Ini Penjelasan Mengapa Antonio Conte Dituduh Terlibat Pengaturan Skor

Eks pelatih Juventus itu diklaim mengetahui adanya upaya pengaturan skor saat masih menukangi Siena.

Mantan presiden Perugia Luciano Gaucci dulu pernah mengklaim, "Delapan puluh persen pertandingan di Italia sudah diatur." Hanya angka tersebut yang dipertanyakan oleh fans sepakbola Italia, tetapi tidak ada yang membantah bahwa pengaturan skor sudah merajalela.

Ini adalah negara di mana Paolo Rossi disanksi tiga tahun karena terlibat dalam skandal perjudian Totonero, yang akhirnya dikurangi 12 bulan, sehingga membuatnya mampu mengantar Azzurri meraih juara Piala Dunia pada 1982.

Sementara, skandal Calciopoli pada 2006, tampak membuat pemain-pemain Italia termotivasi di Jerman untuk meraih Piala Dunia. Dan sekarang, pelatih timnas Italia, Antonio Conte, segera menjalani persidangan karena tuduhan penipuan olahraga sebulan sebelum membawa negaranya bersaing di Euro 2016.

Penting untuk dicatat, Conte tidak dituduh melakukan pengaturan skor, tetapi ia dinilai mengetahui adanya niat untuk hal tersebut dan kemudian tidak melaporkan kepada pihak berwajib. Dalam hal itu, siapa saja bisa berpendapat, mayoritas populasi Italia bisa masuk ke persidangan karena penipuan olahraga mengingat sudah menjadi rahasia umum jika beberapa pertandingan - terutama menjelang akhir musim ketika klub papan tengah sudah dalam garis aman - memang sudah diatur.

Maurizio Montesi pernah bertanya: "Dan, apa yang baru tentang semua ini? Bahwa sepakbola itu palsu, korup? Kami sudah tahu itu, bahkan jika sebagian orang pura-pura tidak tahu, atau tidak ingin tahu karena mereka memiliki kepentingan ekonomi, atau karena mereka fans."

Mantan gelandang Lazio itu mengutarakan pertanyaan tersebut usai Totonero pada 1980. Setelah 36 tahun berjalan, hal itu masih relevan seperti dulu - bahkan lebih terasa lagi menyusul akhir pekan kemarin ada tuduhan doping mengejutkan yang melibatkan pesepakbola Liga Primer Inggris.

Carlo Gervasoni bahkan menjelaskan dengan sangat detil tahun lalu bahwa dia mengungkapkan, cukup mudah untuk membujuk rekan pemain profesional untuk ambil bagian dalam skandal judi teranyar yang memukul sepakbola Italia.

"Ini membingungkan untuk memberi angka pasti terkait pemain yang saya hubungi untuk pengaturan skor karena masih ada pengadilan berjalan, tetapi kurang lebih saya berhasil menghubungi 60 orang," ujar mantan bek Cremonese dan Piacenza kepada  Italia 1 .

"Dari 60 pemain itu, hanya dua yang mengatakan tidak: satu orang asal Italia dan satu orang asing. Saya menyadari, lebih sulit untuk membujuk pemain asing untuk mengatur pertandingan.

"Awalnya, pemain-pemain asal Italia mempermasalahkannya, tetapi ketika mereka mendapatkan uang di tangan sebelum laga, mereka merasa lebih mudah melakukannya."

Garvasoni adalah saksi kunci dalam persidangan yang ia sebutkan. Itu berpusat pada investigasi di Cremona dalam skandal 'Last Bet' pada 2011, dengan 104 terdakwa, sosok paling mashyur adalah Conte. Bagaimanapun juga, bukan Gervasoni yang melibatkan Conte dalam pusaran ini, tetapi Filippo Carobbio.

Carobbio bermain di bawah Conte saat pelatih Juventus itu menukangi Siena. Dia mengklaim, ada rencana untuk mengatur pertandingan melawan Novara pada April 2011 karena presiden Siena Massimo Mezzaroma bertaruh uang yang sangat besar untuk hasil imbang. Pertandingan berakhir 2-2.

Carobbio mengklaim Conte sepenuhnya mengetahui rencana itu. "Ada kesepakatan untuk hasil imbang dan, faktanya, kami membicarakan itu dalam technical meeting kami," ungkapnya pada 2012. "Kami semua mengetahui hasil akhir yang disepakati, jadi kami bisa bertindak sesuai saat pertandingan. Pelatih, Conte, memberitahu kepada kami bahwa kami bisa beristirahat dengan nyaman karena kami sudah mencapai kesepakatan dengan Novara."

Mantan pemain timnas Italia itu kemudian dibersihkan dari segala tuduhan terkait laga melawan Novara. Tetapi, Carobbio juga mengklaim bahwa Conte mengetahui upaya kedua untuk mengatur skor, melawan AlbinoLeffe jelang kompetisi berakhir di musim yang sama.

Menurut Carobbio, pada Januari 2011, asisten pelatih Siena Cristian Stellini menginstruksikan dia dan rekan setimnya, Claudio Terzi, agar menghubungi pemain AlbinoLeffe untuk "membuat kesepakatan untuk pertandingan berikutnya, agar poin bisa diberikan kepada klub lebih yang membutuhkan." Pada saat itu, Siena sudah mengamankan tiket promosi ke Serie A, sementara lawan mereka masih bersaing menghindari degradasi.

AlbinoLeffe menang 1-0, meski Carobbio mengklaim tidak semua orang di Siena yang ingin terlibat. "Beberapa menginginkan kemenangan, berharap bisa menduduki posisi pertama dan mendapatkan bonnus maksimal [karena menjadi juara]," ujarnya. "Bagaimanapun juga, pada akhirnya, kami semua sepakat, tim dan pelatih, untuk memberi kemenangan kepada AlbinoLeffe."

Conte tetap menegaskan bahwa dia tidak mengetahui aktivitas ilegal tersebut. Bagaimanapun juga, dia sepakat untuk mengajukan permohonan yang disarankan jaksa penuntut, Stefano Palazzi, yang akan membuatnya menerima larangan tiga bulan tanpa harus menerbitkan pengakuan bersalah dalam bentuk apapun.

Proposan itu ditolak oleh federasi sepakbola Italia (FIGC), dan membuat Conte terkejut: "Saya sepakat dengan hakim pada satu hal: 90 hari bukan hukuman yang layak - yang benar adalah nol. Bahkan, jika hari ini, saya mendapatkan kepastian larangan tiga bulan, jawaban saya tetap 'tidak'. Saya tidak melakukan hal ilegal dan saya tidak gagal melaporkan apapun."

Setelah itu, Conte menolak tawaran jaksa penuntut, dengan mereka akan berusaha melakukan negosiasi untuk permohonan kedua yang bisa diterima oleh FIGC. Bahkan, ia mengklaim, dia dipaksa untuk menerima tawaran pertama dengan Palazzi.

"Saya melihat adanya pemerasan untuk permohonan," ujarnya. "Saya orang yang tidak bersalah, tetapi saya diminta pengacara saya untuk mengajukan permohonan. Itu memalukan. Mereka merusak kredibilitas saya di ruang ganti. Orang-orang yang mengenal saya, tahu seperti apa Antonio Conte itu...

"Sekarang saya takut berdebat dengan salah satu pemain saya sendiri. Jika saya mengirim satu pemain ke tribun, maka hal seperti ini bisa terjadi. Mereka mempercayai kata-kata seseorang yang telah menjual sepakbola selama tiga setengah tahun!"

Kredibilitas Carobbio kerap dipertanyakan, sementara tidak ada pemain Siena lain yang melibatkan Conte dalam pengaturan skor. Ini hanya kalimat dari satu orang dan mengingat Conte disidang dalam proses yang mempertimbangkan seorang tersangka bersalah sampai terbukti tidak, tidak mengejutkan bahwa dia tidak hanya mendapat sanksi sepuluh bulan tetapi hal itu juga diperkuat oleh Pengadilan Federal Italia.

Bagaimanapun juga, keputusan tersebut membuat Conte dan Juventus (klubnya saat itu) marah karena laporan terkait pertandingan Novara sudah dibatalkan waktu itu, setelah Conte mampu membuktikan bahwa striker Salvatore Mastronunzio tidak masukkan dalam starter karena cedera.

Conte kemudian melakukan banding dan sanksinya dikurangi menjadi empat bulan oleh Pengadilan Nasional Arbitrase Olahraga. Karena itu, dia tidak bisa duduk di bangku cadangan dalam sebagian besar putaran pertama musim 2012/13.

Conte tetap teguh pada pendirian bahwa ia tidak bersalah, tetapi jaksa penuntut berpendapat, ia tidak mungkin tidak tahu jika asisten pelatih, Stellini - yang dihukum dua setengah tahun - telah sepakat untuk mengatur skor melawan AlbinoLeffe. Palazzi juga membela motif Carobbio karena melibatkan mantan pelatihnya itu: "Dia akan mendapatkan hukuman yang sama, bahkan jika dia tidak menyebut nama Conte. Jadi tidak ada elemen hubungan pribadi. Malah, kami melihat ada konsistensi dalam pernyataan pemain."

Karena alasan itu, kecurigaan terhadap perbuatan tercela tidak pernah menguap dan juga mengapa Conte sekarang dihadapkan dengan kasus penipuan olahraga.

Pengadilan sekarang berjalan dan diperkirakan tuntas pada pertengahan Mei, dengan pihak berwajib sepakat untuk mempercepat proses agar Conte bisa mengetahui nasibnya sebelum Euro 2016. Selain itu, meski jaksa penuntut meminta sanksi penjara enam bulan dan denda €8 ribu, diyakini bahwa meski Conte dinyatakan bersalah, dia akan lolos dari sanksi, sehingga membuatnya bebas untuk sepenuhnya konsentrasi pada persiapan timnas Italia di Prancis dan juga pekerjaan barunya di Chelsea.

Salah satu pengacara Conte, Leonardo Cammarata, mengakui bahwa citra kliennya sangat terpukul dengan kasus ini. Namun, ia yakin, masa depan Conte tidak terpengaruh sama sekali.