FOKUS: Tim-Tim Penjegal Indonesia Di Piala AFF

Indonesia memiliki sejumlah pesaing yang kerap memupus kepakan sayap Garuda di kejuaraan sepakbola se-Asia Tenggara tersebut.

OLEH ADHE MAKAYASA Ikuti di twitter
Genderang Piala AFF 2014 kian menggema seiring akan digelarnya ajang sepakbola terbesar se-Asia Tenggara tersebut pada akhir tahun ini.

Seperti diketahui, gelaran kesepuluh itu nantinya akan dilangsungkan di dua negara, yakni Singapura dan Vietnam. Undian pembagian grup baru bisa diketahui pada Selasa (5/8) esok, atau berbarengan dengan Council Meeting yang dilakukan oleh AFF di Vietnam.

Selama berpartisipasi di kejuaraan ini, tim nasional Indonesia bisa dikatakan selalu gagal dalam memenuhi ekspektasi untuk menjadi yang terbaik lantaran langkah mereka kerap dijegal oleh sejumlah tim. Dan berikut Goal Indonesia sajikan tim-tim yang kerap menjadi batu sandungan baik di babak penyisihan grup, maupun partai final. Selamat menyimak!

Negara tetangga Indonesia ini kerap menjadi lawan yang sulit ditaklukkan, bahkan sejak Piala AFF mulai digulirkan untuk kali pertama pada 1996. Kala itu, tim Garuda yang diperkuat Peri Sandria, Ansyari Lubis, hingga Kurniawan Dwi Yulianto dipaksa bertekuk lutut setelah takluk 3-1 di National Stadium, Kallang, sebelum akhirnya Malaysia berakhir sebagai runner-up karena kalah tipis 1-0 dari Thailand di partai puncak.

Di gelaran 2004, tim dari Negeri Jiran itu kembali tampil merepotkan terutama setelah berhasil mencuri kemenangan 2-1 di leg pertama babak semi-final yang mengambil tempat di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Meski harus kalah di pertandingan awal, Indonesia justru bermain kesetanan pada laga penentuan di Kuala Lumpur, di mana youngster Boaz Solossa turut mencuri perhatian dengan gol yang ia cetak untuk membawa negaranya menang 4-1 (5-3 secara agregat).

Saat berperan sebagai tuan rumah di edisi 2010 bersama dengan Vietnam, lagi-lagi Malaysia menjadi 'duri' bagi Indonesia untuk berprestasi. Menang 5-1 di babak grup berkat bantuan pemain naturalisasi, Indonesia malah diterkam Harimau Malaya di laga final dengan mengantongi kekalahan 3-0 di leg pertama, dan gagal mengejar defisit meski di pertemuan kedua sukses menang 2-1. Jakarta pun harus melihat sang rival mengangkat piala untuk kali pertama.

Yang termutakhir, dua tahun lalu. Harapan Indonesia untuk melaju ke babak semi-final harus sirna lantaran Malaysia sukses memenangi duel di laga terakhir babak grup B di Bukit Jalil. Di edisi tersebut, skuat arahan Nilmaizar tumbang 2-0 dan pulang dengan kekecewaan.

Pada edisi 1998 menjadi turnamen yang paling memalukan lantaran Indonesia dan Thailand memainkan sepakbola Gajah guna menghindari tuan rumah Vietnam di fase berikutnya. Meski terbilang sukses karena terhindar dari tim penyelenggara, tim Garuda yang diperkuat Kurniawan justru didepak oleh Singapura setelah mereka mengunci kemenangan 2-1 di babak semi-final. Di akhir turnamen, Indonesia harus puas berakhir sebagai juara keempat menyusul kekalahan dalam adu penalti melawan Thailand.

Saat Singapura menggelar hajatan itu pada 2004, The Lions yang bermain imbang 0-0 dengan Indonesia di babak grup, kemudian menuai supremasi keduanya setelah mengubur mimpi tim Merah Putih di dua leg final dengan menggenggam agregat 5-2.

Tiga tahun berselang, negara kecil di sebelah utara Batam itu sukses mengeliminasi Ilham Jaya Kesuma dkk menyusul hasil imbang 2-2 kala bermain di National Stadium -- sebuah hasil yang menyebabkan anak asuh Peter White mengangkat koper lebih awal karena berakhir sebagai urutan ketiga di babak grup.

Jegalan terakhir Singapura untuk Indonesia adalah ketika mereka mengemas kemenangan 2-0 di grup A turnamen edisi 2008 berkat gol yang dicetak Baihakki Khaizan dan Shi Jiayi di SUGBK. Meski tetap lolos ke semi-final sebagai runner-up grup, langkah tim Merah Putih terhenti di tangan Thailand pada babak itu.

Vitetnam sejak edisi pertama, tahun 1996, memang sudah merepotkan Indonesia. Dipertemukan di babak grup, mereka berhasil menahan rivalnya itu sebelum kemudian mengklaim urutan ketiga dengan menumbangkan tim Garuda, skor 3-2, di Singapura.

Empat tahun kemudian, Vietnam kembali menghadirkan perlawanan sengit saat bermain di Rajamangala Stadium, Bangkok. Mereka memaksa Indonesia untuk memainkan perpanjangan waktu, meski harus tersungkur setelah Gendut Doni melesakkan gol di menit ke-120 guna mengunci skor 3-2 dan meloloskan Indonesia ke final.

Hal yang sama juga terjadi di Piala AFF 2002 dengan Indonesia dan Vietnam yang terundi satu grup. Waktu itu, kedua tim bermain kuat 2-2 dan sama-sama lolos ke fase berikutnya. Akan tetapi, Indonesia ditakdirkan untuk menjadi runner-up setelah kalah dari Thailand dan Vietnam berakhir di urutan ketiga dengan menjungkalkan Malaysia.

Bentrokan sengit terakhir antara dua negara berlangsung di tahun 2007. Bertemu di babak grup, Indonesia sukses memaksakan skor imbang 1-1 setelah Saktiawan Sinaga menceploskan bola di menit terakhir menyusul gol bunuh diri Supardi. Di partai penentuan babak grup, Indonesia justru gagal melangkah lebih jauh. Mengingat, mereka tertahan 2-2 oleh Singapura selagi Vietnam keluar sebagai runner-up dengan membantai Laos 9-0.

Rivalitas Thailand dan Indonesia kiranya menjadi bagian tak terpisahkan dari turnamen ini. Sejak memainkan sepakbola Gajah pada 1998, keduanya terlibat duel-duel sengit dengan tim dari negeri Gajah Putih yang lebih banyak keluar sebagai pemenang.

Di penyelenggaraan tahun 1998, yang pada waktu itu masih bernama Piala Tiger, Indonesia ditumbangkan Thailand 3-2 di babak grup. Tim Garuda mengakhiri langkahnya sebagai peringkat keempat turnamen edisi itu, karena Thailand menumbangkan mereka lewat adu penalti di perebutan tempat ketiga.

The War Elephants lantas menjegal Indonesia dua kali di turnamen dua tahunan itu pada awal milenium baru. Bertemu di babak grup gelaran 2000, Thailand mengemas skor 4-1 atas rivalnya dan mengangkat trofi di akhir kejuaraan setelah menumpas Indonesia dengan hasil yang sama.

Dua tahun kemudian persaingan antara dua negara ini semakin intens. Thailand tetap mampu merajai ajang tersebut setelah memenangi adu penalti di hadapan publik Tanah Air. Indonesia kembali mereka depak dari persaingan di tahun 2008 pada babak semi-final.

Empat tahun lalu, tim Indonesia yang diperkuat pemain-pemain naturalisasi mampu tampil perkasa dengan mengemas sembilan poin yang tersedia di babak grup, termasuk mengalahkan Thailand dan Malaysia untuk kemudian melaju jauh hingga partai puncak. Akan tetapi, kejayaan memang belum saatnya menjadi milik Indonesia karena di akhir penyelenggaraan mereka harus mengakui keunggulan Harimau Malaya dan kalah dengan kepala tegak.

//

>

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.