FOKUS: Lima Pelajaran Mahal Belanda Dari Kualifikasi Euro 2016

Belanda terseok-seok di kualifikasi Euro 2016. Ada apa dengan pasukan Guus Hiddink ini?

OLEH AGUNG HARSYA Ikuti @agungharsya di twitter

Belanda memulai kualifikasi Euro 2016 dengan torehan tidak meyakinkan dari tiga penampilan yang sudah dijalani. Saat ini Belanda sudah menelan dua kekalahan hasil lawatan dari markas Republik Ceko dan Islandia. Melawan Kazakhstan, tim anak baru Eropa, Belanda harus mengejar defisit satu gol sebelum akhirnya berbalik menang 3-1. Senin (13/10) malam, Belanda menyerah 2-0 di markas Islandia sekaligus menjadi kekalahan pertama sepanjang sejarah dari tim tuan rumah.

Ada apa dengan Oranje? Belanda yang biasanya begitu perkasa di kualifikasi Euro mendadak kehilangan taji. Sebelum dikalahkan Ceko, sejak 1992 Belanda mengukir rekor tak pernah kalah di laga perdana kualifikasi Euro maupun Piala Dunia. Situasi seperti tidak berpihak kepada Guus Hiddink.

Pelatih 67 tahun itu menerima tongkat estafet kepelatihan dari Louis van Gaal usai Piala Dunia lalu. Hiddink bukan pelatih sembarangan. Sejumlah timnas maupun tim besar pernah ditanganinya. Tapi, Belanda rupanya tetap saja terseok-seok. Usai kekalahan kedua dari Islandia, sorotan mulai tertuju pada kapasitasnya sebagai bondscoach meski Hiddink tetap memperoleh dukungan dari kapten Robin van Persie.

Goal Indonesia mencatat lima pelajaran penting yang diperoleh Belanda dan Hiddink pada rangkaian kualifikasi Euro sepekan terakhir.

Ronald de Boer tak segan melontarkan kecaman kepada sang bondscoach usai kekalahan dari Islandia. Menjadi komentator di Sky Sports, De Boer melihat Belanda di tangan Hiddink tak memiliki game plan yang jelas.

"Misalnya, instruksi agar gelandang berlari dari lini kedua untuk membantu Van Persie. Saya tidak melihatnya," ujarnya. "Memang dia punya rekor bagus. Gagasannya sekarang sudah ketinggalan zaman. Dengan segala hormat, Hiddink sudah 67 tahun dan menurut saya dia sudah habis."

De Boer mengatakan, pelatih muda seperti Ronald Koeman sebenarnya sudah siap mengambil alih kursi kepelatihan timnas Belanda. Tapi, De Boer juga harus menghargai pilihan yang ada saat ini. Bukan pula keputusan yang bijak jika Hiddink menanggalkan jabatannya saat ini.

Supaya Belanda bangkit, Hiddink harus mengubah cara pendekatan baik secara taktik maupun personal. Bulan lalu, sejumlah pemain mengungkapkan perbedaan cara melatih Hiddink yang lebih relaks ketimbang intensitas ala Van Gaal yang mendetail. Dari figur "paman yang baik hati" seperti itu, Hiddink sekarang dituntut membuktikan reputasi sebagai salah satu pelatih top dunia.

Pertandingan melawan Kazakhstan menyisakan cerita usang yang tak habis-habisnya selalu dibahas media massa. Pada sebuah momen di babak kedua, Van Persie memilih menyelesaikan peluang yang di depan gawang lawan. Tendangannya melebar, padahal posisi Klaas-Jan Huntelaar di mulut gawang mungkin lebih menguntungkan.

Huntelaar bereaksi dengan menunjukkan ekspresi tidak senang dan dibalas Van Persie. "Huntelaar berlebihan," ujar Van Persie usai laga. Sementara, Huntelaar mengatakan, "Saya selalu ingin diberi bola terutama jika berada dalam posisi menguntungkan."

Apakah keduanya dapat dimainkan bersamaan? Pertanyaan lama ini kembali muncul setelah konflik di Euro 2012. Van Persie selalu menjadi pilihan utama Bert van Marwijk maupun Van Gaal meski rekor keduanya di Oranje bisa dibilang sebanding.

Baru sekarang Hiddink baru menyadari kenapa Van Gaal memilih bermain dengan formasi tiga bek tengah. Lini belakang Belanda masih menyisakan tanda tanya besar. Melawan Kazakhstan dan Islandia, dua kali mereka kebobolan hasil dari tendangan penjuru.

Umpan silang menjadi momok menakutkan bagi para bek Oranje. Saat menghadapi Ceko, dua kali pula gawang Jasper Cillessen bobol diawali dari pola serangan ini. Gol kedua Ceko bahkan diakibatkan kecerobohan Daryl Janmaat dalam memberikan back pass.

Sebenarnya banyak amunisi yang disimpan Hiddink. Ron Vlaar absen akibat cedera, sedangkan Virgil van Dijk masih menanti kesempatan dimainkan. Keduanya perlu memberikan persaingan kepada duet Stefan de Vrij dan Bruno Martins Indi. Belum lagi kalau kita menghitung para bek muda seperti Karim Rekik, Jeffrey Bruma, Joel Veltman, atau Terence Kongolo.

Wesley Sneijder. Performanya sudah dianggap jauh menurun jika dibandingkan empat tahun lalu, tapi dia menjadi pemain yang memiliki catatan jarak tempuh terbanyak sepanjang Piala Dunia lalu. Belum lagi harga pengalaman yang dimiliki Sneijder sepanjang 109 kali membela Belanda.

Namun, seperti yang pernah dilakukan Van Gaal, Hiddink harus berani menegur sang pemain. Sneijder terlalu sering kehilangan bola. Di samping itu, bukan rahasia lagi jika Belanda masih mengandalkan servis Sneijder untuk memasok bola-bola kesukaan Van Persie dan Arjen Robben.

Ibrahim Afellay dipanggil untuk membantu peran Sneijder. Hiddink pun dapat bernafas lega karena Kevin Strootman mulai berlatih lagi setelah dihantam cedera panjang. Tapi, mungkinkah Hiddink melakukan penyegaran total di posisi yang dihuni Sneijder? Adam Maher, Davy Klaassen, Hakim Ziyech, atau bahkan Jordy Clasie menunggu kesempatan itu.

Hal yang sama berlaku untuk Jeremain Lens. Penyerang sayap yang baik, tetapi kehadirannya tak banyak memberikan dampak di lini serang Belanda.

Jalan masih panjang bagi Hiddink. Belanda mengantungi rekor 35 kali tak terkalahkan dalam laga kompetitif di kandang sendiri. Kekalahan terakhir didapat saat menjamu Portugal, 14 tahun lalu, dalam rangkaian kualifikasi Piala Dunia 2002.

Ditambah laga persahabatan melawan Meksiko, November mendatang, Belanda memiliki tiga laga beruntun yang dimainkan di hadapan pendukung sendiri. Latvia akan dijamu 17 November, sedangkan Turki datang 29 Maret. Peluang meraup enam poin dari dua pertandingan itu tak boleh lepas.

Sekarang atau tidak sama sekali, Hiddink!

addCustomPlayer('12vpq2gcav7p4145hxea3k767a', '', '', 620, 540, 'perf12vpq2gcav7p4145hxea3k767a', 'eplayer4', {age:1407084748852});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics