FOKUS: Skenario Sama, Kondisi Berbeda Buat Italia

Di Piala Dunia 2014, Italia harus menentukan, apakah ingin seperti Piala Eropa 1996 atau Jerman 2006?

Setelah menundukkan Inggris, fans Italia disuguhi penampilan kurang meyakinkan dari skuat mereka.

Melawan Kosta Rika, Gli Azzurri menunjukkan standar penampilan yang tak bisa dikatakan bagus. Hasilnya, kekalahan 1-0 lewat gol tunggal Bryan Ruiz sesaat sebelum jeda laga.

Apa yang salah dengan Azzurri di laga itu? Media Italia menyebut segalanya. Pemilihan pemain, keberuntungan bahkan kondisi cuaca juga menjadi hal yang disalahkan.

Tidak berlebihan karena Cesare Prandelli gagal mengeluarkan potensi terbaik dari skuatnya di laga itu. Dan juga, para pemain seperti kehilangan arah dan tenaga untuk bermain dengan standar yang sama sepanjang 90 menit.

Yang paling disoroti adalah peran Thiago Motta. Bisa dikatakan dia adalah satu-satunya orang asal Brasil yang kehabisan energi dan paling menderita dengan panasnya cuaca di Brasil.

Susy Campanale, kolumnis di Italia, bahkan begitu kesal mengapa Motta dimasukkan dalam tim.

"Saya tak mengerti dengan Motta. Saya tak tahu mengapa dia bisa masuk tim, mengapa dia terus dipilih dan atas alasan apa dia bisa masuk ke skuat," ungkapnya.

"Dia tak lebih kreatif dibanding Marco Verratti, lebih mudah ditebak dibanding Alberto Aquilani dan tak bisa mengalahkan kecepatan Cesare Prandelli. Kita harusnya menempatkan Prandelli sebagai pemain-pelatih pertama di Piala Dunia ketimbang harus memainkan Thiago Motta lagi."

"Dia pemarah, lamban, tak bisa bertahan, pastinya tak bisa menciptakan peluang dan punya nyali hanya untuk mengatakan kendala cuaca menjadi satu-satunya perbedaan antara Italia dan Kosta Rika," tudingnya.

Selain Motta, masalah lain ada pada kendala cuaca. Bagi tim Amerika Tengah seperti Kosta Rika, hal semacam ini bukanlah masalah berat. Bermain di tengah cuaca dan kelembaban yang tinggi bukan hal baru.

Tapi buat tim Eropa, yang bisa bermain di temperatur udara yang hangat menuju dingin, cuaca di Manaus, atau di Brasil secara keseluruhan, begitu menjadi masalah besar buat Italia.

Skuat Azzurri kehilangan determinasi setelah laga berjalan 60 menit. Ada penurunan standar bermain yang terlihat. Padahal pada saat itu mereka harus mengejar ketertinggalan satu gol.

Belum lagi racikan Prandelli di mana komposisi tim berisi pemain yang dihantam kendala kelelahan usai melawan Inggris di Manaus.

Lihat saja grafik permainan Giorgio Chiellini di partai kedua Italia, hampir semuanya menunjukkan kecenderungan menurun bila dibanding penampilannya di laga melawan Inggris.

Barisan pemain lapis kedua, ketika melawan Kosta Rika, juga gagal memenuhi ekspektasi. Antonio Cassano, Alessio Cerci dan Lorenzo Insigne malah memperburuk citra Italia di laga itu. Insigne misalnya, yang terlalu banyak mencatat offside ketimbang tendangan ke gawang Kosta Rika. Sementara Cerci bisa dikatakan terkena sindrom demam panggung.

Apa pun itu, Italia kini berada di posisi yang kurang lebih sama, di mana mereka menggantungkan nasib mereka sendiri di laga terakhir babak grup. Hanya saja, lawan yag harus dihadapi bukan tim kemarin sore, Uruguay.

Melihat apa yang ditunjukkan ketika melawan Inggris, Uruguay menjadi ancaman nyata buat Italia. Apalagi Luis Suarez dalam situasi on fire menjebol gawang lawa.

Selain itu, Italia menempatkan diri di posisi yang salah terkait laga penentuan. Laga melawan Uruguay akan dilangsungkan di Natal pada pukul 13.00 waktu setempat. Dengan tim Amerika Selatan mendapat peruntungan yang bagus sejauh ini, Italia tahu mereka akan menghadapi partai hidup mati.

Sekarang tinggal menunggu bagaimana nasib Italia di laga terakhir fase grup Piala Dunia tahun ini. Apakah akan bernasib sama seperti Piala Eropa 1996, di mana mereka gagal lolos dari fase grup karena di laga penentuan gagal menjawab ekspektasi, atau menjalani momentum 2006, di mana mereka bisa lolos hingga akhir dan menjadi juara?

Menurut Anda?

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics