lapangan, yakni Antonio Candreva, Matteo Darmian, Ignazio Abate hingga Mattia De Sciglio. Dalam dua laga terakhir, kombinasi dari mereka hanya mampu melahirkan delapan umpan lambung ke kotak penalti lawan!

Sirkulasi bola lebih terpusat di tengah karena Pirlo. Sang jendral lapangan lebih memilih untuk melakukan operan pendek menyusur tanah ketimbang long ball pass. Ia sadar kualitas rekan-rekannya di sisi lapangan belum siap, sehingga hanya menghasilkan kesia-siaan.

Jadilah permainan hanya terpusat di tengah dan daerah sendiri. Pasokan bola ke depan jadi berkurang, sehingga peluang yang diciptakan pun minim. Italia lantas menelan kekalahan dan gagal mencetak gol dalam sepasang partai tersebut.

Vs. Kosta Rika

Vs. Uruguay

Dosa terakhir Italia dalam kegagalan besar ini adalah pemilihan dan rotasi pemain ala Prandelli. Tak ada yang salah dalam pemilihan Gigi Buffon, Salvatore Sirigu, dan Mattia Perin di pos penjaga gawang. Namun keganjilan bisa kita temukan menilik komposisi lini belakang, tengah, hingga depan.

Di pos pertahanan, pemanggilan mengejutkan Darmian dan Gabriel Paletta bukan kesalahan. Mereka selalu impresif setiap kali dipercaya turun. Tapi tidak sama halnya dengan duo Milan, yakni Abate dan De Sciglio. Keduanya tidak dalam musim yang bagus bersama Il Diavolo, dan penurunan performa itu menular di Piala Dunia.

Khusus Abate ia bisa dijadikan back-up, menilik kontribusi dan konsistensinya selama babak kualifikasi. Tapi melihat kebiasaan Prandelli memasang tiga bek tengah dengan menumpuk pemain di lini tengah, kesalahan ada pada pemanggilan De Sciglio. Alangkah lebih tepat jika ia menggantinya dengan Christian Maggio atau Manuel Pasqual.

Di Serie A Italia, kedua pemain itu adalah adalah yang terbaik mengisi sisi lapangan di lini tengah dengan formasi tiga bek. Sepanjang musim lalu mereka impresif berada di pos kanan dan kiri karena klub mereka, Fiorentina dan Napoli, menggunakan sistem tersebut.

Maju ke lini tengah, aneh melihat Prando menyertakan Alberto Aquilani yang nyatanya tidak terpakai, alih-alih menambal lubang yang ditinggalkan Montolivo. Disertakannya Emanuele Giaccherini akan lebih berguna selayaknya peran Maggio atau Pasqual. Mantan pelatih Fiorentina itu bisa mengakomodasi satu tempat dengan mencoret Aquilani atau di antara Alessio Cerci dan Antonio Cassano.

Terakhir di lini depan, pemilihan Mario Balotelli dan Ciro Immobile tak bisa lagi dielakkan. Akui saja, kualitas dan potensi Super Mario masih yang terbaik di Italia. Sementara pemanggilan Immobile adalah apresiasi terdahap gelar top skor Serie A musim 2013/14, meski kenyataannya ia tak pernah disertakan dalam babak kualifikasi.

Pencoretan Giuseppe Rossi bisa disebut kesalahan. Keberadaannya bakal jadi solusi sempurna manakala Balotelli menunjukkan sisi buruknya. Torehan 16 gol dari 21 partai di Serie A musim lalu jelas jadi catatan mengesankan. Ia memang tak siap secara fisik karena baru sembuh dari cedera panjang, tapi secara mental Pepito selalu siap. Menilik sejarahnya, mantan striker Manchester United itu tak pernah kehilangan sentuhan meski dihantam bertubi oleh masalah cedera.

Tak disertakannya salah satu di antara Antonio Cassano, Cerci, atau bahkan Lorenzo Insigne untuk menempatkan Rossi tak akan menimbulkan dampak buruk. Toh, Prandelli tak pernah menggunakan winger ofensif sedari awal laga di Piala Dunia 2014.

Pemanggilan Giuseppe Rossi bisa jadi alternatif atas performa buruk Mario Balotelli

Bagaimanapun Italia sudah mengalami kegagalan besar. Tanggung jawab telah diambil Cesare Prandelli dan Giancarlo Abete dengan mundur dari jabatannya.

Transisi regenerasi sudah dilakukan oleh Prandelli dan mundurnya Pirlo. Evaluasi besar jelas harus dilakukan FIGC, terutama dalam usaha untuk meningkatkan kualitas Serie A supaya berkorelasi positif dengan prestasi timnas.

Status sebagai runner-up Euro dan juara tiga Piala Konferderasi dalam dua tahun terakhir jelas jadi potensi nyata. Kini tinggal bagaimana Italia bisa bangkit dari jurang keterpurukan. Ya, sekarang sebagai pecinta sepakbola Negeri Pizza kita hanya bisa berharap dan tak henti memberi dukungan.

Salire Gli Azzurri!

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics