Harap-Harap Cemas Liverpool Pada Christian Benteke

Layaknya dua sisi dalam satu keping koin, kehadiran Benteke di Anfield tak hanya mendatangkan harapan, tetapi juga kecemasan yang sepaket dengan euforia tersebut.

Tanpa sadar sudah tujuh nama anyar didatangkan ke Anfield. Christian Benteke jadi pemain yang tiba paling kini. Posisi penyerang, harga £32,5 juta, berkebangsaan Belgia, dan merapat dari Aston Villa. Total 13 gol ia cetak dalam 29 penampilan musim lalu, rasio gol lumayan, nama lumayan besar, dan diisukan jadi target beberapa klub Liga Primer Inggris.

Profilnya menonjol bukan main. Ia mampu mencetak 49 gol dalam 100 pertandingan bersama Villa, yang tak pernah menembus papan tengah klasemen. Aksi individunya pun tak jarang menghadirkan kemenangan bagi tim. Benteke (dan mungkin Fabian Delph yang merapat ke Manchester City) pantas dijuluki berlian di tengah hamparan pasir Villa.

Melihat fakta-fakta tersebut, tentu kehadiran Benteke diharapkan jadi semacam obat untuk penyakit ketumpulan lini depan Liverpool sepeninggal Luis Suarez. Jadi tak ada salahnya untuk tersenyum, lagi tertawa, menyambut kedatangan sang penyerang bertubuh kokoh itu ke Merseyside.Mari tersenyum menyambut dan berharap kepadanya selagi masih bisa.

Sebab tak lama lagi sang penyerang bakal memicu kecemasan layaknya transfer Liverpool yang lalu-lalu.

Christian Benteke bukan penyerang yang buruk. Ia tidak bisa dibandingan dengan Andy Carroll maupun Mario Balotelli. Carroll merupakan spesialis bola udara, Balotelli seorang pemain berbakat yang minim kerja keras, sementara Benteke memiliki dimensi yang lebih luas ketimbang dua pemain tersebut.

Kekuatan utama Benteke terletak pada kekuatan fisiknya. Ia termasuk pemain yang rajin bergerak di udara dan beradu kepala dengan lawannya. Rerata 7,1 duel udara per 90 menit ia lancarkan dan sebagai buktinya ialah performa di semi-final Piala FA melawan Liverpool. Martin Skrtel tentu sudah merasakan langsung kekuatan fisik ditambah keberingasan Benteke di udara.

Kelebihan lainnya yang membuatnya dibandingkan dengan Didier Drogba ialah kemampuan olah bola yang tak kalah apik dengan kekuatan fisiknya. Dibandingkan rekan senegaranya, Romelu Lukaku, sebenarnya Benteke punya kemampuan olah bola yang lebih ciamik. Tak jarang kita menyaksikan Benteke membawa bola, mendribel melewati pemain belakang lawan, dan menghentikan pergerakan mereka dengan tubuhnya sebelum bola direbut.

Ketika memasuki kotak penalti, seperti yang kita saksikan dalam gol yang ia cetak ke gawang Simon Mignolet di Piala FA, Benteke punya kemampuan melepas tembakan akurat yang menyasar sudut gawang. Torehan tersebut tentu bakal semakin meyakinkan dengan persentasi konversi gol sebesar 17%, dengan kata lain ia butuh enam tembakan sebelum mencetak gol.

Christian Benteke bukan penyerang yang buruk, sekali lagi. Ia memiliki kekuatan fisik di atas rata-rata, kecepatan kaki plus akurasi dribel, dan tanpa melupakan naluri gol yang selalu ia tunjukkan di depan gawang. Apalagi kalau menengok usianya yang masih 24 tahun, Benteke jelas punya potensi untuk menjadi salah satu penyerang kelas dunia dan takkan ada yang meragukannya. Dan potensi itu secara tidak sadar mendorong publik Anfield untuk berharap padanya.

Masalahnya, apakah ia sosok yang tepat untuk Liverpool jika menilik segi teknis dan taktis?

Harus diakui, gaya main Benteke tidak senafas dengan Liverpool yang kita kenal dalam beberapa musim terakhir. Benteke adalah monster di udara dan selalu menyambut umpan silang dengan senang hati. Sementara itu, The Reds asuhan Rodgers memainkan umpan-umpan pendek, tegas, dan cepat yang kurang memanfaatkan kekuatan fisik Benteke.

Hal ini sudah digarisbawahi oleh Jamie Carragher yang langsung mengomentari kedatangan Benteke ke Anfield. "Kekhawatiran saya adalah, apakah ia bakal cocok dengan permainan umpan pendek, tajam, dan tegas kesukaan Rodgers?" tandasnya.

Pernyataan ini sebenarnya merupakan tanggapan atas pernyataaan Tim Sherwood. Ketika ketertarikan pada Benteke mulai mencuat ke publik, Sherwood mewanti-wanti Benteke agar tidak salah memilih klub nantinya.

“Kami mencatatkan umpan silang lebih banyak dari klub manapun di Liga Primer dan Christian mengakui kalau ia terbantu dengan hal itu. Tidak ada gunanya jika ia pindah ke klub yang jarang memainkan umpan silang,” ungkapnya.

Ia menegaskan kalau Big Ben adalah pemain yang tangguh di udara dan bakal bermain efektif dengan hujan umpan silang. Mantan manajer Tottenham Hotspur itu juga menegaskan kalau karir Benteke bakal sial jika memilih klub yang tak memainkan umpan silang.

Kekurangan lain Benteke yang berpotensi jadi masalah bagi Liverpool ialah pergerakan tanpa bola. Penyerang Belgia ini kurang bisa menentukan waktu yang tepat untuk maju menyerang. Hasilnya, ia sering terkena jebakan off-side berkali-kali dalam satu pertandingan. Hal ini tentu bakal menghambat laju serangan The Reds yang memanfaatkan serangan balik dan kecepatan menyerang.

Alexandre Lacazette atau Theo Walcott sebenarnya lebih tepat untuk Liverpool, tapi mereka berdua tak mau meninggalkan klubnya masing-masing (Lyon dan Arsenal). Daniel Sturridge dan Divock Origi kurang lebih juga memiliki keunggulan di sektor ini. Mereka lebih cocok dengan skema permainan Liverpool versi Rodgers, tapi masing-masing punya masalah sendiri: Sturridge dengan cederanya, sementara Origi masih minim jam terbang.

Tetapi masih ada beberapa solusi yang mungkin diambil Rodgers. Salah satunya ialah kembali menerapkan formasi 4-2-3-1 dengan menurunkan tiga gelandang serang dalam diri Roberto Firmino, Philippe Coutinho, dan Adam Lallana. Dalam formasi ini, Benteke bisa menjadi pembuka ruang dengan kekuatan fisiknya. Ia merusak pertahanan lawan, lalu mengizinkan Firmino atau Lallana untuk menusuk ke kotak penalti dan memainkan naluri tajamnya di depan gawang.

Dalam konteks strategi ini, bukan Liverpool yang memaksimalkan bakat Benteke, melainkan Bentekelah yang menarik keluar potensi trio gelandang berbakat Liverpool. Seandainya peluang tercipta untuk dirinya sendiri, Benteke tinggal menyasar gawang lawan tanpa ragu.

Ketika Sturridge sudah pulih cedera, Rodgers bisa mempertimbangkan formasi dua penyerang dalam 4-4-2 berlian. Formasi ini cukup sering dimainkan oleh Liverpool dalam beberapa musim terakhir dan strategi ini bisa memaksimalkan kemampuan Coutinho untuk membelah pertahanan lawan. Duet Benteke dan Sturridge pun bisa menjadi duet klasik Inggris antara pemain kuat dan pemain cepat.

Kemampuan Benteke bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk segenap tim seperti yang dikatakan oleh Robbie Fowler, legenda Anfield: “Ia adalah lelaki yang besar, kuat, jadi ia takkan mudah kehilangan bola dan ketika Anda memiliki pemain seperti ini, saya rasa ia bisa mengulur waktu agar gelandang atau bahkan bek untuk ikut menyerang dan membantu.”

Entah langkah apa yang diambil Rodgers nantinya, perlu digarisbawahi kalau Liverpool tak boleh memaksakan diri untuk mendukung Benteke. Hal yang sebaliknya yang harus dilakukan oleh Rodgers, ia harus memanfaatkan Benteke untuk menarik keluar kemampuan gelandang-gelandang berbakat The Reds. 

Kehadiran Benteke menghadirkan ekspektasi yang besar di Anfield, tapi kecemasan juga menghantui. Rodgers harus mengambil langkah yang tepat untuk tim, bukan sekadar memikirkan Benteke. Jika memang bisa, Liverpool takkan merasa rugi dengan £32,5 juta yang telah mereka gelontorkan.

Tetapi jika gagal, mungkin kita bakal menyaksikan Andy Carroll yang lain di Anfield – atau bahkan lebih parah!