FOKUS: Menakar Pengganti Alfred Riedl

Berbagai profil pelatih patut diperhitungkan untuk menukangi timnas Indonesia.

OLEH MUHAMAD RAIS ADNAN Ikuti di twitter

Timnas Indonesia sudah dipastikan gagal mewujudkan ambisi untuk menjadi juara Piala AFF 2014. Itu setelah, mereka hanya mampu menempati posisi ketiga fase Grup A dengan poin empat di bawah Vietnam dan Filipina.

Imbasnya, pelatih Alfred Riedl pun tak diperpanjang lagi kontraknya oleh PSSI. Hingga saat ini masih belum terbayang siapa yang akan menempati "kursi panas" yang ditinggalkan Riedl itu. PSSI sendiri berharap sudah bisa mendapatkan pelatih anyar paling lambat awal Februari 2015.

Siapapun yang akan melatih timnas, pastinya diharapkan bisa memberikan prestasi juara. Terlebih, timnas masih kering prestasi.

Lantas, siapa yang paling berpeluang untuk menempati posisi pelatih tim Merah Putih? Apakah pelatih lokal atau asing? Memang, Riedl sendiri sudah mencoba menominasikan dua asistennya Wolfgang Pikal maupun Widodo Cahyono Putro untuk menjadi penerusnya. Namun, tentunya juga akan ada masukan dari direktur teknik timnas usia muda, Pieter Houistra, mengenai profil pelatih yang cocok untuk Indonesia.

Jika melihat daftar pelatih Indonesia sejak Piala AFF 1996, sudah ada 16 pelatih yang menukangi tim Garuda (termasuk caretaker dan Luis Manuel Blanco yang sudah ditunjuk tapi tidak sempat memimpin timnas di laga resmi). Jumlah pelatih sebanyak itu dalam 18 tahun terakhir, jelas bukan sebuah cermin yang baik dalam pembinaan sepakbola di Indonesia.

Karena rata-rata pelatih yang menukangi timnas hanya bertahan 1,1 tahun. Itu artinya, tidak ada program jangka panjang yang disiapkan bagi timnas. Wajar saja, jika prestasi timnas Indonesia selalu stagnan bahkan cenderung mundur atau tertinggal dari negara lainnya di Asia Tenggara.

Melihat kondisi yang ada, Indonesia tampaknya masih harus realistis baru bisa menatap untuk menjadi juara di level Piala AFF. Jika sudah berhasil menggapai gelar itu, baru Indonesia secara bertahap bisa bicara mulai dari level Asia hingga dunia.

Nah, bagaimana perbandingan prestasi antara pelatih lokal dan asing yang melatih timnas Indonesia di Piala AFF sejak 1996? Berdasarkan daftar yang ada, ada delapan pelatih yang pernah menukangi Indonesia dari sepuluh penyelenggaraan Piala AFF. Hasilnya, Indonesia hanya mendapatkan prestasi tertinggi menjadi empat kali runner-up pada 2000, 2002, 2004, dan 2010.

Dari empat torehan itu, tiga di antaranya diraih ketika dilatih pelatih asing. Mulai dari Ivan Venkov Kolev (2002), Peter Withe (runner-up), hingga Riedl (2010). Satu-satunya pelatih lokal yang bisa membawa tim Garuda menjadi runner-up adalah Nandar Iskandar (2000). Rasanya, cukup realistis jika Indonesia kembali ditukangi pelatih asing. Apalagi, deretan pelatih lokal berkualitas yang dimiliki saat ini, sudah semua terikat kontrak dengan klub seperti Rahmad Darmawan (Persija Jakarta), Nilmaizar (Putra Samarinda), maupun Benny Dolo (Sriwijaya FC).

Peter Withe pernah mengantarkan Thailand dua kali juara Piala AFF, namun hanya berhasil membawa Indonesia sekali menjadi runner-up.

Namun, Anda jangan langsung terburu-buru berpikir bahwa Kolev maupun Withe layak kembali menukangi timnas. Karena kemungkinan bakal ada nama baru yang akan direkrut. Jika melihat proses perekrutan pelatih asing yang dilakukan PSSI dalam beberapa tahun terakhir, tren-nya selalu mengambil pelatih yang menghasilkan prestasi bagi negara Asia Tenggara seperti ketika merekrut Withe maupun Riedl.

Dengan kata lain, nama-nama seperti Radojko Avramovic yang berhasil mengantarkan Singapura menjadi tiga kali juara Piala AFF yang kini melatih Myanmar bisa menjadi kandidat. Terlebih, Indonesia cocok dengan gaya pelatih asal Eropa Timur. Selain itu, ada juga Thomas Dooley yang semakin membuat Filipina tampil impresif di Piala AFF 2014.

Tentu saja bakal ada nama pelatih asing yang pernah melatih klub-klub di Indonesia Super League dan berprestasi yang bisa masuk hitungan. Mantan pelatih Arema Cronus, Robert Rene Alberts dan Persiba Balikpapan, Peter Butler misalnya.

Radojko Avramovic bisa menjadi hitungan untuk pelatih timnas Indonesia lantaran berhasil membawa Singapura tiga kali juara Piala AFF.

Belum lagi, jika Houistra selaku dirtek mengajukan profil pelatih asal Belanda yang merupakan negara asalnya. Kedekatan emosional antara Indonesia-Belanda bisa menjadi pertimbangan tersendiri dalam pemilihan pelatih kali ini. Di samping prestasi dari pelatih yang bersangkutan.

Tapi, siapapun pelatihnya perlu diingat prestasi itu tidak bisa diraih dengan instan. Sehingga harus ada program jangka panjang yang jelas untuk meraih prestasi juara. Sementara PSSI saat ini sedang terbiasa mengontrak pelatih dengan sistem per-event. Jadi, jika gagal dalam sebuah event yang ditargetkan, pelatih itu akan langsung dipecat. Meski ada opsi perpanjangan kalau berhasil memenuhi target.

Patut ditunggu langkah apa yang akan diambil PSSI dalam penentuan juru racik bagi timnas. Semoga pelatih yang direkrut nanti bisa memberikan perubahan dan membawa prestasi juara bagi timnas Indonesia.

addCustomPlayer('grhs4r4s2mdz1khnuqef6xeua', '', '', 620, 540, 'perfgrhs4r4s2mdz1khnuqef6xeua', 'eplayer4', {age:1416334462966});

>

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.