Gianluigi Donnarumma, Perisai Masa Depan AC Milan

Gianluigi Donnarumma, sosok kiper berusia 16 tahun yang siap jadi tembok baja penutup jala AC Milan di masa depan.

Menilik fenomenanya, kebanyakan pesepakbola sukses mulai mencuat ketika masih remaja entah itu saat berusia 16, 17, hingga 19 tahun. Tidak semua memang, tapi kita bisa mengambil contoh dari sosok-sosok terkemuka mulai dari Pele, Diego Maradona, Paolo Maldini, Gareth Bale, hingga alien macam Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.

Kini muncul satu remaja yang siap mengumandangkan kebesarannya di masa depan. Asalnya dari Italia dan merupakan produk asli akademi AC Milan, namanya Gianluigi Donnarumma. Sebagian dari Anda mungkin familiar dengan nama ini? Ya, dia adalah adik dari Antonio Donnarumma mantan kiper Genoa yang juga lulusan akademi Il Diavolo Rosso.

Berposisi sama dengan sang kakak, tapi Donnarumma disebut-sebut sebagai fenomena baru di jagat sepakbola Negeri Pizza. Usianya baru 16 tahun namun sudah memiliki tinggi ideal seorang kiper sepakbola level atas, dengan mencapai 197 centimeter!

Tentunya tak hanya postur, karena anggota timnas Italia U-17 ini juga punya kemampuan istimewa. Hal itu sudah dibuktikannya lewat performa heroik dalam beberapa laga uji coba bersama tim senior Milan. Mulai dari tangkisan penaltinya kala hadapi Real Madrid hingga respons luar biasanya saat meredam gempuran FC Internazionale, di Trofeo Berlusconi tengah pekan lalu.

Donnarumma memulai petualangannya di dunia sepakbola pasca ia merayakan kejayaan Milan di Athena, yang menjuarai Liga Champions musim 2006/07. Ya, saat itu usianya baru menginjak delapan tahun dan siapa sangka jika kini ia rutin mengisi bangku cadangan Si Setan Merah.

Performa mengagumkan Donnarumma di level primavera Milan yang jadi penyebabnya. Ia selalu menonjol ketika berkompetisi di Primavera B, Viareggio Cup, hingga Coppa Primavera. Wajar pula jika dirinya kemudian rutin membela timnas Italia U-17, dengan catatan empat clean sheets dari sepuluh caps.

Sebuah kejutan kemudian dilakukan pada 22 Februari lalu saat pelatih Milan kala itu, Filippo Inzaghi, memanggil Donnarumma ke skuat utama untuk hadapi Cesena di giornata 24 Serie A Italia 2014/15. Memang ia tak dimainkan, tapi keputusan tersebut jelas menandakan pengakuan klub atas kualitas bocah 16 tahun itu.

Donnaruma lantas rutin berlatih bersama tim utama dan dimasukkan skuat pada tujuh giornata lanjutan hingga akhirnya mendapat kontrak selama tiga tahun per 1 Juli lalu.

Pembuktian lebih nyata berlanjut dalam persiapan Milan menyambut musim kompetisi 2015/16. Donnaruma sukses menyita perhatian pelatih baru, Sinisa Mihajlovic, yang kemudian tak sungkan menurunkannya di serangkaian partai uji coba pra musim.

Mulai dari duel hadapi Olympique Lyon dan yang paling menyita perhatian saat dirinya tampil gemilang hadapi Real Madrid dengan menepis penalti Toni Kroos. Meski pada akhirnya Donnarumma jadi penyebab kekalahan, performanya tetap disanjung hingga menarik minat klub-klub besar macam Chelsea dan Paris Saint-Germain. Belakangan agen super, Mino Riaola, juga menyatakan minat untuk mengurus kariernya.

Namun Donnarumma enggan menanggapi berbagai tawaran yang datang, karena impiannya adalah jadi legenda di Milan. "Milan adalah tim yang selamanya ada di hati saya. Saya merah-hitam sampai mati dan mimpi saya kini [untuk jadi pemain Milan] sudah jadi kenyataan. Suatu hari nanti saya akan jadi La Bandiera I Rossonerri!

Mendapat rutinitas duduk di bangku cadangan Milan dalam delapan giornata Serie A 2015/16 yang sudah digelar, cahaya lebih terang kini hadir dengan kemungkinannya melakoni debut profesional akhir pekan nanti. Kepercayaan Mihajlovic dan performa briliannya pada Trofeo Berlusconi akhir pekan lalu, membuat Donnarumma berpotensi besar kembali dipercaya saat hadapi Sassuolo esok.

Harus diakui bahwa setelah kepergian Dida, Milan tak pernah lagi punya kiper terpercaya. Il Diavolo mengalami krisis di sektor tersebut. Kiper utama mereka musim ini, Diego Lopez, tak pernah tampil isitimewa layaknya dahulu membela Madrid. Sementara kiper kedua, Christian Abbiati, sudah habis dan memang tak pernah mencapai puncak karier bersama Milan.

Donnarumma yang menjabat sebagai kiper ketiga tentu jadi opsi terakhir dalam situasi tersebut, terlebih Milan tak pernah sekalipun clean sheets musim ini. Dengan potensi dan penampilannya yang tak pernah mengecewakan di partai tak resmi, tak salah jika Mihajlovic memberikannya debut melawan Sassuolo nanti.

Dilihat dari gaya bermainnya, postur menjulang Donnarumma amat meningkatkan kemampuannya dalam menghadang bola-bola atas dan menjaga area kotak penalti. Namun keunggulan krusialnya justru terletak pada kehandalannya menangani tembakan-tembakan menelusur tanah, yang biasanya jadi titik lemah kiper bertubuh raksasa. Satu hal yang patut dikritik darinya ada dalam pengambilan keputusan, di mana ia kerap salah antara membuang bola dan memberi passing.

Namun kekurangan itu akan sanggup teratasi dengan memberinya jam terbang bermain. Kini tinggal bagaimana Milan bisa percaya dan memberi kesempatan lebih untuk Donnaruma. Apakah ia akan melejit di usia belia seperti idolanya, Gianluigi Buffon, atau bernasib sama seperti kebanyakan youngster Milan yang dipinjamkan ke klub berkasta lebih rendah tanpa pernah kembali.

 

Topics