GoalPedia: Mengulik Resep Pembinaan Pemain Muda Jerman

Mayoritas liga elite pelit memberikan kesempatan kepada talenta belia, tetapi Bundesliga justru ibarat surga untuk pemain-pemain muda, dan ini berimbas positif bagi tim nasional.


OLEH   DEDE SUGITA     Ikuti di twitter


“Berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Kutipan tenar dari presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno, di atas berlaku nyaris universal di segala bidang, termasuk sepakbola.

Barisan amunisi muda berkualitas menjanjikan hadirnya prestasi. Segar, bertenaga, lapar gelar, dan berpikiran terbuka untuk menerima ide-ide baru yang ditanamkan pelatih merupakan keunggulan para youngster. Dikombinasikan dengan pengalaman, mereka dapat menjadi  kekuatan dahsyat.

Di sinilah letak permasalahan umum buat pemain-pemain muda. Sebagian dari mereka layu sebelum berkembang lantaran tak memiliki cukup kesempatan untuk menunjukkan potensi, dan minim pengalaman beraksi di level top.

KLASEMEN BUNDESLIGA JERMAN

Mayoritas liga elite pelit memberikan kans kepada talenta belia. Bundesliga adalah salah satu pengecualian. Bahkan, kompetisi kasta teratas Jerman itu berhak mengklaim diri sebagai surga bagi pemain-pemain muda, dan ini berimbas positif bagi skuat Die Nationalmannschaft.

Belum habis masa prima generasi Thomas Muller dan Mesut Ozil, sekarang telah bermunculan nama-nama anyar nan paten yang siap menjamin peralihan tongkat estafet bakal berlangsung mulus.

Sebut saja “3J” yang memperkuat tiga klub top berbeda: Joshua Kimmich (Bayern Munich, 22 tahun), Julian Weigl (Borussia Dortmund, 21), dan Julian Brandt (Bayer Leverkusen, 20). Tidak kalah cemerlang adalah Max Meyer (Schalke 04, 21), Mahmoud Dahoud (Borussia Monchengladbach, 21), Niklas Sule (Hoffenheim, 21), sampai Timo Werner (RB Leipzig, 20), dan masih banyak nama-nama potensial lain yang siap mengguncang dunia.

'GER ONLY / NO GALLERY* Joshua Kimmich FC Bayern Rostov 20160913

Deretan pemain ini bukanlah youngster yang cuma sesekali mendapatkan menit bermain, melainkan langganan masuk susunan inti di klub masing-masing.

Kimmich, pemain multiposisi yang fasih berperan sebagai gelandang, full-back, maupun bek tengah, telah mengumpulkan 27 penampilan di semua ajang untuk Bayern di bawah komando Carlo Ancelotti musim ini, setelah pertama mencuat bersama Pep Guardiola pada kampanye lalu. Alumnus akademi VfB Stuttgart ini kini tampil jauh lebih produktif, sudah mengoleksi tujuh gol – empat di antaranya dicetak dalam empat partai beruntun di Bundesliga.

Sementara, satu tempat di lini tengah Dortmund terus digenggam erat Weigl, pemain binaan TSV 180 Munich, semenjak ia merebutnya musim kemarin. Pemain jangkar ini berlaga dalam 20 dari 21 partai liga yang sudah dilakoni Die Borussen musim ini, dan selalu tampil di enam laga fase grup Liga Champions.

Di Leverkusen Brandt yang merupakan didikan asli klub menorehkan catatan impresif. Tak sekali pun sang winger melewatkan pertandingan tim di kancah Bundesliga dan Liga Champions musim ini. Kepercayaan pelatih Roger Schmidt dibayar Brandt dengan mengontribusikan tiga gol plus enam buah assist.

Julian Brandt & Julian Weigl - Bayer Leverkusen vs Borussia Dortmund

Dengan bakat-bakat muda bertebaran di berbagai klub, bukan kejutan kalau Bundesliga merupakan kompetisi dengan usia rerata termuda di antara lima liga utama Eropa (25,5 tahun). Dalam hal ini, Bundesliga bahkan mengungguli Ligue 1 Prancis (25,9 tahun) yang juga kesohor sebagai liga yang “ramah” untuk youngster. Setelahnya, menyusul Serie A Italia (26,2), La Liga Spanyol (27) dan terakhir Liga Primer Inggris adalah liga dengan rerata usia paling tua. Rata-rata pemain di EPL berumur 27,3 tahun.

Keberhasilan Bundesliga menjadi seperti sekarang ini tidak diraih secara instan. Tidak ada rahasia khusus, tiada jalan pintas. Ini merupakan buah dari proses panjang dan berkelanjutan yang sudah dirintis sejak lebih dari satu setengah dekade lampau.

Sebagai salah satu negara adidaya sepakbola, Jerman pernah terlalu bersandar pada sejarah harum mereka, sebelum performa jeblok di Euro 2000 menyadarkan federasi (DFB) akan adanya kebutuhan mendesak untuk mereformasi sistem pembinaan bibit muda.

Pembenahan dilakukan menyeluruh, meliputi akademi pemain dan level grassroots, juga sektor kepelatihan, yang telah diulas sebelumnya di rubrik ini.

GFX Rerata Usia Bundesliga

Salah satu perubahan terbesar adalah keharusan bagi seluruh klub peserta Bundesliga dan Bundesliga 2 untuk mengoperasikan akademi pemain yang tersentralisasi sebagai bagian dari kesepakatan untuk memperoleh lisensi berpartisipasi di dua kasta teratas Jerman. Fokus klub dialihkan dari merekrut bakat-bakat potensial dari luar negeri jadi memproduksi talenta lokal.

Terobosan ini memakan biaya tidak sedikit. Sebagaimana tertuang di buku Das Reboot yang mengulas reformasi sepakbola Jerman, dalam dua tahun pertama bergulirnya era baru, 36 klub anggota dua divisi tertinggi menginvestasikan total €114 juta untuk program ini. Sementara DFB menanamkan bujet tahunan mencapai €14 juta guna memperbaiki infrastruktur mereka.

Stutzpunkt atau pusat pendidikan regional dibangun di 121 titik, kemudian meningkat menjadi 366. Dengan ini, sedikitnya 600 ribu talenta muda dapat terpantau paling tidak sekali oleh 1.300 pelatih DFB setiap tahunnya. Target idealnya adalah semua orang memiliki akses ke stutzpunkt dalam radius 25 km dari rumah, demi menjamin tak ada anak berbakat yang luput dari radar. Dialokasikan pula uang bensin untuk meringankan para orang tua mengantar anak mereka ke pusat pendidikan tersebut.

Tanpa program ini, mungkin metronom kelas dunia Toni Kroos tak akan pernah diketemukan. Maklum, ia berasal dari sebuah kawasan kecil di Mecklenburg-Vorpommern, berjarak 250 km dari Berlin.

Toni Kroos Mats Hummels Thomas Muller Ireland Germany European Championship 21062016

Langkah lain dari DFB adalah menggelar panggung kompetitif untuk jenjang junior. Pertama Bundesliga U-19, yang dibagi ke dalam tiga wilayah geografis, diluncurkan pada 2004, kemudian menyusul tiga tahun berselang kancah B-Junioren (U-17).

Perombakan ini mencakup pula transisi gaya bermain. Sepakbola textbook yang dahulu begitu kental dengan Tim Panser ditinggalkan. Die Mannschaft berganti rupa menjadi peraga sepakbola menyerang nan atraktif.

Secara bertahap, reformasi yang dilakukan Jerman menampakkan hasil. Setelah empat kali selalu menembus semi-final turnamen mayor sejak 2006, Jerman akhirnya menggapai puncak dengan menjuarai Piala Dunia 2014 di Brasil, trofi keempat mereka di kompetisi dan titel pertama sejak terakhir memenangi Euro 1996.

Germany World Cup 2014

Prestasi gemilang ini menjadi bukti nyata kesuksesan pembinaan pemain muda Jerman. Enam pemain dalam skuat Joachim Low di Brasil sebelumnya telah berkolaborasi di final Kejuaraan Eropa U-21 2009, saat mereka menumpas Inggris 4-0.

Manuel Neuer, Mats Hummels, Benedikt Howedes, Jerome Boateng, Sami Khedira, dan Mesut Ozil dapat digolongkan sebagai generasi emas pertama dari rezim baru Jerman. Angkatan berikutnya yang diwakili Kimmich, Weigl, dkk. siap menjaga kelanggengan era gemilang Die Nationalelf.