FOKUS: Lima Pelajaran Dari Kemenangan Perdana Manchester United

Selain pemain debutan yang tampil impresif, hal apa saja yang bisa disorot dalam kemenangan perdana Setan Merah di EPL musim ini?

OLEH SANDY MARIATNA Ikuti di twitter

Akhirnya menang! Setelah tiga partai perdana tanpa kemenangan dan bahkan sempat diselingi dengan kekalahan memalukan dari MK Dons di Piala Liga, Manchester United sukses memetik tiga poin perdana mereka di Liga Primer Inggris ketika mereka sukses menghantam Queens Park Rangers dengan skor 4-0, Minggu (14/9).

Kemenangan itu tidak hanya saja memuaskan publik Old Trafford, namun juga membuat Louis van Gaal lega setelah sukses mencatatkan kemenangan kompetitif perdana bersama United. Tanpa ragu-ragu, seusai laga, manajer asal Belanda itu berujar, "Saya berharap menjadi manajer dari tim juara Liga Primer. Jika tidak tahun ini, atau tahun depan. Saya ingin memberikan gelar pada para fans."

Sebegitu positifkah kemenangan perdana United ini? Semua proses gol-gol dari Angel Di Maria, Ander Herrera, Wayne Rooney, dan Juan Mata di laga tersebut kiranya sudah menggambarkan mengapa publik Manchester Merah kini boleh kembali optimistis. Goal Indonesia mencatat setidaknya ada lima pelajaran penting yang bisa dipetik dari kemenangan ini. Simak!

“It was a return to the good old days,” demikian kesimpulan singkat yang diberikan oleh komentator, menggambarkan betapa permainan United di laga tersebut telah mengembalikan roh permainan tim di masa jayanya dulu bersama Sir Alex Ferguson.

Dan hal tersebut begitu tercermin di interval pertama ketika tendangan bebas Angel Di Maria (menit 24), sepakan luar kotak Ander Herrera (36’), dan penyelesaian akhir berkelas Wayne Rooney (44’) semuanya sukses merobek jala Robert Green.

Tiga gol di 45 menit pertama di Old Trafford itu ternyata terakhir kali mereka ciptakan pada April 2013 silam kala hat-trick Robin van Persie mampu memastikan United merebut gelar EPL 2012/13. Sebuah pertanda bagus untuk kampanye United di musim ini?

Tiga pemain anyar United, Marcos Rojo, Daley Blind, dan Radamel Falcao melakoni debutnya di laga ini. Performa ketiganya bisa dibilang tampil memuaskan. Rojo tampil tangguh sebagai bek kiri dan rajin membantu serangan, Blind menjadi gelandang jangkar yang menyeimbangkan permainan, sementara Falcao yang diturunkan sebagai pemain pengganti di menit 67 nyaris mencatatkan namanya di papan skor.

Ngomong-ngomong soal pemain baru, penggawa anyar United lain yang paling bersinar di laga ini adalah Ander Herrera dan Angel Di Maria yang sama-sama mengemas satu gol dan satu assist. Juan Mata juga bisa dikategorikan sebagai pemain anyar yang tampil impresif di laga ini meski ia dibeli pada Januari lalu. Sang playmaker Spanyol turut menyumbang gol di laga ini yang artinya menjadi gol kedelapannya dari sepuluh penampilan EPL terakhir bersama United.

Mengetahui formasi 3-5-2 yang ia kembangkan tidak berjalan sesuai perkiraan dalam tiga partai pembuka EPL, ketika melawan QPR Louis van Gaal mengubahnya menjadi 4-4-2 diamond dengan menempatkan Daley Blind sebagai gelandang jangkar diapit Angel Di Maria dan Ander Herrera di kiri dan kanannya sementara Juan Mata berada di belakang dua striker utama.

Hasilnya, susunan berlian di lini tengah ini berjalan sempurna terutama di babak pertama dengan Blind sebagai aktor utama di balik keseimbangan permainan United yang tetap terjaga di sepanjang 90 menit. Bahkan, pemain internasional Belanda itu mampu mencatatkan 112 operan sepanjang laga yang tercatat menjadi tertinggi kelima dalam sebuah laga EPL musim ini.

Ciri khas sistem tiga bek dipertahankan Van Gaal di United setelah taktik tersebut berjalan mulus ketika ia menangani Belanda di Piala Dunia 2014. Namun setelah mengetahui rencananya itu tidak membuahkan hasil memuaskan dalam tiga partai perdana EPL, Van Gaal lantas mengembalikannya ke sistem empat bek – Jonny Evans dan Tyler Blackett di tengah sementara Rojo dan Rafael sebagai full-back.

Dalam perubahan formasi ini ditemukan kesimpulan bahwa United terlihat sangat nyaman dengan sistem empat bek yang sudah “mendarah-daging” sejak era Ferguson hingga David Moyes. Dalam 45 menit pertama, four back United tidak pernah kerepotan menumpas serangan QPR – kecuali ketika blunder David De Gea dan Rojo di menit 32. Pada akhirnya United bisa fokus mengincar gol.

Namun, saat pergantian pemain dobel di pertengahan babak kedua, Van Gaal memilih kembali beralih ke formasi tiga bek – Rojo digeser ke tengah bersama Evans-Blackett, sementara Antonio Valencia dan Di Maria menjadi wing back. Ketika itu, United sudah unggul 4-0 dan mereka mulai mengendurkan serangan sebagaimana QPR juga hanya bisa mengancam sesekali saja. Pertandingan pun sudah berakhir sejak saat itu dan formasi tiga bek sekali lagi belum menunjukkan dampak signifikan.

Jika Van Gaal tetap bersikukuh dengan kembali ke tiga bek di laga-laga berikut, United jelas butuh waktu. Tapi untuk tim seambisius United, hasil bagus secepat mungkin harus menjadi tujuan utama, termasuk jika itu harus mengorbankan filosofi tiga bek kegemaran sang meneer Belanda. Maka Van Gal harus mengambil jalan tengah: fleksibilitas taktik.

Untuk partai-partai selanjutnya, jika United tetap menerapkan empat bek, maka performa saat melawan QPR harus menjadi acuan. Van Gaal menginstruksikan duo full-back, Rojo dan Rafael, agar berani menyerang. Agresivitas kedua bek sayap ini terbukti sangat membantu dalam menyokong para pemain depan yang lebih terpusat pada lapangan tengah.

Dan ketika kehilangan bola, Blind berperan krusial dengan menjadi palang pertahanan pertama di tengah lapangan sehingga keseimbangan tetap terjaga sembari duo bek sayap itu kembali ke belakang dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Lini belakang pun kembali terkover oleh empat bek.

addCustomPlayer('1qf27stvxh8r71az2qpbo5isho', '', '', 620, 540, 'perf1qf27stvxh8r71az2qpbo5isho', 'eplayer4', {age:1407083158258});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics