FOKUS: Ketika Harga Tiket Liga Primer Inggris Terus Meroket

Klub-klub Liga Primer mematok harga yang terlampau tinggi kepada para penonton untuk menyaksikan pertandingan secara langsung di stadion.

OLEH ADHE MAKAYASA Ikuti di twitter
Bersiaplah merogoh kocek dalam-dalam jika Anda ingin menyaksikan pertarungan Liga Primer Inggris secara langsung di dalam stadion. Pasalnya, sejumlah klub kini mulai mematok harga yang tidak lagi rasional seiring industri sepakbola yang kian fenomenal.

Seperti diketahui, Inggris merupakan kiblat sepakbola dunia dengan banyak bintang bergaji mahal yang turut meramaikan kompetisi. Tak mengherankan jika banyak klub di negara tersebut lantas mencari cara untuk memaksimalkan pendapatan, salah satunya adalah dengan menaikkan harga tiket.

Meski sejumlah klub tidak menerapkan kebijakan untuk menaikkan harga pertunjukan di tiap musimnya, namun tetap saja ada yang berusaha untuk memenuhi tuntutan industri dan kompetisi dengan memaksa para penonton untuk ‘rela’ mengosongkan dompet mereka.

Sepakbola Inggris kini menjadi sebuah komoditi.
Di musim 2014/15, Tottenham Hotspur menjadi klub dengan rataan tiket per laga termahal selagi tim promosi seperti QPR yang meraih predikat sebagai klub dengan rasio kenaikan harga tiket tertinggi ketimbang musim lalu. Untuk urusan satu ini, pemegang tiket terusan di White Hart Lane harus membayarkan uang mencapai £90,24 per pertandingan demi menyaksikan aksi pasukan Mauricio Pochettino di musim baru.

Sementara itu, masih di wilayah London utara, para pendukung loyal Arsenal juga dipaksa mengeluarkan uang yang tak sedikit jika ingin menonton di Emirates Stadium mengingat pihak klub memberlakukan tiket masuk sebesar £77,42 per laga, di mana tiket terusan termahal menyentuh angka £2.013.

Klub London lainnya, Chelsea, mematok harga £1.250 untuk tiket musiman, yang mana membuat setiap pertandingan yang digelar di Stamford Bridge akan berharga £65,79 (sekitar Rp1,3 juta).

Selagi suporter klub-klub top London yang dihadapkan dengan mahalnya tiket masuk stadion, fans dari Liverpool, Manchester City dan Manchester United hanya dipatok seharga kurang lebih atau sama dengan £50 per duelnya.

Di tempat lain, pemegang tiket terusan di The Hawthorns, markas West Brom, boleh sedikit bernafas lega lantaran pihak klub cuma meminta £24,16 per pertandingan agar para pendukung setia mampu menyakiskan seluruh 19 laga kandang Liga Primer.

Grafis mengenai tiket pertandingan klub-klub Liga Primer Inggris musim 2014/15.
Hampir 50 persen dari klub-klub Liga Primer memilih untuk menaikkan tiket pertunjukan meski pihak liga baru saja menerima uang mencapai £5,5 miliar untuk tiga tahun ke depan terkait kesepakatan hak siar televisi, yang jelas akan dibagi-bagi.

Mengenai ‘ketidakadilan’ ini, Federasi Kelompok Suporter (FSF) berencana melakukan protes untuk menentang kenaikan harga tiket, dan pimpinan mereka yang bernama Malcolm Clarke berkata: “Sembilan dari sepuluh fans berpikir bahwa mereka sudah membayar terlalu banyak untuk tiket dan angka-angka itu mendukung sudut pandang tersebut.

“Sejumlah klub berenang dalam uang tunai, dan kesepakatan media terakhir bernilai sekitar £5 miliar. Kenaikan kesepakatan yang besar itu sejatinya sudah cukup bagi klub untuk membiarkan setiap fan menonton secara gratis dan tidak perlu membebani mereka lagi.

“Klub-klub di kasta teratas perlu memikirkan jangka panjang dan menurunkan harga. Tidak peduli dengan strategi PR yang diusung para klub, tak ada yang lebih menggembirakan selain menurunkan harga.

“FSF akan melakukan demo di kantor Liga Primer dan Football League pada 14 Agustus. Kami meminta semua suporter untuk bergabung dengan kami.”

Beda halnya dengan Inggris, klub sepakbola di Jerman justru memakai pendapatan komersial mereka dan tribun berdiri – yang dilarang di Inggris – sebagai bentuk subsidi bagi kaum muda.

Penggila bola di Jerman dapat menonton aksi juara Bundesliga Bayern Munich di kisaran £104 untuk sepanjang musim, angka tersebut jelas jauh lebih murah ketimbang dua pertandingan kandang Arsenal. Lebih jauh, otoritas sepakbola Jerman melihat dukungan dari suporter muda dan kelas buruh sebagai hal yang penting.

Dalam kritiknya terkait kebijakan harga tiket di Inggris bulan lalu, mantan presiden Bayern Uli Hoeness menyatakan: “Kami tidak berpikir bahwa penggemar bola adalah sapi yang bisa Anda perah. Sepakbola harusnya jadi milik semua orang. Itulah perbedaan terbesar antara kita dan Inggris.”

Uli Hoeness menentang kebijakan klub di Inggris yang dirasa membebani suporter.
Harga tiket di liga lain rupanya jauh lebih terjangkau. Tahun lalu, juara Italia Juventus mengenakan biaya £291 untuk tiket terusan termurah selagi raksasa Spanyol Barcelona dan Real Madrid yang mematok harga £172 dan £177.

Jika Inggris tidak segera mengatasi masalah sensitif ini, dikhawatirkan stadion sepakbola mereka akan ‘sunyi’ seiring harga tiket yang terus meningkat. Dan benar apa yang dikatakan Hoeness, ‘sepakbola harusnya menjadi milik semua orang’, tak terkecuali untuk warga Inggris yang menganggap olahraga tersebut sebagai permainan rakyat.

Untuk itu, sepakbola jangan terlalu dikomersialisasi agar ia tidak kehilangan makna yang sesungguhnya. Dan semestinya, Inggris harus segera berbenah jika mereka tidak ingin kehilangan generasi pecinta bola.

//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics