FOKUS: Menerka Ramuan Beracun Cesare Prandelli Untuk Inggris

Menghadapi Inggris yang mengedepankan kecepatan, Italia sudah siap dengan beberapa formulanya untuk meraih hasil maksimal.

OLEH AHMAD REZA HIKMATYAR Ikuti @rezahikmatyar di twitter
Setelah Piala Dunia 2014 menyuguhkan partai besar antara Belanda dan Spanyol, publik sepakbola bakal kembali dijejali duel berkelas sarat gengsi yang mempertemukan Inggris kontra Italia, Minggu (15/6) dini hari WIB.

Dua tim penghuni Grup D yang memainkan laga perdananya di pagelaran kali ini, memiliki sejarah sengit pertemuan. Dari 24 duel sepanjang sejarah kedua tim, Gli Azzurri memang unggul dengan 12 kemenangan, tapi The Three Lions menempel ketat dengan sepuluh kemenangan.

Pertarungan paling gres tentu masih segar dalam ingatan tatkala penalti Panenka Andrea Pirlo, menghempaskan Inggris di babak perempat-final Euro 2012. Satu hal tampak begitu transparan dalam duel tersebut. Ya, kedua tim amat berimbang dalam sisi teknis, sehingga perang taktik tersaji dengan sangat indahnya di Olympic Stadium, Kiev, Ukraina.

Satu hal yang tak jauh beda tampaknya bakal kembali terulang dini hari nanti. Cesare Prandelli dan Roy Hodgson sama-sama menyatakan bahwa mereka akan menggunakan skema kejutan untuk saling mengalahkan.

Ketika Hodgson sudah paten dan semakin mantap dengan formasi 4-2-3-1, beberapa hari saja menjelang Piala Dunia 2014 Prandelli justru dipaksa memutar otak soal taktik, menyusul cederanya Riccardo Montolivo. Seperti dipaparkan dalam analisis Goal Indonesia sebelumnya, skema andalan 4-3-1-2 amat besar kemungkinannya untuk dirombak, apa lagi saat meladeni tim seperti Inggris.

Menarik karena jelang laga tersebut, media dan publik terus menerka ramuan seperti apa yang bakal diberikan Prandelli untuk meracuni Wayne Rooney cs di atas lapangan.

3-5-2 jadi favorit kedua sang allenatore selain skema utama yang sebelumnya disebutkan. Formasi tersebut selalu efektif diterapkan melawan juara dunia, Spanyol, dalam beberapa pertemuan. Menumpuk deretan gelandang keras khas Negeri Pizza, jadi jawaban untuk meredam kreativitas para gelandang La Furia Roja yang jadi pusat permainan.

Namun resikonya amat besar, jika lawan mereka mulai menerapkan permainan melebar dengan mengandalkan winger. Del Bosque sempat sadar akan hal itu di Piala koferderasi 2013 lalu. Jesus Navas dan Pedro Rodriguez yang berperan di posisi tersebut berluang kali membuat pertahanan Italia kedodoran. Sayangnya, skema itu baru dimainkan pada 15 menit terakhir dalam 120 menit pertandingan, sehingga tak ada hasil konkrit yang didapat.

Namun semuanya semakin jelas tatkala Argentina sukses mengeksploitasi kelemahan tersebut, dalam sebuah duel uji coba. Angel Di Maria yang dikenal sebagai winger mumpuni, sanggup menari-nari di antara kepungan Daniele De Rossi, Andrea Barzagli, bahkan Giorgio Chiellini, untuk membawa Tim Tango menang 2-1.

Melawan Inggris hal serupa beresiko besar terjadi. Adam Lallana dan Raheem Sterling di pos winger memiliki kecepatan yang luar biasa. Ketika permainan mulai terpusat di tengah, kedua pemain tersebut tak ragu untuk menghukum Italia dengan memanfaatkan ruang kosong yang ada. Maukah Prandelli mengambil resiko itu, sekalipun mereka lebih unggul di lini tengah?

Formasi 4-1-4-1 belakangan mulai diterapkan Prandelli dalam beberapa uji coba. Pada skema ini Pirlo akan jadi pemain jangkar di tengah, De Rossi jadi pemutus serangan lawan sekaligus pelindung Pirlo, semenatara Claudio Marchisio dan Thiago Motta akan menjadi pengalir bola. Posisi gelandang serang kemungkinan besar akan dipercayakan pada Antonio Candreva, di mana Mario Balotelli yang ditempatkan sebagai ujung tombak.

Skema ini baru pernah dijajal sekali dalam partai uji coba kontra Luksemburg. Hasilnya? Mengecewakan, karena Gigi Buffon cs ditahan imbang 1-1. Kerancuan peran antara De Rossi, Marchisio, dan Motta jadi cacat yang terlihat di situ. Italia jelas harus mematangkan dahulu taktik anyar ini, untuk diimplementasikan di ajang sebesar Piala Dunia.

Dan secara mengejutkan, Pirlo mengkonfirmasi hal itu. "Kami coba mencari solusi dengan seorang gelandang berdiri di depan empat bek dan dua playmaker bermain lebih ke depan dan diberikan kebebasan. Kami suka pilihan ini, dan bisa memberikan hasil bagus. Kami terus berusaha memantapkan formasi tersebut," terangnya.

"Formasi ini menyertakan rotasi pemain. Ketika pemain sedang menyerang, di saat bersamaan saya akan kembali ke posisi klasik seperti biasa. Kami berusaha merotasi pemain tengah agar lawan terus menerka-nerka," lanjutnya.

Jika pada akhirnya kematangan mulai dicium dalam formasi 4-1-4-1, apakah para penggawa Inggris akan masuk dalam jebakan yang ditawarkan?

4-3-3 merupakan fondasi awal Prandelli untuk membangun filosofi kontradiktif tim seperti Italia, untuk tampil lebih atraktif dan menyerang. Pada awal kepemimpinannya, mantan pelatih Fiorentina itu terus menjajal formasi tersebut. Sayangnya kala itu ia tak didukung oleh winger mumpuni.

Skema awal pun ditinggalkan, namun Prandelli tak pernah membuang prinsip dasarnya. Semua tergambar jelas dengan penampilan La Nazionale yang kini lebih menghibur dengan variasi serangannya. Dan formasi lawas tersebut bukan tidak mungkin jadi ramuan beracun yang tepat untuk menjinakkan Tim Tiga Singa.

Permainan melebar akan diterapkan, tempo jadi semakin tinggi, dan stamina bakal lebih cepat terkuras. Keberadaan Pirlo, De Rossi dan Marchisio adalah elemen krusialnya. Merekalah yang bertugas memberdayakan peran winger agar tampil semaksimal mungkin.

Antonio Candreva, Alessio Cerci, Lorenzo Insigne, atau bahkan Antonio Cassano amat mumpuni di posisi moderen tersebut. Skema ini juga amat tepat untuk mengeksploitasi kelamahan laten Inggris di posisi fullback.

Glen Johnson dan Leighton Baines bukanlah fullback yang memiliki kecepatan dan tingkat kedisiplinan tinggi. Pun halnya dengan pelapis mereka yang begitu minim pengalaman. Dan ketika Pirlo memainkan ritme ilusi untuk menarik ke depan dua pemain tersebut, saat itulah para winger La Nazionale beraksi. Konsentrasi dua bek tengah Inggris bakal terpecah, saat itulah Balotelli berubah jadi monster di kotak penalti lawan.

Italia pun tak perlu menempatkan kekhawatiran level tinggi ketika balik diserang. Karena duo fullback mereka, yang kemungkinan diisi oleh Ignazio Abate dan Matteo Darmian, akan lebih konsisten berada di pos aslinya. Satu hal yang bakal membatasi kreativitas Jack Wilshere sebagai pengatur serangan.

Jadi Prandelli, ramuan manakah yang akan kau gunakan dini hari nanti?

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics