Heavy Metal "Hancurkan" Liverpool?

Heavy metal Klopp boleh saja mengundang sorak sorai di Liverpool, tapi jangan lupa kalau ia tak pernah absen menelan korban, menimbulkan kehancuran dari dalam.

Kemarin Rabu (6/1) dini hari WIB, ada kabar duka yang menghampiri Liverpool. Memang, The Reds berhasil meraih kemenangan 1-0 atas Stoke City di leg pertama semi-final Piala Liga. Namun mereka kehilangan Philippe Coutinho dan Dejan Lovren karena cedera hamstring. Skuat Jurgen Klopp yang sudah tipis pun akhirnya semakin tipis setelah kejadian tersebut.

Total sepuluh pemain mengalami cedera dan dipastikan absen selama beberapa pekan ke depan. Enam di antaranya mengalami cedera hamstring [Philippe Coutinho, Dejan Lovren, Martin Skrtel, Jordan Rossiter, Daniel Sturridge, Divock Origi] dua lainnya menghadapi masalah di lutut dan tumit [Mamadou Sakho dan Jordan Henderson]. Sementara itu, dua pemain sisanya [Danny Ings dan Joe Gomez] mengalami cedera ACL yang memaksa mereka absen hingga akhir musim.

Klub

Jumlah

Pemain

Cedera

Lama Absen

Liverpool

10

D Lovren

Hamstring

Belum diketahui

   

P Coutinho

Hamstring

Belum diketahui

   

M Sakho

Lutut

Belum diketahui

   

J Henderson

Tumit

Belum diketahui

   

D Origi

Hamstring

2 pekan

   

M Skrtel

Hamstring

4 pekan

   

J Rossiter

Hamstring

Belum diketahui

   

D Sturridge

Hamstring

2 pekan

   

D Ings

ACL

5 bulan

   

J Gomez

ACL

5 bulan

Jika menengok ke belakang, badai cedera separah ini tidak pernah menyerang Liverpool dalam beberapa tahun terakhir. Situasi ketika Liverpool kehilangan delapan pemain dalam kurun waktu tiga bulan baru terjadi di Liga Primer Inggris musim ini. Lebih spesifik lagi, badai cedera ini terjadi di era Jurgen Klopp – yang baru resmi menjabat sebagai manajer Liverpool di pertengahan Oktober 2015.

Kebetulan?

Sepertinya bukan. Masalah fisik yang menyerang Liverpool ini sempat disinggung dalam artikel sebelumnya, dan sempat diudarakan ketika Klopp masih bermain di Dortmund. Hal ini memang terdengar baru di telinga penggemar Liverpool, tetapi bukan sebuah hal asing bagi mereka yang mengikuti perkembangan Jurgen Klopp bersama Borussia Dortmund. Bisa dibilang, badai cedera merupakan “sahabat” bagi manajer berkebangsaan Jerman tersebut.

Sepakbola gegenpressing atau Heavy Metal yang dimainkan oleh Klopp di Signal Iduna Park layaknya pedang bermata dua. Di satu sisi, ia membuahkan kemenangan dan gelar bagi Dortmund – bahkan menggeser dominasi Bayern Munich di Bundesliga 2010/11 dan 2011/12. Di sisi lain, ia membuat para pemain Die Schwarzgelben cukup sering menjalani perawatan di rumah sakit terdekat.

Gegenpressing menambah koleksi gelar sekaligus cedera pemain Dortmund.

Hal ini sebenarnya merupakan hal yang wajar. Tuntutan fisik dalam gaya sepakbola Klopp memang sangat tinggi. Betapa tidak, para pemain diminta untuk berlari kencang [sprint] berkali-kali dalam 90 menit untuk memberikan tekanan sesegera mungkin pada lawan yang membawa bola. Ketika bola berhasil didapat, segenap lagi-lagi diminta untuk berlari kencang untuk menciptakan serangan mematikan yang tidak menyisakan ruang bagi lawan untuk menyerang balik.

Ibarat konser heavy metal, Anda diminta untuk moshing – “dansa” khas musik metal yang terkesan kasar, hadirin konser bakal ber-headbang-ria atau menubrukkan tubuhnya dengan hadirin lainnya – dari awal sampai akhir konser. Bisa dibayangkan kalau hal ini terjadi seminggu sekali. Cedera tentu bakal menjadi musibah yang tak bisa dihindari, mengingat kontak fisik dan pergerakan bertenaga yang jadi tuntutan utama.

Dortmund boleh jadi keasyikan ber-headbang-ria, tetapi sejarah cedera mereka tidak bisa berbohong. Tubuh para pemain menjerit seiring heavy metal Klopp berkumandang selama tujuh musim di Westfallen. Tabel di bawah ini, yang melibatkan lima pemain inti Dortmund di era Klopp, bakal menunjukkan betapa besar efek samping gegenpressing.

Klub

Pemain

Lama Bermain

Total Cedera

Laga Absen

Dortmund

Ilkay Gundogan

4 musim

491 hari

101 laga

 

Marco Reus

3 musim

224 hari

29 laga

 

Mats Hummels

7 musim

469 hari

83 laga

 

Neven Subotic

7 musim

229 hari

75 laga

 

Sebastian Kehl

7 musim

868 hari

130 laga

Bisa dibayangkan apa jadinya kalau sepakbola bermata dua itu dihadirkan di InggrisJadwal pertandingan di Inggris jauh lebih padat, memuat tiga kompetisi domestik, tak ada istirahat musim dingin, dan sepakbola yang lebih sering melibatkan adu fisik. Tuntutan fisik jelas bakal melompat tinggi. Kalau sebelumnya hanya mengikuti konser heavy metal seminggu sekali di Jerman, di Inggris heavy metal itu bergulir seminggu tiga kali.

Badai cedera yang dialami Liverpool ini sebenarnya sudah diramalkan oleh para ahli.Raymond Verheijen, pakar latihan fisik dan conditioning asal Belanda pernah berkicau lewat akun twitter pribadinya: “Bakal menarik untuk memerhatikan Liverpool dalam beberapa pekan ke depan seiring mereka nyaris menghadapi krisis cedera di bawah manajer baru Klopp.”

Ketika badai cedera itu sungguh-sungguh terjadi, menyusul cedera hamstring yang menyerang Coutinho dan Lovren, Verheijen menegaskan kembali ramalannya. “Miris ketika melihat cedera otot yang terakumulasi di Liverpool setelah Jurgen Klopp tiba. Menyedihkan, tetapi sangat mudah diprediksi,” tandas sang ahli. Verheijen sendiri sudah memantau sepakbola versi Klopp sejak ia berada di Dortmund dan menurutnya, cedera otot merupakan konsekuensi sahih dari sepakbola heavy metal.

Hal senada juga dilayangkan oleh Graeme Souness, gelandang legendaris Liverpool. Hanya saja, Souness menggarisbawahi adaptasi fisik yang berbuah pahit di musim ini. Ia berkata, “Jurgen Klopp datang setelah 11 laga dan para pemain, terutama para pemain yang sudah mulai bermain, akan memiliki kebugaran yang bagus. Semuanya bicara tentang ‘kami akan jadi bertenaga, kami akan melakukan pressing tinggi di setiap kesempatan’. Sejujurnya, itu benar-benar menuntut kebugaran yang luar biasa.”

Miris ketika melihat cedera otot yang terakumulasi di Liverpool setelah Jurgen Klopp tiba. Menyedihkan, tetapi sangat mudah diprediksi,

- Raymond Verheijen

“Sulit menyeimbangkannya setelah 11 laga berlalu, apalagi mendorong para pemain ketika mereka bermain dua, mungkin tiga laga per pekan, akhir pekan, tengah pekan, lalu akhir pekan lagi. Saya rasa itu merupakan hal yang berat, suatu tuntutan yang berat untuk dilakukan tanpa menderita masalah yang sedang mereka hadapi saat ini.”

Apakah Coutinho korban terbaru dari metode pelatihan Klopp?

Kerugian yang ditimbulkan oleh gegenpressing di Inggris – dengan jadwal padat dan adu fisik yang lebih sering – terlihat jauh lebih besar dari keuntungan yang mereka dapatkan. Lebih-lebih melihat betapa tipisnya skuat Liverpool saat ini, sepakbola transisi dan intensitas tinggi ini bakal jadi senjata makan tuan yang telak. Gelombang pertama saja sudah separah ini, menelan delapan korban cedera, entah apa jadinya kalau gelombang kedua tiba.

Haruskah Klopp memodifikasi sepakbola heavy metal kegemarannya agar bisa bertahan hidup di Inggris?

Sayangnya tidak semudah itu. Klopp sudah pernah memikirkan cara untuk memodifikasi strateginya ketika masih mengasuh di Dortmund. Saat itu, badai cedera juga menyerang Die Borusen dan kebugaran para pemain masih lemah karena sebagian pemain inti baru saja kembali dari cedera panjang [Hummels dan Gundogan].

Mungkin setelah dihantamkan pada tembok keras bernama Batasan Fisik Pemain, Klopp mempertimbangkan pendekatan anyar. Instruksi yang diberikan pada Reus dkk sedikit berubah, menurunkan intensitas pressing untuk memangkas daftar cedera. Tak disangka, perubahan yang kecil itu memberikan dampak nyata bagi pasukan Klopp di musim 2014/15. Ya, musim terburuk Klopp bersama Dortmund ketika ia sempat terdampar di dasar klasemen.

Klub

Musim

Agresivitas

Pressing *

Koleksi Poin

Finis

Dortmund

2012/13

8,76

66 poin

Runner-up

 

2013/14

8,72

71 poin

Runner-up

 

2014/15

9,59

16 poin**

Peringkat 7

*Agresivitas pressing dihitung dari jumlah operan lawan/usaha merebut bola.

**Hanya dihitung hingga jeda musim dingin.

Dari tabel di atas, bisa dilihat menurunnya efektivitas dan intensitas pressing Dortmund di musim lalu. Sebelumnya, lawan mereka hanya mencatatkan rerata 8,72 operan sebelum direbut oleh Dortmund. Namun musim lalu, lawan bisa mencatatkan 9,58 operan. Absennya Robert Lewandowski yang mencatatkan rata-rata 3,22 pressing per laga di area lawan juga menjadi kehilangan besar, apalagi penggantinya, Ciro Immobile, hanya mencatatkan rata-rata 1,66 per laga – jauh dari Lewandowski.

Akurasi, presisi, dan intensitas pressing Dortmund hanya menurun sedikit di musim tersebut [khususnya dari awal musim sampai jeda musim dingin], tetapi efek sampingnya sangat buruk. Mereka tidak bergerak jauh dari zona degradasi Bundesliga. Beruntung, di paruh kedua Klopp mampu mengubah situasi dan membawa Dortmund ke peringkat tujuh dengan kembali meningkatkan intensitas pressing sembari mengasah efektivitas merebut bola serta sentuhan akhir.

Berapa lama yang dibutuhkan oleh Klopp untuk membawa Liverpool bermain konsisten?

Modifikasi strategi Liverpool bukanlah solusi terbaik saat ini kalau Klopp sungguh-sungguh ambisius dalam memburu empat besar. Hal itu sudah dibuktikan oleh Klopp ketika ia menjabat di Dortmund, sedikit perubahan bisa berakibat fatal. Klopp tidak bisa memikirkan modifikasi dalam waktu pendek yang tersedia, setidaknya ia butuh istirahat panjang [jeda musim dingin] ketika membangkitkan Dortmund di tengah musim. Sayang, privilese semacam itu tidak ia dapatkan di Liga Primer Inggris.Pembahasan di atas menjelaskan betapa sepakbola heavy metal Klopp menghancurkan Liverpool dari dalam. Meminjam pernyataan Sam Allardyce, sepertinya Klopp “belum menyadari betapa buasnya Liga [Primer Inggris] di periode ini”. Klopp butuh waktu untuk mengenal sepakbola Inggris lebih dalam dan Liverpool butuh waktu untuk menyeleraskan segala aspek dalam klub.

Mereka yang bergerak di bidang medis, seperti disampaikan oleh Souness, harus berpikir sampai botak. “Mereka harus mengatur [kebugaran pemain] dengan lebih baik atau musim Anda akan hancur,” ungkap Souness lewat Sky Sports News. Selanjutnya, sembari memikirkan solusi jangka panjang, Klopp kiranya perlu menambah amunisi The Reds tanpa perlu mencuci gudang – atau skuat yang tipis akan tetap menjadi tipis.

Perkara relevan atau tidaknya heavy metal di sepakbola Inggris, biar Klopp yang berusaha membuktikan sampai kontraknya jatuh tempo.