FOKUS: Trio Calon Bintang Swedia Yang Bersinar Di Eredivisie Belanda Musim Ini

Perkenalkan Sam Larsson, Simon Thern, dan Simon Tibbling, yang tampil mencuri perhatian di Eredivisie Belanda musim ini.

OLEH AGUNG HARSYA Ikuti @agungharsya di twitter

Abba, Ikea, dan Nobel. Barangkali itu tiga hal yang langsung terlintas dalam benak Anda jika menyebutkan Swedia. Atau, jika berkaitan dengan kamus referensi sepakbola, tiga hal itu menjadi: Zlatan Ibrahimovic, Henrik Larsson, dan Tomas Brolin. Kini, lengkapi kamus Anda dengan tiga nama calon bintang baru: Sam Larsson, Simon Thern, dan Simon Tibbling.

Dalam benak Anda, barangkali Swedia bukanlah negara sepakbola. Padahal, negeri Skandinavia ini pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia 1958 serta menjadi runner-up dan peringkat ketiga Piala Dunia masing-masing sekali. Swedia tidak terlalu sering memunculkan bintang berkelas dunia, tetapi di balik itu ternyata mereka membangun sepakbola dengan serius.

Swedia adalah negara dengan bentuk kerajaan yang menjalankan sistem pemerintahan parlementer. Mereka menerapkan kebijakan yang sosialis, artinya sistem kesejahteraan berupa pendidikan dan kesehatan dikelola dengan baik oleh pemerintah. Tidak terkecuali perhatian pada sepakbola.

Sepakbola dianggap sebagai sarana yang mampu menampung minat dan aspirasi pemuda Swedia apalagi karena cabang olahraga tersebut dimainkan hingga 1 juta penduduk atau sepuluh persen dari populasi. Pengembangan sepakbola akar rumput dimulai dengan pembentukan akademi di seluruh municipality (sistem pemerintahan semacam dewan kota).

Akademi didanai dan didukung penuh oleh pemerintahan lokal, termasuk pembangunan fasilitas. Kepentingan anak didahulukan dan setiap anak berhak mendapat latihan sepakbola tanpa memandang ras atau gender. Tujuannya, agar banyak anak dan remaja yang tertarik menekuni sepakbola sehingga secara tidak langsung menunjang pula angka kesehatan masyarakat.

Pengembangan usia dini ini tentu tidak meninggalkan peran asosiasi sepakbola Swedia (SvFF). Program pelatihan sepakbola Swedia diklaim menjadi yang paling lama dan paling sistematis dilakukan di antara cabang olahraga lain di negara tersebut. Program pengembangan usia dini asosiasi SvFF, seperti negara maju lain, terbagi ke dalam beberapa jenjang kelompok umur.

Mereka juga menerapkan program pelatihan elit bagi bakat-bakat terbaik di kelompok umur masing-masing. Usia yang dianggap menjadi penentu apakah seorang anak layak atau tidak menjadi pesepakbola adalah 13 tahun. Namun, muncul pula perdebatan apakah program elit ini bermanfaat bagi perkembangan anak karena pemain seperti Ibrahimovic atau Larsson muncul di luar program ini.

Ini yang kerap menjadi pertanyaan mengusik bagi para pegiat pengembangan sepakbola usia dini: mana yang lebih penting, apakah pengembangan bakat atau pengembangan pemain?

Di jenjang yang lebih tinggi, para pemain muda berbakat biasanya ditampung di sejumlah klub profesional. Tidak hanya klub elit seperti IFK Gothenburg, Malmo FF, atau AIK Solna saja yang memiliki akademi mumpuni, tapi juga klub-klub lain di seantero Swedia. Sayangnya, sepakbola Swedia tidak begitu kompetitif sehingga biasanya para calon bintang memilih untuk melanjutkan karier di luar negeri.

Pilihan berkiprah ke Inggris biasanya dianggap terlalu riskan, sehingga kompetisi seperti Eredivisie Belanda menjadi alternatif. Selain melirik bakat dalam negeri, negara Skandinavia sudah lama menjadi tujuan melancong para pemantau bakat Ajax Amsterdam, PSV Eindhoven, atau Feyenoord Rotterdam, misalnya. Klub lain di wilayah utara Belanda seperti SC Heerenveen dan FC Groningen juga gemar mendatangkan pemain Skandinavia.

Di kedua klub yang disebut terakhir itulah muncul tiga pemain yang menjadi bahan perbincangan menarik para pengamat Eredivisie musim ini.

Di antara tiga pemain lain yang dibahas dalam artikel ini, Larsson yang sedang paling sering dibicarakan. Pemain dan penggemar Heerenveen menjulukinya "Samba Sam". Tidak salah jika melihat kelihaiannya menggiring bola serta melakukan trik sebagai penyerang sayap.

Larsson, 21 tahun, menekuni sepakbola di klub divisi rendah, IK Zenith, yang terletak di kawasan municipality Gothenburg. Kilaunya segera ditangkap mata pengamat bakat IFK Gothenburg. Di salah satu klub top Swedia ini pula Larsson memulai debut pada 2012 atau saat berusia 19 tahun. Tiga musim dilaluinya dan awal musim ini Larsson menerima pinangan Heerenveen.

Larsson sudah mengukir lima gol dan tiga assist dalam 13 penampilan di Eredivisie musim ini. Dia juga mencatat rekor dribel tertinggi di antara pemain Heerenveen lain dan umpan kunci terbanyak kedua setelah Joey van den Berg. Tak pelak, Larsson menjadi pemain andalan timnya.

"Pemain berbakat, penampilannya memanjakan mata," puji pelatih Dwight Lodeweges usai mengalahkan PEC Zwolle 4-0 pekan lalu.

Larsson senang melanjutkan karier di Heerenveen. Dia makin betah berada di kawasan Friesland setelah enam bulan bergabung. Ada pula aspek dari permainannya yang hendak diperbaiki.

"Saya masih meningkatkan kemampuan mencetak gol. Saya mesti melakukannya. Saya masih ceroboh dalam memanfaatkan peluang, tidak akurat," ungkapnya.

Pemain kedua asal Swedia yang tampil gemilang untuk Heerenveen musim ini adalah Thern. Perannya sebagai dinamo lini tengah tim. Thern menjalankan tugas sebagai gelandang box-to-box sesuai dengan tuntutan sepakbola modern.

Jika Anda tidak asing dengan nama belakangnya, Anda tidak salah. Dia adalah putra Jonas Thern, eks gelandang AS Roma dan timnas Swedia. Seperti sang ayah, Simon menekuni sepakbola di IFK Varnamo, klub divisi satu Swedia, sebelum hijrah ke Helsingborgs dan Malmo. Thern junior bergabung ke Heerenveen awal 2015 dan sudah mencetak satu gol dalam lima penampilan.

Adaptasi Thern dengan sepakbola Belanda terbilang cepat. Tidak heran karena dia punya sejumlah rekan senegara di Heerenveen. Dari segi permainan pun Thern tidak menemui kesulitan berarti.

"Kalau Anda lihat tipe permainan saya, sebagai pemain saya lebih 'Belanda' ketimbang 'Swedia'," tukas gelandang 22 tahun ini.

Orang-orang memandang penampilannya seperti mantan pemain mereka yang kini memperkuat Southampton, Filip Djuricic. Ditambah dengan kepindahan Daley Sinkgraven ke Ajax Amsterdam, kesempatan bermain Thern, serta berkembang, bakal lebih banyak.

Simon kedua dalam artikel ini adalah Simon Tibbling, gelandang yang berpotensi menjadi metronom. Tibbling berasal dari akademi klub divisi satu Brommapojkarna yang terkenal di Swedia. Klub tersebut terbentuk dari gabungan lebih dari 200 tim di wilayahnya dan memiliki lebih dari 3.000 tim. Keberhasilan Brommapojkarna menembus divisi teratas sepakbola Swedia beberapa tahun lalu menjadi perbincangan hangat di sana.

Tibbling kemudian memulai karier profesional bersama IF Djurgardens sebelum disambar Groningen awal 2015. Tidak butuh waktu lama bagi Tibbling untuk menyuguhkan potensi. Pemain 20 tahun ini menjadi nafas lini tengah tim dan sudah tampil sebanyak lima kali tanpa tergantikan.

Sebagai metronom, kemampuan Tibbling tentu diukur dari operan yang dilakukan. Dia mencatat rata-rata umpan terbanyak di antara pemain Groningen lain, dengan tingkat akurasi yang terbaik. Catatan tersebut termasuk yang terbaik di antara seluruh pemain Eredivisie yang telah tampil minimum lima kali musim ini.

Postur Tibbling seperti tidak meyakinkan sebagai pesepakbola. Wajahnya polos bak remaja usia sekolah, dengan paras mirip Tomas Brolin, dan postur tubuhnya gempal. Namun, pelatih dan pemain Groningen memuji penampilannya dalam latihan dan pertandingan. Fans Groningen pun ikut terkejut ketika menyaksikan Tibbling memulai debut melawan Ajax, tiga pekan lalu.

"Target saya adalah menjadi pemain sebaik mungkin. Groningen merupakan langkah berikutnya yang tepat. Belanda negara yang baik bagi pemain untuk berkembang. Banyak pemain Swedia bermain di sini, seperti Zlatan Ibrahimovic, Henrik Larsson, Rasmus Elm, dan Marcus Allback. Saya senang dan bangga bermain untuk Groningen. Impian saya jadi nyata dan saya ingin menikmatinya setiap menit," tukas Tibbling.

Perkembangan keduanya masih panjang. Jika ingin menunggu bukti, mungkin kita semua dapat menanti Kejuaraan Eropa U-21 pertengahan tahun ini. Larsson, Thern, dan Tibbling dapat menjadi tulang punggung Swedia di kejuaraan junior itu. Dari sana, siapa tahu karier mereka akan melonjak lebih tinggi.

addCustomPlayer('u2wjt2vbhosf1cz4captouqjq', '', '', 620, 540, 'perfu2wjt2vbhosf1cz4captouqjq', 'eplayer4', {age:1407083473877});

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics