Gonzalo Higuain, Kontroversi & Ambisi Juventus

Meski kontroversial, perekrutan Gonzalo Higuain menjadi wujud nyata ambisi besar Juventus untuk jadi penguasa Eropa.

Transfer dengan nilai fantastis yang dikemas dalam nuansa kontroversial itu akhirnya terjadi juga. Selasa (26/7), bomber yang digadang-gadang tifosi Napoli jadi calon legenda klub selanjutnya, Gonzalo Higuain, resmi hijrah ke rival abadi mereka, Juventus.

Nilai transfernya tak main-main, yakni sebesar €90 juta, yang menjadikan Higuain sebagai pemain berbanderol termahal ketiga di dunia. Selain itu gaji sang pemain di Turin disinyalir naik nyaris dua kali lipat dari yang didapatkannya di Napoli, dengan kini lewat nilai €32 juta terurai dalam kontrak empat musim.

Proses yang dilakukan Juve pun tergolong menjengkelkan bagi para pembencinya. Si Nyonya Tua melakukan pendekatan personal lebih dahulu pada Higuain, ketika sang pemain masih liburan Ibiza, Spanyol. Tes medis kemudian dilakukan secara rahasia di Madrid, seiring mereka yang telah meraih kesepakatan harga dengan Napoli.

Tak heran beberapa pihak kemudian mengecam proses transfer ini, salah satunya adalah legenda terbesar Napoli juga salah satu pesepakbola terbaik yang pernah ada, Diego Maradona. "Caranya pergi itu salah, karena apa yang Anda dapatkan di Naples takkan Anda temukan di tempat lain. Saya tidak suka melakukan tes medis diam-diam, tifosi Napoli tak pantas menerimanya!" kecam El Diego.

Kecaman lain juga datang dari kapten AS Roma yang sejak dahulu dikenal tak pernah menyukai Juve, Francesco Totti, yang menilai Higuai sebagai pemain mata duitan. “Lihatlah apa yang terjadi dengan Higuain, meninggalkan Napoli untuk Juve. Ini adalah musibah! Hari ini normal saja bagi pemain asing seperti dirinya pindah ke klub yang bisa menghasilkan lebih banyak uang. Ini adalah masalah mental,” sindir Er Pupone.

Tak salah memang bila menyebut transfer Higuain kontroversial. Sepanjang sejarah sepakbola, ikon klub yang pergi ke klub rival tak pernah bisa diterima untuk alasan moral. Mereka para “pengkhianat” dinilai tak punya peduli dengan cinta sejati yang sudah diberikan suporter klub lawasnya.

Tengok bagaimana kekisruhan besar terjadi di kota Firenze, Italia, ketika pujaan Fiorentina, Roberto Baggio, pergi ke Juve. Kemurkaan abadi publik Barcelona pada mantan kaptennya, Luis Figo, yang hijrah ke Real Madrid. Hingga yang terbaru tatkala hati suporter Borussia Dortmund tersayat habis, tatkala pemain kecintaannya, Mats Hummels, memilih pulang ke Bayern Munich.

Namun mari kita bijak dengan melihat sepakbola dari kacamata yang lebih besar. Melihat sepakbola sebagai ajang persaingan kompetitif, melihat sepakbola sebagai ladang bisnis yang besar. Ketika segalanya masih dalam koridor legalitas yang berlaku, maka semua aktivitas yang hadir di dalamnya wajib diterima. Kasus Higuain, tak lantas membuatnya dicap nihil moral atau menjadikan Juve sebagai“penjahat transfer”.

Keduanya memang saling membutuhkan dalam lingkup motivasi sepakbola. Higuain -- dengan kapasitasnya  -- butuh klub yang lebih besar ketimbang Napoli dan sanggup menggaransi gelar, tak hanya domestik tapi juga Eropa. Di sisi lain Juve butuh pemain sekelas El Pipita, yang bisa mengangkat kualitas skuat dengan siginifikan sebagai wujud nyata mereka menantang Eropa.

Selain itu Napoli juga tak bisa bertindak apapun, kecuali bujukan, ketika Juve muncul sebagai satu-satunya klub yang mau menebus buy-out clause Higuain. Mereka tentu tak boleh mencantumkan I Bianconeri sebagai tim yang “haram” membeli penyerang Argentina tersebut, karena kembali bahwa jual-beli pemain juga menyinggung urusan bisnis.

Satu hal lagi adalah bila motivasi utama Higuain hengkang dari Napoli memang uang, ia bisa saja merengek meminta pihak klub menjualnya ke Manchester United, Arsenal, bahkan berpetualang ke Tiongkok sekalipun, bukannya Juve yang “hanya” menggajinya €8 juta per musim. “Saya sama sekali tak berpikir bahwa keputusan Higuain pindah ke Juve adalah uang. Ia hanya ingin menang, bukan hanya di Italia, tapi juga Eropa,” ujar legenda Juve dan Italia, Paolo Rossi.

Seperti sudah disinggung, kehadiran Higuain bagaimanapun merupakan wujud nyata ambisi besar Juve untuk jadi penguasa Eropa. Sosoknya seakan jadi missing link dalam skuat Tim Hitam Putih, yang kesulitan kembali berjaya di Benua Biru dalam dua dekade terakhir.

Selepas keterpurukan di Calciopoli hingga sukses bangkit dengan raih lima Scudetto beruntun, Juve memang selalu dikenal dengan pertahanannya yang superkokoh, lewat Gianluigi Buffon dan trio BBC. Lini tengah mereka juga kerap disanjung dengan sinar pemain-pemain sekelas Andrea Pirlo, Arturo Vidal, hingga Paul Pogba.

Namun hal tersebut tak berlaku untuk sektor penyerangan. Selalu ada ketimpangan di sana, meski Juve sempat memiliki bomber tajam seperti Carlos Tevez dan kini Paulo Dybala. Setidaknya hal itu ditegaskan dengan tak pernah suksesnya striker La Vecchia Signora raih gelar Capocannoniere, sejak Alessandro Del Piero nyaris sedekade silam.

Seiring hengkangnya Alvaro Morata, pada bursa musim panas ini Juve lantas kerap dihubung-hubungkan dengan Romelu Lukaku, Michy Batshuayi, dan Edinson Cavani, untuk jadi bomber pembunuh barunya. Namun di lihat dari sisi manapun, Higuain yang akhirnya diakuisisi merupakan pilihan paling sempurna.

Pemain kelahiran Prancis itu tengah berada di puncak performa, dengan musim lalu raih gelar Capocannoniere lewat sumbangsih 36 gol, yang jadi rekor gol semusim tertinggi sepanjang sejarah Serie A Italia. Selain itu Higuain berada di usia emas, 28 tahun, memahami benar sepakbola Italia, dan punya pengalaman hebat di Eropa bersama klub sebesar Real Madrid.

“Dengan kekuatan finansial yang sekarang, Juve wajib membeli Higuain. Ia punya segala yang dibutuhkan klub untuk menantang Eropa dengan lebih nyata.  Jika saya masih jadi direktur olahraga Juve, saya takkan pikir panjang membelinya meski harus mengorbankan Pogba,” saran Luciano Moggi, mantan guru transfer Juve.

Manuver transfer yang dilakukan Juve pada bursa musim panas ini memang menakjubkan. Dibekali modal awal €100 juta, pemain-pemain sekaliber Miralem Pjanic, Daniel Alves, Medhi Benatia, Marko Pjaca, yang lantas disempurnakan oleh perekrutan Gonzalo Higuain, benar-benar membuat skuat La Vecchia Omcidi untuk musim depan menakutkan tak hanya di Italia tapi juga Eropa.

Pun hanya bila harus melepas Pogba yang begitu gencar diberitakan tinggal selangkah lagi bergabung ke Manchester United, guna menambal biaya transfer Higuain. Juve masih punya pemain tengah yang mumpuni untuk menggantikan peran Si Gurita Paul, layaknya Sami Khedira, Claudio Marchisio, Stefano Sturaro, hingga penggawa anyar berkualitas dalam diri Pjanic.

“Higuain adalah penyempurna skuat Juve. Ketika dia datang, mereka benar-benar jadi salah satu dari empat tim dengan skuat terbaik di Eropa. Pun halnya jika Pogba pergi. Lini tengah Juve hanya akan kehilangan sedikit kekuatan, tapi tidak dengan kualitas,” ujar mantan pelatih Juve, Fabio Capello.

Karenanya klub-klub sekelas Bayern Munich, Real Madrid, dan Barcelona yang tampak begitu adidaya di Eropa dalam beberapa tahun terakhir, wajib waspada dan sadar bahwa kini mereka punya antagonis baru dalam wujud Juve. La Fidanzata d’Italia saat ini nyata menatap gelar Liga Champions, yang sebelumnya awet jadi angan-angan.

Sekarang tinggal bagaimana sang pelatih, Massimiliano Allegri, meramu komposisi lezat yang sudah tersaji. Ia telah memberi bukti manis dalam dua musim masa kepemimpinannya dan kini dengan kehadiran Higuain, bersiaplah menyambut kedahsyatan masif Juve di musim depan!

Topics