FOKUS: Konsistensi Wahid Sang Spesialis Turnamen

Jerman menjadi negara pertama yang menembus tiga digit laga di Piala Dunia, dan mereka menandai momen tersebut dengan hasil komprehensif.

OLEH DEDE SUGITA Ikuti di twitter
Jerman bukanlah negara tersukses di Piala Dunia. Koleksi trofi mereka masih kalah dibandingkan Brasil dan Italia, dan Jerman juga sudah lama tidak mencicipi nikmatnya menjadi yang terbaik.

Sementara Die Mannschaft terakhir meraja 24 tahun silam, prestasi Selecao dan Gli Azzurri terasa lebih fresh. Skuat Samba merebut trofi kelima alias penta campeon pada gelaran 2002, dan La Nazionale mengangkat piala keempat pada 2006, ironisnya, saat Jerman menjadi tuan rumah turnamen.

Meskipun demikian, terdapat fakta menarik lantaran Der Panzer adalah negara dengan jumlah pertandingan terbanyak di ajang termasyhur di seantero jagat raya ini. Kenyataannya, konsistensi Jerman untuk melaju jauh di turnamen Piala Dunia memang yang nomor satu, melebihi Brasil dan Italia sekalipun.

Bahkan, mereka menjadi kontestan pertama yang menembus tiga digit laga di Piala Dunia. Ya, Jerman resmi mencapai milestone 100 penampilan tatkala memainkan partai pembuka Grup G di Salvador, Senin (16/6) kemarin.

Momen makin spesial setelah ditandai dengan kemenangan komprehensif atas Portugal empat gol tanpa balas! Padahal dalam build up jelang pertandingan Seleccao das Quinas digadang-gadang bakal merepotkan Die Nationalelf dengan alasan Cristiano Ronaldo tengah berada di puncak penampilan.

Agaknya banyak yang mengabaikan bahwa, ketimbang Portugal yang terlalu bergantung pada satu individu, Jerman memiliki kekuatan merata di segala lini. Bahkan lini depan yang hanya diisi satu striker murni pun tidak lantas menjadi titik lemah.

Si penyerang tunggal tersebut, bintang veteran Miroslav Klose yang merupakan pencetak gol terbanyak kedua dalam sejarah Piala Dunia, bahkan ditinggal di bangku cadangan, sehingga Jerman praktis tampil tanpa striker. Bukan persoalan karena sang “penyerang palsu” Thomas Muller membuktikan prestasinya merebut Sepatu Emas di Afrika Selatan empat tahun silam bukanlah kebetulan.

Selain soal materi pemain, Jerman, dengan milestone 100 laga, jelas unggul jauh soal pengalaman dan tradisi dari sang lawan. Brasil 2014 adalah partisipasi ke-17 Jerman dari 19 penyelenggaraan Piala Dunia, sedangkan bagi Portugal ini baru keikutsertaan mereka yang keenam.

Patut dicamkan bahwa dua absensi Jerman terjadi bukan karena mereka tidak sanggup bersaing menembus putaran final. Di edisi perdana pada 1930, kesulitan ekonomi di masa Great Depression membuat federasi sepakbola Jerman tak bisa memberangkatkan tim nasional ke Uruguay.Sedangkan PD kedua tanpa Die Mannschaft adalah pada 1950, saat Jerman masih dilarang berkiprah di pentas internasional menyusul Perang Dunia II.

Terlepas dari dua turnamen itu, Jerman memiliki rekor istimewa dalam partisipasi mereka di Piala Dunia. Cuma sekali saja Die Nationalmannschaft gagal melaju ke putaran delapan besar turnamen, tepatnya pada perhelatan 1938 di Prancis, ketika langkah mereka terhenti di babak pertama. Malah mentoknya kiprah Jerman di delapan besar juga hanya terlihat di empat kejuaraan.

Sisanya, Jerman tujuh kali mencapai babak pamungkas dan keluar sebagai yang terbaik di tiga kesempatan, tiga kali merebut medali perunggu, serta sekali menuntaskan kompetisi di posisi keempat.

Dengan torehan seperti itu, sangatlah pantas apabila julukan spesialis turnamen melekat di tubuh skuat Jerman. Meski gaya atraktif mereka sekarang berbeda drastis dibandingkan generasi terdahulu yang dikenal dengan permainan text-book dan monoton, satu hal tidak pernah berubah. Jerman adalah Jerman, dan mereka selalu layak dijagokan melaju hingga fase-fase akhir Piala Dunia.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics