Geliat & Kreativitas Apparel Lokal Merancang Jersey Terbaik

Tiga klub Indonesia berhasil menembus sepuluh besar jersey terbaik musim ini. Kabar menggembirakan untuk industri apparel lokal.


OLEH    SANDY MARIATNA     Ikuti di Twitter


Lupakan Adidas, Nike, atau Puma yang menjadi pemain dominan dalam bisnis apparel di sepakbola Eropa dan dunia. Di kancah sepakbola Indonesia, merek-merek tenar tersebut justru tidak ada gaungnya.

Nike memang masih menjadi sponsor timnas Indonesia, namun jika membicarakan klub-klub lokal, apparel buatan dalam negeri adalah rajanya. Mari berkenalan dengan MBB Apparel, Specs, League, Salvo, Superior, Sportama, DJ Sport, Sembada, Junior Sport, Calci, Reds, dan masih banyak yang lain.

Faktanya, dari 18 klub peserta Liga 1 2017 hanya ada lima klub yang memakai apparel luar negeri, yakni Madura United (Mizuno), PSM Makassar (Kelme), Semen Padang (Mizuno), Mitra Kukar (Joma), dan Persela (Lotto). Sementara sisanya dibesut oleh perusahaan apparel lokal.

Jersey yang mereka produksi pun tidak sembarang bikin. Dalam 100 Jersey Terbaik 2017/18 yang dirilis Goal Indonesia baru-baru ini, terdapat sembilan jersey klub Indonesia yang masuk dalam daftar itu dan semuanya merupakan buatan apparel lokal. Bahkan, tiga jersey lokal berhasil nyempil di sepuluh besar: PSS Sleman (home), Persiba Bantul (away), dan Persija Jakarta (third).

“Terima kasih kepada Goal. Ini adalah bentuk apresiasi terhadap pelaku kreasi jersey, khususnya apparel pinggiran semacam Reds yang menangani tim-tim daerah. Tentu sangat menyenangkan ketika jersey kami masuk nominasi Jersey Terbaik Goal di musim 2014/15, lalu masuk peringkat ke-12 dan ketiga di musim 2016/17, serta ketujuh di musim ini,” kata Dwi Mei Sulistya, Creative Director Reds Wearmerch.

Reds memang sukses mencuri perhatian kami dalam beberapa tahun terakhir karena konsisten merancang jersey Persiba dengan desain unik. Di musim 2017, Reds memanfaatkan momen ulang tahun Persiba yang ke-50 untuk membuat jersey spesial. Jersey away Persiba terbilang yang paling memikat karena menampilkan motif denim dengan perpaduan warna biru tua dan emas. “Motif denim ini menjadi yang pertama di Indonesia,” ujar Dwi.

Saking bagusnya, Classic Football Shirts -- salah satu website kolektor jersey terbesar di Britania Raya -- turut memajang jersey edisi 50 tahun Persiba ini ke dalam etalase mereka. “Jersey home maupun away Persiba banyak diincar kolektor jersey dari Wales, Nottingham, Birmingham,” ungkap Dwi. Tidak mengejutkan jika jersey ini mendapat suara tertinggi dalam polling pembaca untuk nominasi 100 Jersey Terbaik 2017/18.

Namun, jangan membayangkan Reds memiliki pabrik besar dan memproduksi jersey ratusan potong per hari. Berdiri pada 2009, Reds masih tergolong industri rumahan dengan jumlah karyawan yang bisa dihitung dengan jari. “Dalam beberapa kesempatan, kami juga memanfaatkan keterampilan warga lokal,” ungkap Dwi.

Dengan semangat guyub ini, jersey buatan Reds ini menjadi salah satu sumber pemasukan terbesar Persiba. Dwi menerangkan, share profit untuk Persiba melalui jersey justru lebih besar dari nilai sponsor utama. “Kami juga memberlakukan nameset fee untuk mengapresiasi pemain. Artinya, pemain yang dipesan namanya di jersey akan mendapatkan komisi,” terangnya.

Reds Merchwear

Sayang, prestasi Persiba jeblok di Liga 2 2017 sehingga tim berjuluk Laskar Sultan Agung itu terpaksa terdegradasi ke Liga 3. Reds, yang sejak 2012 ditunjuk menjadi apparel resmi Persiba, mengaku siap untuk kembali membantu tim dalam masa-masa sulit ini. “Keterpurukan Persiba sudah terlihat sejak tak ada lagi pihak yang intens menangani tim ini menyusul dualisme kompetisi. Tentu saja kami saja juga berharap tim ini semakin membaik,” lanjut Dwi.

Dari ibu kota, jersey third Persija Jakarta besutan apparel lokal League juga tampil menonjol. Dari jauh jersey elegan ini terlihat hanya berwarna hitam polos, namun begitu disimak dari dekat, terlihat jelas detail indah berupa watermark ikon-ikon khas Jakarta yang membujur vertikal di bagian dada. Terdapat pula garis tiga warna di ujung lengan kiri untuk mewakili warna jersey Persija di musim 2017.

“Inspirasi jersey third Persija ini datang dari jersey away Liverpool 2009/10,” beber Fajar Ramadhan selaku Apparel Designer League. Fajar menceritakan, jersey hitam ini awalnya memiliki detail berwarna emas, namun diubah menjadi putih untuk mengejar kontras visual di televisi.

“Jersey ketiga juga bisa dibilang more than just a football match kit. Contohnya, fans Persija bisa mengenakan jersey ini untuk kepentingan kasual. Tidak melulu yang berhubungan dengan pertandingan dan stadion,” imbuh Fajar, yang di musim ini mengaku menggemari jersey third Barito Putera dan jersey third PSG.

Jersey Persija Third 2017

Soal bahan dan teknologi, jersey apparel lokal tidak kalah dengan jersey buatan luar. League, misalnya, memiliki teknologi bernama Quick Dry yang membuat jersey lebih cepat kering, anti-odor (anti-bau), serta breathable. “Jersey jenis ini kami sebut authentic, yang khusus dikenakan pemain dan berbobot lebih ringan. Kami jual Rp499 ribu,” ungkap Fajar. League juga memiliki jersey tipe kedua atau disebut replika, yang diperuntukkan untuk suporter dengan harga lebih murah, yakni Rp299 ribu.

League dan Reds hanya sedikit sampel dari apparel lokal yang menunjukkan keseriusan dalam merancang jersey. Kreativitas mereka adalah cermin dukungan penuh dari masyarakat Indonesia terhadap keberlangsungan sepakbola nasional yang hingga kini masih mencari titik terang.

Ke depannya, Fajar berharap apparel lokal semakin berkembang dan terus memproduksi jersey-jersey bagus. “Cuma, jangan melulu main detail di sablon sublimasi. Lama-lama orang akan bosan. Jika memungkinkan, cobalah mulai untuk melakukan kombinasi bahan dalam satu model jersey,” ujarnya memberi saran.

Kita patut bersyukur menyaksikan geliat industri apparel nasional ini. Melalui hal sederhana, yakni jersey sepakbola, mereka bukan cuma membuat fans gembira namun juga berpotensi menciptakan pemerataan ekonomi. “Kami tidak ingin terlalu muluk-muluk. Ketika mendapat kesempatan untuk terus berkarya, ini sudah merupakan suatu kebanggaan,” pungkas Dwi.