FOKUS: Menanti Dinasti Carlo Ancelotti Di Santiago Bernabeu

Misi La Decima tuntas, tetapi tugas baru yang lebih berat berada di depan pelatih Carlo Ancelotti.

ANALISIS BEN HAYWARD PENYUSUN GUNAWAN WIDYANTARA
Musim yang pantas dikenang. Carlo Ancelotti mengakhiri debutnya bersama Real Madrid dengan dua trofi; Copa del Rey dan Liga Champions.

Prestasi ini merupakan pembenaran terhadap keputusan presiden Florentino Perez yang berpisah dengan Jose Mourinho musim panas lalu. Tetapi bagi juru taktik asal Italia, petualangan baru saja dimulai.

Mourinho mengklaim Copa di musim perdana tetapi gagal di La Liga dan Liga Champions. The Special One lalu meminta untuk dinilai di musim kedua - hasilnya musim spektakuler di Primera Liga dengan 100 poin untuk menghancurkan dominasi Barcelona yang merajai tiga musim sebelumnya di bawah komando Pep Guardiola.

Berdasar kesuksesan tersebut, Mourinho meneken kontrak berdurasi panjang pada musim panas 2012. Episode ini seharusnya menjadi pijakan kuat untuk meraih prestasi spesial tetapi yang terjadi sebaliknya masa depan arsitek Portugal berakhir.

Tensi hubungan dengan media dan pemain meningkat usai tim mencatat hasil kurang memuaskan di awal La Liga 2012/13, mereka bahkan dinilai telah kehilangan gelar sebelum paruh pertama musim tuntas. Aksi di Liga Champions diakhiri dengan kekalahan heroik di hadapan Borussia Dortmund, El Real tumbang di semi-final untuk kali ketiga secara beruntun. Terakhir, harapan meraih gelar di Copa dimusnahkan Atletico.
Siapa rindu Mourinho? | Aksi fan Real Madrid di laga pramusim antara Madrid dan Chelsea
Madrid memang meraih Piala Super Spanyol namun mengakhiri kompetisi tanpa trofi bergengsi - seperti Barcelona musim ini, tentunya tidak memuaskan. Madrid memperpanjang kontrak Mourinho untuk hal-hal yang lebih hebat.

Ancelotti kemudian datang. Pelatih dari peninsula mengambil alih pasukan Mourinho dan memolesnya menjadi sebuah unit yang lebih baik. Don Carlo sukses mempersembahkan La Decima di percobaan pertama, mereka melewati rintangan hebat yang disuguhkan Dortmund, Bayern Munich dan Atletico.

Secara taktik Madrid begitu superior. Ancelotti berulang kali mengubah taktik musim ini bahkan sering menggunakan sejumlah formasi di satu pertandingan yang memaksa beberapa pemain menempati posisi berbeda sepanjang laga. Angel Di Maria yang sebelumnya berperan di lini serang, sekarang punya tanggung jawab di sektor gelandang sekaligus membantu pertahanan. Gambaran ini adalah contoh paling ekstrim perubahan.

Di final Liga Champions aksi Di Maria begitu impresif. Pantas dikatakan bintang Argentina baru saja mencicipi musim terbaiknya, begitu juga dengan sejumlah pemain lain di bawah arahan Ancelotti.

Pepe, Sergio Ramos, Luka Modric dan Karim Benzema bisa mengeluarkan kemampuan terbaik bahkan meningkatkan permainan ke level baru. Belum lagi Jese Rodriguez, bakatnya benar-benar bersinar sebelum dihajar cedera. Pemain ini dahulu mengeluh: "Saya tidak diberi kesempatan oleh Mourinho."

Ketika Madrid kehilangan poin dalam perburuan gelar La Liga, Mourinho mengatakan: "Saya terkejut, Madrid seharusnya berada di posisi lebih baik."

Ancelotti membalas. "Real Madrid berada di jalur juara, tidak seperti musim lalu."

Serangan yang dilayangkan Don Carlo tepat sasaran. La Liga pada akhirnya memang menjadi kekurangan di musim pertamanya. Tiga tim berburu tangga juara dan Madrid gagal memanfaatkan momentum yang sempat diraih, tetapi kegagalan ini justru menguntungkan di kompetisi lainnya.

Menguasai Copa dan Liga Champions merupakan jawaban palilng positif dari Ancelotti. "Pencapaian kami luar biasa," ungkapnya setelah pertandingan final di Lisabon.

Pantas juga menjadi catatan, dalam 15 tahun karir sebagai pelatih di klub hebat seperti Juventus, AC Milan, Chelsea, Paris Saint-Germain dan sekarang Madrid, Ancelotti baru memenangkan tiga gelar liga domestik. Sebuah torehan yang harus diperbaiki.

Di era sepakbola modern, tidak ada tim yang sanggup mempertahankan gelar Liga Champions dan andai Madrid sanggup melakukannya, meraih gelar liga adalah penyempurna bagi semua tim elit Eropa.

Ancelotti wajib menularkan kekuatan mental tim di ajang turnamen ke liga, menyuntikkan konsentrasi yang lebih hebat pada skuat di musim mendatang.

Tetapi dengan lini pertahanan yang semakin kuat, Gareth Bale kian melebur dalam tim, performa puncak Cristiano Ronaldo dan menguapnya tekanan La Decima, Ancelotti punya semua modal untuk meraih sukses yang lebih besar. Masa keemasan bagi Real Madrid berada di depan mata.
Ikuti Ben Hayward di

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics