Gonzalo Higuain, Calon Pewaris Takhta Diego Maradona

Komparasi dengan sang dewa tak terelakkan seiring performa cemerlang Gonzalo Higuain yang memastikan Napoli kembali menguasai Capolista setelah seperempat abad!

Sudah terlalu lama Napoli merindukan Scudetto.

Terakhir kali Napoletani, sebutan untuk orang-orang Naples, mencumbu gelar juara Serie A Italia adalah seperempat abad lampau, tatkala sang dewa Diego Armando Maradona sedang jaya-jayanya.

Harapan akan usainya penantian panjang tersebut kini mulai merekah. Dipimpin Argentino lain, Gonzalo Higuain, I Partenopei mengambil alih tampuk Capolista dari Internazionale usai mengalahkan tim pimpinan Roberto Mancini itu 2-1 di San Paolo, Senin (30/11) malam.

Tembok kokoh La Beneamata, dengan sembilan clean sheet dalam 13 pekan pertama dan tidak kebobolan dalam empat laga beruntun sebelum bertamu ke San Paolo, runtuh saat berhadapan dengan Higuain.

Ia bahkan cuma butuh waktu 64 detik dari sepak mula untuk menggetarkan jala Samir Handanovic dengan tendangan kerasnya usai mengambil umpan dari Jose Callejon. Di babak kedua, lagi-lagi berasal dari assist sesama eks Real Madrid, Raul Albiol, Higuain menjaringkan gol keduanya.

Meski Inter, yang kekurangan pemain sejak akhir paruh pertama seturut pengusiran Yuto Nagatomo, mampu memberikan perlawanan gigih dan mengurangi defisit lewat Adem Ljajic, saat peluit panjang kebahagiaan menjadi milik anak-anak asuhan Maurizio Sarri.

Untuk pertama kalinya sejak 1990, ketika Maradona mempersembahkan Scudetto kedua, Napoli duduk manis di singgasana klasemen.

“Ini malam magis. Saya bahagia untuk orang-orang, untuk kami. Saya pikir ini pantas dan kami harus memaksimalkannya, karena sekarang kami pertama,” kata Higuain kepada Sky Sport Italia.

El Pipita sendiri mungkin akan tegas menolaknya, tetapi jelas komparasi dengan El Diego tak terelakkan seiring performa heroiknya mengangkat Napoli musim ini. Bicara skill, okelah dia inferior, tetapi kontribusinya untuk klub mulai mendekati sang legenda.

Beserta brace kontra Inter, berarti telah 12 gol dikoleksi Higuain di Serie A musim ini, hanya terpaut empat dari total gol Maradona saat finis sebagai topskor tim pada 1989/90.

Catatan lain yang tak kalah penting, aksi tadi malam menandai pertandingan kedelapan secara konsekutif Higuain mencetak gol di San Paolo. Hanya ada satu pemain lain Napoli yang sebelumnya pernah melakukan itu: Maradona!

“Higuain adalah pewaris saya,” demikian pengakuan langsung dari El Pibe de Oro sendiri kepada Corriere del Mezzogiorno beberapa waktu lalu. “Ia striker paling komplet yang dimiliki Argentina.”

Andil Sarri, eks bos Empoli yang datang menggantikan Rafa Benitez, tak bisa diabaikan dalam lesatan Higuain dan pasukan Gli Azzurri musim ini.

“Saya berbicara dengan sang pelatih di kamp latihan dan pertemuan tersebut mengubah saya, karena saya melihat seorang pria sejati yang mengatakan kepada semua orang apa yang perlu dikatakan, termasuk saya,” ungkap Pipita kepada Il Corriere della Sera.

“Anda tak harus terlalu cerdas untuk memahami ia memiliki peran menentukan dalam perkembangan saya. Sarri membuktikan dirinya rendah hati dengan semua orang. Ia juga mengatakan yang dipikirkannya dan bagi saya kejujuran adalah hal terpenting.”

“Anda mungkin tak menyukai yang dikatakannya, tetapi ia hanya akan mengatakannya untuk menjadikan Anda lebih baik.”

Terbukti, masukan konstruktif tetap diberikan Sarri bahkan setelah Higuain jadi pahlawan kemenangan melawan Inter.

“Kalau Higuain bisa membuat satu lagi langkah maju secara psikologis, maka ia bisa menjadi extra-terrestrial,” ucap pria asli Naples kelahiran 56 tahun silam itu usai laga semalam.

Ya, Higuain masih bisa lebih baik karena sejatinya ia mempunyai beberapa kans untuk melengkapi hat-trick ke gawang Handanovic, tapi masih adanya ruang untuk progres itulah yang justru membuat striker 27 tahun ini lebih menakutkan.

“Kami di puncak klasemen, di mana kami ingin berada, tapi musim masih panjang,” kata Higuain.

Tugas El Pipita kini adalah terus menyuguhkan level performa cemerlang dari pekan ke pekan hingga akhirnya menuntaskan kerinduan Napoletani akan Scudetto, sekaligus melegitimasi statusnya sebagai pewaris sejati El Diego.