Grande Torino, Busby Babes, Pahlawan Zambia & Chapecoense - Surga Menyambut Para Juara Baru

Para penggawa Chapecoense yang meninggal dalam insiden kecelakaan pesawat telah pergi selamanya, tapi sama seperti yang sudah terjadi sebelumnya, mereka semua tak akan pernah dilupakan.

Sama seperti kebanyakan komunitas sepakbola di seluruh dunia, Neymar bangun dari tidurnya pada Selasa (29/11) kemarin dan mendapat kabar mengejutkan. "Mustahil untuk bisa percaya pada tragedi," tulisnya. "Mustahil untuk bisa percaya pada kejadian ini. Mustahil untuk bisa percaya ada pesawat kecelakaan. Mustahil untuk bisa percaya banyak orang meninggalkan keluarga mereka. Mustahil untuk bisa percaya."

Ketidakpercayaan Neymar bisa dipahami. Bagaimana bisa kita secara tiba-tiba menerima kabar bahwa ada satu klub yang seluruhnya mengalami bencana, seluruh keluarga beduka, seluruh kota dalam suasana hancur?

"Ada banyak orang menangis," ungkap Ivan Tozzo selaku wakil presiden Chapecoense kepada SporTV. "Kami tak bisa sama sekali punya bayangan akan seperti ini. Chapecoense adalah alasan terbesar untuk bersuka cita di sini."

Kabar tersebut serupa dengan yang dialami masyarakat Torino pada periode 1940 silam di Italia. Dan juga bagi separuh kota Manchester satu dekade berselang. Yang diikuti oleh musibah tim nasional Zambia di awal tahun 90-an.

'Il Grande Torino' adalah salah satu tim terbaik yang pernah ada di Serie A. Mereka memenangkan empat Scudetto beruntun dan dalam perjalanan untuk membukukan yang kelima sebagaimana mereka terbang kembali dari melakoni duel uji coba di Lisbon pada 4 Mei 1949. Tapi mereka tak pernah kembali ke rumah, pesawat dengan nomor penerbangan FIAT G212 yang mereka tumpangi jatuh menghantam basilika di Superga karena kabut tebal. Seluruh 31 penumpang tak terselamatkan.

Seperti diungkapkan mantan pelatih Italia, Vittorio Pozzo, yang ditugaskan untuk mengidentifikasi jenazah, ia menulis di La Stampa: "Tim Torino sudah tidak ada lagi."

Masih ada empat putaran pada waktu itu yang akan dimainkan, namun Granata kemudian dinyatakan sebagai pemenang Scudetto. "Ini merupakan trofi kelima," ujar Ottorino Barassi ketika proses pemakaman para penggawa tim yang dihadiri hampir satu juga orang. "Lihat betapa besar, itu dipenuhi dengan rasa cinta dari seluruh dunia."

Ada emosi serupa ketika pasukan 'Busby Babes' harus mengalami kejadian serupa sebelum mencapai puncak kejayaan mereka, tim dengan penuh talenta luar biasa yang sebenarnya punya potensi untuk bisa merajai Eropa setelah memenangkan dua gelar beruntun Divisi Satu Inggris.

Pada 6 Februari 1958, setelah dua kali percobaan lepas landas yang gagal di bandara Munich, keputusan untuk mencoba kembali diambil ketimbang kembali bermalam di Bavaria. "Jika ini adalah waktu saya, maka saya siap," tutur Liam 'Billy' Whelan kepada rekan-rekannya. Sang pria asal Irlandia merupakan salah satu yang selamat dari 23 yang menjadi korban jiwa. Akan lebih banyak korban apabila kiper Harry Gregg tak bergegas menyelamatkan yang lain dari puing-puing pesawat.

Bencana tersebut mengejutkan seluruh negeri, namun sebagaimana program klub selanjutnya melawan Sheffield Wednesday dideklarasikan akan terus berjalan: "United akan terus melaju." Dan mereka melakukannya. Sepuluh tahun kemudian, manajer Matt Busby, yang dua kali menerima upacara penghormatan hari-hari setelah insiden tersebut, mengantarkan klub meraih kesuksesan pertama di Eropa.

Tidak ada trofi yang bisa diraih Zambia saat berpartisipasi di Piala Afrika 1994, hanya setahun setelah 18 penggawa tim meninggal dalam kecelakaan pesawat yang terjadi di pesisir Libreville, Gabon. Namun prestasi mereka mencapai final adalah sesuatu yang mengejutkan dan seperti kisah inspiratif, penghormatan pas untuk mereka yang telah pergi dengan nama 'Pahlawan'.

Lebih lanjut, pada 2012 kemarin, Zambia sukses meraih trofi Piala Afrika. Partai final dimainkan di Libreville. Seperti sebuah takdir yang sudah digariskan.

Dan seperti yang diucapkan Torino, Selasa (29/11) kemarin: "Ini merupakan tragedi yang memiliki jalinan sangat erat pada kami."

Neymar begitu emosional menyampaikan perasaannya, meski tak ada hubungan langsung. Tapi dengan memori yang cukup panjang dan rasa cinta mendalam, kita semua bisa memahami rasa duka Chapecoense. Ya, kita semua bisa. Seluruh dunia bersama mereka. Dunia akan selalu mengenang. Sebagaimana itu telah terjadi. Chapecoense tidak sendirian, demikian juga dengan mereka yang telah pergi.

Dalam suasana duka, ada kesimpulan mendalam yang disampaikan Neymar, "Hari ini dunia menangis tapi surga telah menerima para juara." Mereka akan berada di tempat terbaik juga dan ada kenyamanan setelahnya.