Guyonan Louis Van Gaal Sudah Keterlaluan

Van Gaal gagal membawa Manchester United lolos ke fase sistem gugur setelah ditumbangkan VfL Wolfsburg di matchday terakhir babak grup Liga Champions.

Komedi putar bernama Louis van Gaal sudah keterlaluan. Di pertandingan penting melawan VfL Wolfsburg semalam, manajer asal Belanda itu membuat bingung banyak orang sebagaimana Manchester United takluk 3-2 di Jerman.

Di pertandingan itu, kemenangan sejatinya sangat dibutuhkan oleh United selagi tim lawan hanya butuh satu poin untuk melenggang. Namun apa yang terjadi? Tim Setan Merah justru tumbang dan masuk jurang Liga Europa.

Mengawali laga di Volkswagen Arena dengan melakukan bongkar pasang menimbang banyaknya cedera, Van Gaal memainkan pemain muda Guillermo Varela di sektor bek kanan dan menggeser Matteo Darmian ke kiri. Di lini tengah, ia menduetkan Bastian Schweinsteiger dan Marouane Fellaini, selagi Jesse Lingard, Juan Mata dan Memphis Depay ditugaskan untuk menyokong Anthony Martial di depan.

Harapan sempat muncul di menit kesepuluh ketika Martial menjebol gawang Wolfsburg kawalan Diego Benaglio. Berawal dari umpan terobosan Mata, bola itu langsung dikejar oleh sang pemain muda yang lantas melepaskan sepakan kaki kanan yang tak bisa dibendung kiper lawan.

Akan tetapi, kelengahan membuat gawang David de Gea bobol sebanyak dua kali dalam rentang waktu 16 menit. Wolfsburg pun sukses membalikkan kedudukan menyusul gol yang dicetak Naldo di menit ke-13 dan sontekan Vieirinha satu menit sebelum setengah jam.

Sejak itu, United berusaha untuk kembali ke permainan selagi mereka juga harus kehilangan Darmian yang terkapar akibat cedera jelang turun minum. Untuk menggantikannya di sektor kiri, Van Gaal memanggil pemain akademi Cameron Borthwick-Jackson, 18, guna melengkapi full-back dadakan bersama Varela di kanan.

Permainan menyerang ditunjukkan tim tamu setelah turun minum. Lewat berbagai tusukan yang kurang beruntung dari sektor sayap, United nyaris mencetak sejumlah gol andai upaya mereka tidak digagalkan Benaglio maupun barisan pertahanan Wolfsburg.

Entah apa yang terlintas dalam benak Van Gaal ketika ia memutuskan untuk mengganti Schweinsteiger dan Juan Mata dengan memasukkan Michael Carrick dan Nick Powell di menit ke-69. Pergantian Schweinsteiger untuk Carrick kiranya masih bisa diterima, namun Mata untuk Powell? Alis mata siapa saja pasti berkernyit mengingat mantan pemain Crewe Alexandre itu baru kali ini kembali dipercaya di tim utama sejak 2014, atau ketika tim besutan Van Gaal dipermak 4-0 di markas klub kasta bawah MK Dons di putaran kedua Piala Liga.

Sampai menit ke-76 United tampak seperti bisa tertolong mengingat di tempat lain CSKA Moskwa berhasil mencuri gol atas PSV Eindhoven lewat penalti Sergei Ignashevich. Sampai momen itu, tim Setan Merah dipastikan akan melenggang lantaran peroleh poinnya lebih banyak ketimbang PSV.

Akan tetapi, kebangkitan cepat ditunjukkan oleh wakil Eredivisie itu yang mampu menyamakan skor menjadi 1-1 berkat lesakan Luuk de Jong, dan hal tersebut memaksa United – mau tidak mau – harus keluar menyerang demi mengupayakan, minmal, satu gol yang akan membawa mereka lolos ke babak 16 besar.

United kembali memiliki perasaan berada di atas angin setelah tandukan Marouane Fellaini justru dibelokkan oleh Josuha Guilavogui menjadi gol di menit ke-82, di mana gol tersebut menempatkan pasukan Van Gaal kembali ke urutan kedua sebelum Naldo meluluhlantakkan perasaan tersebut berkat golnya dua menit berselang. United tertinggal 3-2.

Klub peraih 20 gelar liga di Inggris itu mendapati situasi yang semakin sulit setelah PSV membalikkan keadaan menjadi 2-1 di Philips Stadion setelah sepakan Davy Propper tidak mampu dibendung Igor Akinfeev di menit ke-86 – sebuah situasi yang kemudian memaksa United untuk tampil all-out.

Dengan mengincar gol penyama sembari berharap magis seperti era Sir Alex Ferguson tercipta, sejumlah pemain United menumpuk di daerah pertahanan Wolfsburg, tak terkecuali bek Chris Smalling yang keluar menyerang sampai ke depan.

Van Gaal sendiri tidak berbuat apa-apa sebagaimana ia hanya duduk mengamati para pemainnya dari bangku cadangan. Pria 64 tahun itu, yang sejatinya adalah MANAJER, justru memerintahkan asistennya Frans Hoek untuk mentransfer keinginannya di atas lapangan.

Di posisi tertinggal, Van Gaal, yang mengharapkan keajaiaban dari para pemainnya, tidak mendapatkan timbal balik mengingat Powell yang ia turunkan jarang memenangkan atau menguasai bola. Sementara Carrick hanya mampu memberi kontribusi sedikit terhadap lini tengah, selagi duo full-back dadakan dibuat kepayahan dalam menghadang pemain Wolfsburg yang berpengalaman.

Filosofi dan strategi yang tampak dipaksakan membuat banyak orang bingung. Belum lagi kepercayaan diri yang terlalu tinggi serta keras kepalanya yang tidak terhadang justru membuat Van Gaal sebagai akar kegagalan.

Pantas saja Bayern Munich memecat pelatih satu ini pada 2009 akibat filosofinya yang membingungkan. Sejak momen perpisahan itu pula sang raksasa Bavaria semakin berkembang untuk menjadi salah satu klub terhebat di dunia setelah diarahkan ke jalan yang benar oleh Jupp Heynckes dan Pep Guardiola.

Van Gaal kini dihadapkan dengan kenyataan bahwa United arahannya terjun ke ajang liga malam Jumat bernama Liga Europa, dan ia pantas merasa malu lantaran David Moyes saja – yang dianggap sebagai The Clueless One – mampu meloloskan The Red Devils ke fase gugur Liga Champions pada 2013/14 silam sebagai juara grup – sebelum langkah mereka dihentikan oleh tim kuat Bayern di babak perempat-final.

Tidakkah Anda merasa malu sekarang, Van Gaal?