Inggris (Kembali) Tak Berjodoh Dengan Turnamen

Kemalangan The Three Lions terus berlanjut setelah mereka takluk di tangan tim kecil Islandia di babak 16 besar Euro 2016.

Untuk kesekian kalinya tim nasional Inggris harus mengubur mimpi menjuarai turnamen mayor untuk kali pertama sejak 1966, dengan mereka tersisih di babak 16 besar Euro 2016 setelah ditumbangkan Islandia 2-1, Selasa (28/6) dini hari WIB.

Di pertandingan itu, pasukan Roy Hodgson sejatinya mengawali laga dengan cukup baik sebagaimana mereka mendapatkan gol cepat lewat eksekusi penalti kapten Wayne Rooney di menit keempat, setelah sebelumnya kiper Islandia Hannes Halldorsson menjatuhkan Raheem Sterling di dalam kotak terlarang.

Namun tak butuh waktu lama bagi Islandia arahan pelatih Lars Lagerback untuk menyamakan kedudukan, lantaran dua menit pascagol Rooney, bek Ragnar Sigurdsson sukses memperdaya kiper Joe Hart dari jarak dekat. Strákarnir okkar – julukan Islandia – pada akhirnya berbalik unggul di menit ke-18 ketika kegesitan Kolbeinn Sightorsson tak mampu dihadang bek-bek Inggris, yang kemudian membuatnya leluasa menceploskan bola ke gawang.

Di sisa menit yang ada, Inggris yang terus berupaya menyamakan skor menemui kebuntuan. Hodgson yang geregetan sampai menurunkan empat striker di akhir laga dengan ia memasukkan Jamie Vardy dan Marcus Rashford untuk menggantikan Sterling dan Rooney, yang ujung-ujungnya juga tidak membuahkan hasil.

Adapun setelah peluit panjang berbunyi, publik Inggris menumpahkan amarahnya seiring tangis yang tak mampu dibendung oleh para pemain. Manajer Hodgson dalam hal ini menjadi sosok yang paling disalahkan, dengan taktiknya dipertanyakan.

Kiper legendaris Manchester United Peter Schmeichel sampai bingung mengapa pelatih berpengalaman seperti Hodgson lebih percaya Sterling, yang di pertandingan sebelumnya bermain buruk, untuk turun sejak menit awal – terlepas ia memiliki andil terhadap penalti – alih-alih Vardy yang tengah dalam performa terbaiknya usai membawa Leicester City menjadi juara.

“Mengapa Vardy tidak turun dan apa yang Roy lihat dari Sterling di tempat latihan sehingga ia memainkannya lagi sejak awal?” kicau Schmeichel di Twitter.

Schmeichel menambahkan bahwa pemain Inggris sejatinya cukup berkualitas, namun kesalahan terletak pada pelatih yang tidak memainkan pemain yang tengah dalam puncak performa.

Dikonfrontasi oleh @sakhalwaya seputar tuduhan pemain Inggris yang buruk, mantan kiper Denmark itu menjawab: “Saya tidak sependapat, bagi saya ini semua adalah soal memainkan pemain yang tengah dalam kondisi puncak dan ada banyak dari mereka di Inggris!”

Sebelum terjun di turnamen tersebut, Hodgson memilih mencoret Danny Drinkwater yang menjadi sentral permainan The Foxes dan memaksakan satu posisi bagi Jack Wilshere yang baru pulih dari cedera. Dari sana banyak orang merasa heran, lantaran Drinkwater dinilai lebih layak ketimbang Wilshere, dan pemain Arsenal itu juga tidak terlalu berkontribusi di lini tengah Inggris selama turnamen.

Meski begitu, skuat yang dibawa Hodgson diklaim mumpuni dan digadang-gadang berpotensi menjadi salah satu generasi terbaik menimbang banyaknya bakat muda mentereng yang ada. Namun sekali lagi, ekspektasi yang tinggi dan beban yang dihadapi menggagalkan mereka, dan perjalanan The Three Lions harus berakhir di babak 16 besar.

Sebelum ini Inggris juga memiliki generasi terbaik pada medio 2000-an, dengan munculnya nama-nama seperti Rio Ferdinand di bekalang, Paul Scholes, Steven Gerrard, Frank Lampard dan David Beckham di tengah, sampai Michael Owen di depan. Akan tetapi mereka juga tidak bisa memberikan kejayaan untuk Inggris sebagaimana turnamen mayor seolah menjadi momok bagi mereka.

Di Piala Dunia 2002, Inggris yang dijagokan berbicara banyak hanya mampu mengakhiri babak grup di bawah Swedia, yang waktu itu dilatih Lagerback, sebelum langkah mereka dihentikan Ronaldinho di babak perempat-final. Kegagalan juga mereka temui di perempat-final Euro 2004 setelah tuan rumah Portugal menjungkalkan pasukan Sven-Goran Eriksson lewat drama adu tendangan penalti.

Turnamen-turnamen besar lantas tidak berpihak pada Inggris dengan mereka gagal di Piala Dunia 2006, tidak lolos ke Euro 2008, menemui nestapa di Afrika Selatan 2010,  kalah mujur dari Italia di Euro 2012 dan merana di Brasil 2014.

Jauh setelah merebut trofi Piala Dunia 1966, prestasi Inggris paling banter adalah mencapai semi-final Euro 1996, dengan mereka waktu itu digagalkan Jerman yang akhirnya menjadi juara. Dan pencapaian masuk semi-final tersebut tampaknya sulit terulang jika kubu Inggris tidak melakukan pembenahan di segala sistem, termasuk kompetisi yang kerap menguras energi.

Liga Primer Inggris dikenal sebagai liga yang ketat dan kerap membuat para pemain kehabisan tenaga. Belum lagi para pemain diharuskan terjun di dua kompetisi domestik seperti Piala Liga dan Piala FA, juga Liga Europa atau pun Liga Champions bagi tim-tim berprestasi.

Jika ditotal, klub papan atas Inggris dalam semusim bisa memainkan lebih dari 50 pertandingan, dan dengan waktu istirahat yang kurang lebih tiga hari, yang menjadi korban tentunya adalah para pemain itu sendiri.

Di Euro kali ini, para pemain yang bermain penuh di kompetisi Liga Primer jarang ada yang bersinar. Yang tampil gemilang justru mereka yang mendapati musim kurang bagus di level klub dan yang bermain tidak lebih dari 40 kali.

Cesc Fabregas dari kubu Chelsea tampil tidak terlalu istimewa dalam kekalahan di tangan Italia begitu pun para penggawa Spanyol lainnya seperti David Silva. Pengecualian untuk kiper David de Gea yang selalu memberikan penampilan konsisten.

Eden Hazard yang melempem di Chelsea justru mengeluarkan kemampuan terbaiknya dengan membantu Belgia mengeliminasi Hongaria lewat kemenangan 4-0. Graziano Pelle juga menjadi contoh bagus setelah ia menyegel kelolosan Italia ke perempat-final, dengan klubnya Southampton hanya memainkannya sebanyak 34 kali di semua kompetisi pada musim lalu.

Untuk mengurangi beban pertandingan bagi klub-klub yang ada, FA Inggris mencoba membuat terobosan dengan menghapus laga ulangan di Piala Liga dan menentukan duel lewat perpanjangan waktu serta adu penalti, yang mana efektif berlaku mulai musim depan.

Satu hal yang masih sulit adalah menerapkan jeda musim dingin untuk memberi para pemain istirahat, selagi periode Natal dan Tahun Baru dipandang sebagai sebuah hal yang harus ‘dirayakan’ di Inggris.

Kini skuat Inggris kiranya harus mempertimbangkan tawaran dari perusahaan travel Islandia yang sebelumnya menawarkan tiket menonton paus di Husavik, agar kehancuran ini bisa mereka lupakan sejenak.

Bak kisah lama yang terus terulang, Inggris dan turnamen mayor tampak tidak berjodoh dan perjuangan mereka mencari keserasian masih akan berlanjut dalam tahun-tahun ke depan.