Hasrat Atletico Madrid Sempurnakan Mimpi Yang Tertunda

Sempat terseok di awal musim, Atletico Madrid mampu menegaskan bahwa mereka kini siap menyempurnakan mimpi yang tertunda dua musim lalu.

Musim 2013/14 bisa jadi merupakan momen terbaik dalam sejarah klub minoritas di Madrid, Atletico Madrid. Status medioker yang mendominasi sejarah Los Rojiblancos, membuat perjalanan mereka kala itu tergolong spektakuler.

Bagaimana tidak, Atletico di luar dugaan mampu keluar sebagai kampiun La Liga Spanyol, di tengah dominasi tak sehat dua kuda pacu, Barcelona dan Real Madrid. Lebih luar biasa lagi, tentu saja kejutan mereka menembus babak final Liga Champions! Sesuatu yang hanya pernah dilakukan sekali sebelumnya, pada musim 1973/74.

Sayang, mimpi buruk kekalahan di final pada 30 tahun sebelumnya itu terulang kembali. Atletico harus mengakui keunggulan lawannya di final, yang merupakan saudara sekotanya sendiri, Real Madrid. Musim terbaik dalam sejarah klub pun tak bisa dibilang sempurna.

Dari titik itu Atletico pun menjelma jadi salah satu kekuatan paling mengerikan di Eropa. Cukup menunggu selama nyaris dua tahun, asa untuk menyempurnakan mimpi yang tertunda kini dihadirkan kembali.

Masih memiliki kans besar untuk kembali merengkuh tahta La Liga, Atletico juga merintis jalan terang di Liga Champions. Ya, mereka sukses melaju ke semi-final dengan menyingkirkan juara bertahan turnamen, Barcelona, lewat skor agregat 3-2.

Perjalanan Atletico di semua kompetisi pada awal musim ini sejatinya tak dimulai dengan mulus, khususnya di Liga Champions. Ditemani tim-tim yang tak bisa disebut mentereng pada babak fase grup, Benfica, Galatasaray, dan FC Astana, pengoleksi 10 gelar La Liga itu dibuat terseok. Namun status juara grup tetap mampu diraih.

Meski begitu, keraguan publik akan kemampuan Atletico mengulang prestasi dua musim silam tetap hinggap. Di babak 16 besar, menghadapi PSV Eindhoven yang di atas kertas mampu disingkirkan dengan mudah, Diego Godin cs harus bersusah payah menentukan kelolosan melalui babak adu penalti.

Satu yang harus diingat bahwa Atletico bukan kebetulan meraih hasil apik tersebut. Karakter bemain yang sudah bertahun-tahun dibentuk oleh sang entrenador handal, Diego Simeone, merupakan alasan di balik itu. Ya, satu hal sekaligus jadi sebab mereka menyingkirkan Barcelona di babak perempat-final melalui cara yang meyakinkan.

"Semua hasil ini karena karakter Simeone yang luar biasa. Karakternya diikuti oleh para pemain. Ia tahu apa yang terbaik bagi tim. Ia sangat paham kelemahan, dan kekuatan tim. Ia juga punya segala jawaban untuk kelemahan kami," ungkap Fernando Torres, seperti dikutip laman resmi UEFA.

Mengandalkan skema klasik 4-4-2, Simeone tak lantas menerapkannya secara kolot pula. Alih-alih bermain ofensif, pertahanan kokoh jadi andalan. Di sini tampak jelas seperti apa karakter yang dimaksud. Dengan penerapan taktik tersebut, para penggawa Atletico mau tak mau harus bermain disiplin, ngotot, dan sedikit keras, agar segalanya berjalan sesuai rencana.

Mereka juga harus bersabar menunggu celah untuk lesatkan gol, karena tujuannya hanya satu, yakni menang, bukan bermain menghibur atau menciptakan banyak gol. Karenanya tak heran, jika dibandingkan semi-finalis lainnya, Bayern Munich, Manchester City, dan Real Madrid, Atletico punya rerata mencetak gol yang paling rendah sebesar 1,3 gol.

Pusat dari gaya bermain pragmatis ala Simeone terletak pada kuartet gelandangnya. Ia mengedepankan para pemain yang punya karakteristik box to box, bukan ball palying.

Mereka ditugaskan untuk memutus aliran permainan lawan, sebagai pemula serangan dari sisi lapangan lewat bek sayapnya yang lincah. Itulah mengapa pemain-pemain 'kaku' seperti Gabi, Augusto Fernandez, Koke, dan Saul Niguez, selalu diutamakan ketimbang Angel Correa, Matias Kranevitter, dan Oliver Torres, yang punya karakter lebih kreatif.

Meski begitu taktik Simeone ini juga urung berjalan jika tak memiliki bomber ganas di kotak penalti lawan. Peran itulah yang dimainkan Antoine Griezmann. Meski cara bermainnya berbeda, ia adalah peruwujudan pengganti Diego Costa yang membawa kejayaan dua musim lalu. Penyerang internasional Prancis tersebut musim ini sudah mencetak 29 gol dari 45 penampilannya di semua ajang.

Aspek mentalitas juga cerdas dimasukkan Simeone, guna sempurnakan timnya. Lima pemain yang jadi bagian final Liga Champions 2013/14 masih jadi pilar. Sementara keberadaan sang legenda hidup, Fernando Torres, mampu menularkan mentalitas juara pada seluruh penggawa layaknya David Villa dahulu.

“Saya bahagia dengan para pemain yang selalu bekerja keras dan bermain kompak. Itu lebih penting ketimbang mencapai semi-final. Nilai-nilai dalam masyarakat boleh memburuk, tetapi kami adalah sekumpulan pekerja jujur yang bisa menang maupun kalah,” tegas Simeone, seperti dikutip AS.

Segala paparan manis tersebut bukannya membuat Atletico tak memiliki kelemahan. Beberapa hal negatif masih kerap ditampakkan dan bisa jadi alasan kegagalan.

Di antaranya adalah resiko dari karakter mereka yang mengharuskan bermain keras. Atletico merupakan semi-finalis dengan koleksi kartu terbanyak lewat jumlah 20 kartu kuning dan satu kartu merah. Fakta itu bisa jadi amat merugikan, yang sempat tercermin dari kekalahan Atletico di Camp Nou lalu.

Kelemahan lainnya juga buah dari taktik pragmatis ala Simeone. Mengutamakan pertahanan, Atletico akan kesulitan jika kebobolan terlebih dahulu. Di semua ajang musim ini, dari tujuh kesempatan, mereka hanya mampu membalikkan keadaan sebanyak dua kali ketika kebobolan terlebih dahulu. Untungnya segala masalah tersebut tak sampai masuk dalam kategori kronis.

Kini Atletico sudah mencapai babak semi-final Liga Champions. Mereka merupakan penakluk sang juara bertahan sekaligus penguasa turnamen dalam sedekade terakhir, Barca.

Atletico juga terus menegaskan telah menjelma menjadi klub besar Eropa. Bayern Munich tampil sebagai lawan di semi-final, tapi jangan terkejut jika The Mattress Makers mampu melewati raksasa Jerman itu untuk kemudian sempurnakan mimpi yang tertunda!