FOKUS: Mengapa Harus Menggigit, Luis Suarez?

Lengkap sudah, insidennya dengan Giorgio Chiellini membuat Luis Suarez mencetak hat-trick dalam hal gigit-menggigit lawan.

OLEH ANUGERAH PAMUJI Ikuti Anugerah Pamuji di twitter

Sepanjang musim lalu, Luis Suarez seolah menemukan titik balik dalam kariernya. Maklum, sejak pindah ke Liverpool pada 2011, bomber Uruguay ini acap kali lekat dengan kontroversi.

Namun, di kampanye 2013/14 sang striker seolah menepis semua pandangan miring terhadapnya dengan merangkum musim sebagai topskor liga [31 gol], menyabet gelar Pemain Terbaik Liga Primer Inggris dan membawa The Reds kembali mentas di Liga Champions musim depan setelah bertahun-tahun absen.

Segala sesuatunya sudah berjalan normal. Namun, Suarez tetaplah Suarez. Penyakit lama dia pada akhirnya kumat, tak lain yakni kelakukan buruknya yang paling masyhur, menggigit pemain lawan.

Aksi ini tertangkap kamera ketika Uruguay bentrok dengan Italia. Saat Suarez dan bek Giorgio Chilellini terlibat duel tanpa bola, kedua pemain ini kemudian terjatuh. Bek Juventus itu memamerkan bahunya, sementara sang penyerang memegangi giginya.

Dari tayangan ulang memperlihatkan Suarez seperti sedang menggigit pundak Chiellini, aksi yang kemudian membuat si defender reflek mengempaskan tangannya ke muka si penyerang.

Tidak ada hukuman atau kartu yang diberikan, pertandingan dilanjutkan dan beberapa saat kemudian gol penentu kemenangan sekaligus yang meloloskan Uruguay pun tercipta melalui Diego Godin.

Namun pasca pertandingan, yang ramai dibicarkan publik bukan ketersingkiran Gli Azzurri atau lolosnya La Celeste, tapi justru dugaan gigitan Suarez.

"Saya tidak melihat Suarez menggigitnya [Chiellini], namun saya melihat bekas gigitan pada bahunya, tapi sang asisten wasit begitu sibuk, mereka tidak melihat apa pun," tukas pelatih Italia Cesare Prandelli selepas bentrokan.

Jika terbukti bersalah, ini merupakan hat-trick Suarez dalam hal gigit-menggigit lawan.

Selain dikenal karena bakatnya yang sensasional, Suarez memang identik dengan tabiat buruknya itu dalam beberapa tahun terakhir. Chiellini bukanlah korban pertama yang pernah merasakan gigitan pemain 27 tahun itu.

Kisah serupa juga pernah dialami Otman Bakkal, gelandang PSV, pada November 2010 silam. Inilah cikal bakal Suarez menemukan "jati diri" sebagai tukang gigit. Suarez menunjukkan nafsu "lapar"-nya dengan melahap bahu Bakkal ketika dia membela Ajax dalam bentrokan lanjutan Eredivisie Belanda.

Tanpa ampun, striker Uruguay ini kemudian menerima skorsing tujuh pertandingan dari FA Belanda atas aksinya tersebut. Kejadian ini pula menjadi penampakan terakhirnya bagi skuat Amsterdam sebelum berpaling seragam ke Liverpool pada Januari tahun depannya.

Kala itu, peristiwa gigitan ini masih belum terlalu menyeruak dan masih menjadi "barang baru" bagi pecinta sepakbola.

Namun lembaran cerita memalukan ini seketika tersingkap kembali ketika Suarez mengulanginya dengan seragam berbeda.

Entah apa yang ada di benak Suarez, gigitan episode dua kembali dilancarkannya kepada Brainslav Ivanovic ketika Liverpool dan Chelsea bentrok, April 2013. Setelah mengkreasi terciptanya gol pertama, dan membuat handball yang tak perlu yang berakibat timnya tertinggal 2-1, di sinilah Suarez menampakkan aksi tak sportifnya dengan "menyantap" lengan Ivanovic.

Untungnya, di kesempatan itu pula dia menjadi penyelamat timnya dengan mencetak gol di pengujung laga yang memaksakan laga berakhir 2-2.

Pada Mulanya dia terbebas dari hukuman. Namun, setelah FA menyelediki lebih lanjut tindakannya itu, Suarez akhirnya dijerat sanksi larangan turun ke lapangan selama 10 pertandingan ke depan, yang berimbas hingga periode awal petualangan 2013/14.

Suarez sejatinya sempat menyatakan jika dirinya menyadari aksi tak terpujinya itu. Bagi Suarez dukungan yang diberikan suporter kubu Anfield membuatnya bisa melewati masa-masa sulit selepas insiden Ivanovic. Perbaikan diri dibuktikan dengan performa elok di lapangan dengan memberi kontribusi besar untuk skuat Brendan Rodgers sepanjang musim lalu.

"Saya bahagia karena bisa kembali bersama suporter. Ini membuat saya betah di Anfield," ungkap Suarez.

Sayang, rupanya keliru menilai Suarez sudah dewasa dan lebih matang. Faktanya penyakit lamanya menggigit lawan kambuh lagi. Celakanya, ini dilakukannya di panggung hajatan empat tahunan. Chiellini menjadi korban berikutnya. Kalau sudah begini, sangsi FIFA siap-siap menanti, yang kabarnya akan menggelar investigasi.

Aksi Suarez di Arena das Dunas, Natal, ini praktis kembali menggemparkan media sosial, memicu lagi munculnya bahan kelakar bahkan olok-olokan publik seperti meme konyol yang menghubung-hubungkannya dengan vampir, kanibal, drakula dan figur-figur horor lainnya.

Di dunia sepakbola, jarang ditemukan aksi menggigit lawan. Seemosi-emosinya pemain, mereka biasa bermain fisik seperti memukul, menanduk - seperti aksi Zinedine Zidane yang terkenal itu - atau menendang keras lawan.

Lalu kenapa harus menggigit? Profesor David Wilson, seorang kriminolog dari Birmingham City University, mengatakan menggigit bisa digunakan untuk tindakan kriminal, seperti pelaku yang ingin menandai korban secara simbolis.

Wilson menambahkan, gigitan merupakan sikap "khusus" yang bisa memuaskan seseorang dalam meluapkan rasa emosinya.

Setidaknya, Suarez harus menjalani terapi manajemen amarah. Seperti yang dianjurkan Dr. Fawcettt, psikolog olahraga, yang pernah meneliti tingkat emosional Suarez. Menurutnya, dukungan secara mental harus jadi menu lain dalam kehidupan sepakbola Suarez. Jika hal semacam ini tidak dicegah, dikhawatirkan prilaku menggigit ala Suarez ini akan menjadi kesenangan jangka panjang, sebagaimana yang telah tiga kali dilakukannya baik di level klub mau pun internasional.

Sebab, boleh jadi menggigit memang merupakan salah satu cara untuk memenuhi kepuasan Suarez secara emosional. Sisi lain atau hobi dari seorang Suarez? Siapa yang tahu...

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics