Goal Retro: Memori Kelam Jepang Di Doha

Hasil imbang melawan Irak di partai akhir kualifikasi harus mengubur impian Jepang untuk tampil di Piala Dunia untuk kali pertama dalam sejarah.


OLEH    ERIC NOVEANTO      Ikuti di twitter


Jepang punya kesempatan besar mencetak sejarah lolos ke putaran final Piala Dunia 1994 untuk pertama kalinya dalam sejarah engan saat itu punya performa bagus selama mengikuti babak kualifikasi zona Asia.

Gairah pasukan Samurai Biru cukup besar pada wakti itu, mengingat atmosfer sepakbola mereka tengah meningkat selepas pembentukan liga profesional pertama mereka pada 1991 dengan nama J.League.

Suasana serba pertama kian terasa dengan tim dibesut pelatih asing pertama asal Belanda, Hans Ooft. Skuat yang saat itu bermaterikan generasi Kazuyoshi Miura, Kenta Hasegawa hingga pemain natusalisasi asal Brasil, Ruy Ramos bermain impresif sejak awal dan mampu menembus fase akhir kualifikasi.

SIMAK JUGA - Kazuyoshi Miura, Samurai Rasa Brasil Yang Tak Termakan Usia

Harapan publik Jepang untuk melihat tim kesayangannya untuk tampil di putaran final yang berlangsung di Amerika Serikat semakin memuncak setelah melewati empat laga fase akhir kualifikasi dan mengetahui King Kazu dan kolega sanggup menduduki posisi puncak.

Namun sayangnya, sebuah pertandingan yang digelar di Doha, Qatar, tempat seluruh fase akhir kualifikasi dimainkan, mengubah nasib mereka. Partai melawan Irak menjadi memori kelam bagi Jepang yang gagal meraih kemenangan hingga harus melupakan mimpi untuk tampil di Piala Dunia.

Agony of Doha - Japan 1994

Dalam laga yang berlangsung di Al Ahly Stadium pada 28 Oktober 1993 tersebut, Jepang sejatinya mampu tancap gas dengan unggul cepat saat permainan baru berjalan lima menit melalui gol Kazu Miura. Namun mereka dipaksa bekerja lebih keras untuk kembali meraih keunggulan melalui gol Masashi Nakayama pada menit ke-80 setelah sebelumnya Irak menyamakan skor lewat Radhi Shenaishil di awal babak kedua.

Mimpi buruk pun datang dalam masa tambahan waktu paruh kedua, sebuah gol telat yang dicetak Jaffar Omran Salman bagi Irak membuat laga harus ditutup dengan skor akhir 2-2. Raihan tiga poin Jepang yang sudah di depan mata sirna dan tiket menuju babak utama Piala Dunia pun hanya tinggal angan-angan.

SIMAK JUGA - Indonesia Tak Perlu Malu Belajar Dari Jepang

Kegagalan Jepang meraih poin penuh dimanfaatkan Arab Saudi yang memetik kemenangan 4-3 atas Iran serta Korea Selatan yang menang 3-0 atas Korea Utara, keduanya adalah pesaing terdekat Jepang dan dengan kemenangan tersebut mereka menggusur posisi Jepang turun ke urutan ketiga klasemen akhir. Keduanya berhak menggenggam tiket lolos.

Yang lebih menyakitkan, tersingkirnya Jepang hanya berjarak hitungan selisih gol saja dari rival utama mereka, Korea Selatan yang sebenarnya sama-sama mengoleksi enam angka. Kegagalan ini pun terkenal dengan nama Dōha no higeki bagi Jepang, yang berarti penderitaan mendalam di Doha. Sementara Korea Selatan menganggap memori kelam sang rival mereka sebagai keajaiban bagi mereka.

Namun kegagalan itu tak diratapi mendalam oleh segenap insan sebakbola Jepang. Empat tahun berselang, usaha keras pasukan Samurai Biru akhirnya terbayar lunas dengan sukses menembus putaran final Piala Dunia 1998 di Prancis. Penantian panjang pun akhirnya berakhir.

 

 

Topics