FOKUS: Lima Hal Yang Pantas Ditunggu Di Liga Champions 2014/15

Di samping sepak-terjang El Real berusaha mempertahankan trofi, setidaknya ada lima daya tarik lain yang layak dinanti dari gelaran Liga Champions musim mendatang.

ANALISIS CARLO GARGANESE PENYUSUN DEDE SUGITA
Liga Champions edisi 2013/14 telah rampung akhir pekan lalu dengan Real Madrid akhirnya memenuhi impian La Decima usai mengempaskan Atletico Madrid 4-1 via extra time dalam final historis -- pertama kalinya mempertemukan dua tim sekota -- di Estadio da Luz, Lisbon.

Menyusul pencapaian ini, berbekal amunisi kelas wahid berisikan pemain-pemain dengan skill dan kekuatan fisik prima, plus pelatih spesialis Liga Champions, Carlo Ancelotti, pantas disimak upaya Los Blancos untuk membangun hegemoni sekaligus semakin mengokohkan status sebagai tim paling dominan di ajang nomor satu antarklub Eropa ini.

Namun sepak-terjang sang kampiun bertahan tentu bukan daya tarik tunggal kompetisi. Terlepas dari kiprah Madrid, di bawah ini Goal merangkum lima hal yang patut dinantikan pada Liga Champions musim mendatang!

Bicara statistik, Lionel Messi kembali menjalani musim hebat. Torehan 41 gol dari 46 penampilan di semua ajang adalah impian bagi kebanyakan striker.

Dalam perburuan trofi Sepatu Emas Eropa, cuma Luis Suarez milik Liverpool serta sang megabintang Real Madrid, Cristiano Ronaldo, yang punya koleksi gol liga melebihi Messi pada 2013/14, dan kapten timnas Argentina itu hampir pasti bakal masuk papan skor lebih sering kalau tak terganggu cedera yang membuatnya absen selama total tiga bulan.

Namun, dalam sepakbola, statistik hanya mengisahkan sebagian cerita dan tak bisa dimungkiri bahwa level performa Messi terbilang anjlok. Meski ia membukukan hat-trick (dua gol di antaranya dari penalti) dalam kemenangan 4-3 atas Madrid dalam El Clasico di Santiago Bernabeu pada Maret, Messi gagal menunjukkan maginya di terlalu banyak laga -- mayoritasnya bigmatch.

Dalam enam pertemuan melawan Atletico Madrid musim ini, pemain yang akan berulang tahun ke-27 bulan depan ini tak sekali pun mengoyak jala lawan.

Saat Barcelona amat membutuhkannya -- di pekan pamungkas liga nan menentukan di Camp Nou, di final Copa del Rey dan perempat-final Liga Champions -- Messi seolah menghilang.

Tak ada akselerasi khas yang biasa membuat Messi tak tersentuh setiap kali dia merangsek menuju gawang lawan. Tak tampak pula hasrat dan fokusnya untuk menjadi yang terbaik. "Dia telah kehilangan gairah untuk sepakbola", kata Angel Cappa, eks asisten pelatih Barca asal Argentina, awal tahun ini; sebuah opini yang didukung oleh fakta bahwa Messi hanya mencatat jarak tempuh 6,8 km ketika The Catalans takluk di Vicente Calderon dan tereliminasi dari Liga Champions pada April.

Piala Dunia di Brasil bulan depan mungkin akan menjadi ajang pembuktian untuk Messi -- tapi yang jelas performa di Liga Champions musim mendatang bakal memberikan jawaban pasti apakah kita telah melihat sisi terbaik seorang Lionel Messi..

Seperti halnya Messi, fakta bahwa Pep Guardiola menerima kritikan deras musim ini boleh jadi mencengangkan untuk banyak pihak. Pria Catalan ini memimpin Bayern Munich mencaplok trofi ganda di ajang domestik, termasuk menyabet titel Bundesliga dengan rekor tercepat, dan total memenangi empat trofi pada 2013/14. Tidak buruk untuk musim debutnya di Allianz Arena, 'kan?

Salah.

Dengan rendahnya tingkat persaingan di Bundesliga (salah satunya diakibatkan badai cedera yang menimpa Borussia Dortmund sebagia kompetitor utama), dan kekuatan amunisi serta sumber daya yang diwarisinya dari Jupp Heynckes -- termasuk salah satu skuat terbaik di Eropa -- rapor Guardiola akan selalu dinilai dari kinerjanya di Liga Champions.

Kekalahan memalukan di semi-final dengan skor agregat 5-0 di tangan Real Madrid menelanjangi segala kesalahan yang dibuat Guardiola sejak mengambil alih tongkat kemudi The Bavarians. Alih-alih beradaptasi dengan pemain-pemain yang pas untuk permainan berintensitas tinggi, seperti yang dijanjikannya saat pertama kali diperkenalkan, Pep bersikeras mencoba menanamkan filosofi tiki-taka khasnya ke dalam grup yang tidak menguasai atribut untuk melakukannya.

"Anda tak bisa membuat mereka bermain ala Catalan di sini. Ada terlalu banyak perubahan. Kapal mulai keluar jalur," demikian komplain legenda Bayern, Lothar Matthaus.

Ketika sistem yang terobsesi pada penguasaan bola ini dapat disterilkan lawan, terlihat jelas bahwa Bayern kesulitan mengatasi perlawanan tim Manchester United yang tengah dalam krisis di perempat-final, tapi Guardiola tetap menolak beradaptasi. Dia juga tak belajar dari kesalahan ketika hanya beberapa hari sebelum dibantai Madrid 4-0 di kandang, garis pertahanannya yang sangat tinggi dua kali diekspos oleh tim semenjana Werder Bremen di Bundesliga.

Dalam 13 duel kontra lawan yang dikategorikan klub besar, Bayern pimpinan Pep hanya mengemas empat kemenangan dalam waktu normal. Angka ini mesti diperbaiki musim depan bila Guardiola hendak membungkam kritik yang menyatakan ia telah merusak sebuah winning machine. Hanya kejayaan di Liga Champions yang memadai untuk itu.

Musim 2013/14 adalah jukstaposisi momen terbaik sekaligus paling mengecewakan bagi Juventus. Di tingkat domestik, Si Nyonya Tua mencetak sejarah. Bianconeri menjadi tim Italia pertama yang mampu menembus 100 angka, dengan koleksi nilai total 102 menjadi rekor anyar di sebuah liga mayor Eropa. Mereka juga menjadi satu dari hanya lima tim -- setelah Juventus era 1930-an, Torino 1950-an, Milan era Fabio Capello, dan Inter pasca-Calciopoli -- yang memenangi tiga Scudetti berurutan.

Namun, kisah Juve amat kontras di ajang Eropa. Ketidakberdayaan untuk lolos dari grup Liga Champions yang berisikan Galatasaray dan Copenhagen (selain Real Madrid) adalah kegagalan masif, dan situasi tak membaik setelah harapan untuk menebusnya dengan mengangkat trofi Liga Europa di kandang sendiri kandas menyusul eliminasi di tangan Benfica di semi-final.

Musim depan, keadaan seharusnya meningkat bagi Juve yang berencana melakukan revolusi sistem permainan. Formasi 3-5-2, yang terbukti sukses besar di Italia tapi kurang cocok untuk kompetisi Eropa, bakal diganti dengan model 4-3-3.

Dengan perekrutan musim panas yang tepat, modifikasi ini akan mendongkrak kans Juve untuk melangkah ke fase-fase akhir Liga Champions. Setidaknya dalam dua tahun terakhir ini Juve mempunyai barisan pertahanan sangat kokoh dan salah satu trio gelandang sentral terbaik di Eropa dalam diri Andrea Pirlo, Arturo Vidal, dan Paul Pogba. Namun keunggulan-keunggulan ini pudar akibat formasi.

Kalau mereka sukses mempertahankan Progba dari sederet tim peminat, dan berhasil mengakusisi setidaknya satu winger top -- Alexis Sanchez milik Barcelona dan Juan Cuadrado kepunyaan Fiorentina diyakini menjadi prioritas klub -- maka kita kemungkinan besar akan melihat progres dari Juventus 2.0. Namun, masih ada tanda tanya seputar kemampuan taktis pelatih Antonio Conte, yang mesti belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu di level Eropa, khususnya menyangkut substitusi dan rotasi skuat.

Liga Champions 2014/05 akan diwarnai oleh kembalinya sejumlah nama beken ke pentas terelite Eropa ini -- yang paling utama adalah jawara lima kali Liverpool serta mantan finalis turnamen, yaitu Monaco dan Roma. Musim panas ini dapat menentukan sejauh mana perjalanan ketiga tim nantinya.

Liverpool berpacu di jalur juara Liga Primer Inggris musim ini dan menggenggam peluang besar untuk merebut titel pertama sejak 1990 hingga terpelesetnya Steven Gerrard kontra Chelsea. Gaya sepakbola menyerang nan mengalir usungan Brendan Rodgers berpotensi membawa The Reds melibas lawan-lawan di Benua Biru.

Tapi kerentanan di sisi defensif -- terutama untuk posisi jangkar di mana duet Gerrard-Jordan Henderson dipuja-puji berlebihan oleh pers lokal -- mesti diatasi setelah Liverpool kecolongan 50 gol liga meski finis kedua di klasemen.

Bermain dua kali seminggu juga akan memunculkan faktor keletihan dan mengancam pressing game mereka -- untuk mempertahankan gaya ini The Reds wajib memperkuat skuat. Roster terkini terlalu kecil untuk berjuang di dua kompetisi utama, apalagi kalau mereka ingin menjaga intensitas tinggi pada 2013/14 ketika terbantu absensi di Eropa.

Sementara itu, kembalinya Monaco ke Liga Champions, sedekade setelah takluk di final dari FC Porto, juga akan menarik untuk disimak. Aturan Financial Fair Play agaknya tak akan menghalangi pemilik klub Dmitry Rybolovlev kembali menggelontorkan dana besar, menyusul sederet pembelian mahal musim panas lalu seperti Radamel Falcao, James Rodriguez, dan Joao Moutinho.

Mungkin akan terlalu dini bagi Monaco untuk mengharapkan impak instan, tapi dengan Victor Valdes nyaris pasti digaet dari Barcelona, tawaran transfer untuk bintang Roma, Gervinho, siap dilayangkan, dan kedatangan pemain-pemain berprofil tinggi lainnya tak terelakkan, tampaknya tak ada tim yang berharap bakal segrup dengan Monaco.

Runner-up Serie A, Roma, juga akan mengundang atensi setelah mengumpulkan 85 poin liga, angka yang biasanya memadai untuk menghadirkan titel. Bila Giallorossi dapat menjaga keutuhan skuat, mendatangkan seorang penyerang baru dan meningkatkan kedalaman amunisi di pertahanan, mereka memiliki kapasitas untuk menjadi salah satu kejutan di Liga Champions.

Lini belakang Roma memiliki salah satu stopper terkomplet dalam diri Mehdi Benatia, lini tengah mempunyai kualitas dan kuantitas dengan keberadaan Daniele De Rossi, Miralem Pjanic, dan Mehdi Benatia, plus Kevin Strootman yang saat ini sedang cedera, dan mereka juga memiliki cukup banyak talenta ofensif. Yang menjadi keprihatinan untuk pelatih Rudi Garcia tak pelak adalah godaan klub-klub asing berkocek tebal pada sederet bintang utama tim.

Setiap era di sepakbola ditentukan oleh talenta ofensif terbaik. Di awal 1980-an ada nama Zico, Karl-Heinz Rummenigge, dan Michel Platini. Di paruh kedua dekade tersebut, seluruh dunia terpukau oleh Diego Maradona, Ruud Gullitt, dan Marco van Basten. Di awal 1990-an, Roberto Baggio dan Romario menjadi superstar terbesar, sebelum digantikan pertama-tama oleh Zinedine Zidane dan Ronaldo, kemudian Ronaldinho serta Kaka.

Sejak 2008, sepakbola seakan disimbolkan hanya oleh dua orang: Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Enam trofi Ballon d'Or terakhir direbut dua pemain ini dan 2013/14 menjadi musim ketujuh berturut-turut salah satu di antara mereka menyudahi Liga Champions sebagai topskor.

Level puncak sepakbola dunia sebelumnya tak pernah dikuasai oleh dua pemain dalam waktu sangat lama. Fakta ini seolah menjadi bukti nyata dua sisi bertolak-belakang, yaitu rendahnya kualitas sepakbola era terkini yang kekurangan kedalaman, persaingan, dan khususnya bek-bek berkelas top, sekaligus juga penegasan kebrilianan duo mengagumkan ini. Namun yang tak bisa dibantah adalah telah tiba waktunya bagi para suksesor Messi dan Ronaldo sebagai penentu era sepakbola untuk muncul ke permukaan.

Penurunan Messi telah banyak dibahas, sementara Ronaldo akan menginjak usia 30 tahun sebelum putaran knock-out Liga Champions musim depan bergulir - mesin Portugal ini cepat atau lambat akan mengendur.

Kini Liga Champions menjadi ajang tempat lahirnya para pemain terhebat, dan edisi 2014/15 membutuhkan kelahiran bintang-bintang baru.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics