Francis Coquelin, Pembawa Sial Bagi Arsenal

Mungkin tidaklah bijak untuk menumpahkan kesalahan pada satu pemain, tapi statistik menunjukkan bahwa Coquelin merupakan pembawa sial untuk Arsenal musim ini.

Mungkin tidak ada yang menyangka Francis Coquelin bakal tampil impresif bersama Arsenal musim lalu. Menghidupi peran sebagai gelandang bertahan, pemain asal Prancis itu kerap disandingkan dengan N’Golo Kante yang dominan bersama Leicester City. Arsene Wenger selalu mengandalkannya dan terbukti Coquelin punya naluri serta greget untuk merusak alur permainan lawan.

Rentetan penampilan gemilang musim lalu, sayangnya, harus diputus oleh cedera lutut yang dialami Coquelin. The Gunners kehilangan momentum dan rekor tujuh laga tanpa kalah harus berakhir seiring Coquelin ditandu keluar lapangan. Sang gelandang terpaksa menepi selama dua bulan di tengah musim.  Mungkin, kisah Leicester City takkan terwujud jika Coquelin bugar 100 persen saat itu.

Dengan tolok ukur musim lalu, tentu fans Arsenal berharap lebih pada Coquelin musim ini. Apalagi kehadirannya bakal dilengkapi oleh Granit Xhaka, gelandang berbakat Swiss, yang datang dari Bundesliga.  Adapun statistik menunjukkan hal yang kejam. Secara personal, Coquelin memang mengalami peningkatan performa – namun Arsenal adalah tim yang jauh lebih baik tanpa kehadirannya.

Dalam 25 laga yang dimainkan Coquelin di semua kompetisi, Arsenal hanya meraih sepuluh kemenangan dan imbang tujuh kali. Sementara itu, Gunners meraih catatan kemenangan 100 persen (dalam 14 pertandingan) ketika Coquelin tidak bermain.

Coquelin

Ketika bermain tanpa Coquelin, Arsenal justru meraih rekor kemenangan 100 persen.

Perbandingan ini tidak sepenuhnya adil. Banyak pertandingan yang tidak dimainkan oleh Coquelin adalah laga melawan klub kecil, tapi poin utamanya adalah Coquelin tidak bertumbuh sesuai bayangan Wenger. Rata-rata tekelnya terbilang stabil dalam dua tahun terakhir dan kerja kerasnya masih terlihat dari jarak lari yang ia tempuh. Kendati begitu, kemampuannya dalam memotong bola (intersepsi) mengalami penurunan drastis.

Di 2014/15, ia mencatatkan 3,7 intersepsi per laga, turun ke 3,0 pada musim berikutnya, lalu hanya mencapai kisaran 2,4 di musim ini. Rata-rata itu memang masih berada pada tahap yang bisa dipuji di Liga Primer Inggris. Namun terlepas dari angka tersebut, Coquelin mengalami penurunan yang signifikan. Turunnya rerata intersepsi seolah menyampaikan bahwa kemampuannya membaca permainan mengalami penurunan, atau mungkin ia sudah kehilangan kepercayaan diri dan akurasi untuk memotong serangan lawan.

Hal ini terlihat jelas ketika Arsenal dibabat 5-1 oleh Bayern Munich. Dalam laga kontra Bayern, Coquelin terlihat salah mengambil posisi dalam mengawal pergerakan Arjen Robben. Sudah jelas Robbern memiliki keunggulan di kaki kiri, tapi Coquelin justru mengawal sisi kanannya. Alhasil, sang winger Belanda mendapat ruang lebar untuk menembak dengan kaki kirinya dan mencetak gol di menit ke-11.

Pada kekalahan 3-1 melawan Liverpool, penurunan Coquelin lebih tampak dalam pemahaman ruang. Bintang Prancis itu tidak bisa sepenuhnya disalahkan dalam proses terciptanya gol pembuka Liverpool, tapi seharusnya bertanggung jawab dalam gol kedua yang dicetak Sadio Mane.

Pada saat Roberto Firmino menyadari pergerakan Mane, Coquelin tengah berdiri di antaranya. Namun bukannya berlari dan menutup ruang atau memotong umpan, Coquelin justru berjalan pelan sehingga umpan Firmino sampai ke kaki Mane tanpa halangan berarti. Mutlak, gol kedua itu menghantam mental The Gunners. Arsene Wenger yang menyadari minimnya peran Coquelin pun langsung menariknya keluar setelah jeda turun minum.

Mungkin tidaklah bijak menumpahkan hasil buruk Arsenal sepenuhnya kepada Coquelin. Sang gelandang memang mengalami penurunan, tapi perlu diakui dirinya bermain lebih efektif ketika Santi Cazorla ada di lapangan. Ketika Coquelin dan Cazorla bermain bersama, musim lalu The Gunners meraih 59 persen kemenangan. Musim sebelumnya bahkan mencapai 73 persen.

Adapun melihat statistik kemenangan yang kejam itu – ya, kejam karena statistik jarang berbohong – mungkin Wenger perlu memikirkan ulang peran Coquelin. Gelandang bertahan Prancis itu terbukti jadi jimat pembawa sial untuk Le Professor. Apalagi jelang laga kontra Bayern Munich, mungkin Wenger perlu mencadangkannya demi kemaslahatan Arsenal.