Javier Mascherano Centurion Keempat Albiceleste

Kini Javier Mascherano mensejajarkan diri dengan tiga nama legenda tim Tango.

OLEH FARABI FIRDAUSY Ikuti di twitter

Pertandingan antara Argentina dan Iran terasa begitu penting untuk seorang Javier Mascherano, bukan hanya karena Argentina menang untuk memastikan tiket ke babak 16 besar Piala Dunia. Namun juga sang monster itu telah mematenkan 100 caps nya bersama Albiceleste.

Digit 100 tentu merupakan pencapaian luar biasa untuk karier internasional seorang pesepakbola. Buktinya, tak banyak yang bisa menembus angka tersebut kala berseragam biru-putih Argentina.

Tercatat hanya ada tiga pemain yang menjadi centurion untuk timnas Argentina sebelum Mascherano. Kini gelandang petarung yang genap berusia 30 tahun 8 Juni lalu itu bergabung bersama Javier Zanetti (145), Roberto Ayala (115) dan Diego Simeone (106) sebagai sosok yang menembus bilangan 100.

Mascherano mengawali karier internasional 16 Juli 2003 kala Argentina berjumpa Uruguay di Buenos Aires. Dalam laga yang berakhir imbang 2-2 itu, Mascherano tampil penuh selama 90 menit.

Marcelo Bielsa yang saat itu menjadi pelatih dari tim Tango tertarik menggunakan jasa Mascherano muda di tim senior, meski ia belum pernah bermain untuk klubnya River Plate sekali pun. Pasalnya, Mascherano memang sudah mencolok dengan peran langkanya ketika membela Argentina U-17 di ajang FIFA U-17 World Championship. Di mana Argentina berakhir di posisi keempat setelah kalah dari Burkina Faso di semi-final. Kemudian, di ajang yang sama namun level U-20, Mascherano juga jadi andalan, dan lagi-lagi, Argentina berakhir di posisi keempat.

Hingga pada akhirnya di Athena 2004, Mascherano mengecap manisnya menjadi juara. Argentina meraih medali emas dengan menumbangkan Paraguay 1-0. Karier untuk Mascherano terus berlanjut hingga ke Copa America 2004 di Peru. Di sana, Argentina hanya menjadi runner-up usai tumbang di laga pamungkas oleh Brasil.

Marcelo Bielsa pun akhirnya lengser dari tahta kepelatihan Argentina, dan Jose Pekerman yang duduk sebagai peramu taktik tak membawa Mascherano ke Piala Konfederasi 2005, di Jerman. Namun seiring waktu Mascherano terus berkembang di level klub hingga berkarier di Liga Primer Inggris bersama West Ham United dan Liverpool, ia pun akhirnya terus menjadi pilihan skuat Argentina, termasuk saat Piala Dunia 2006 juga 2010.

Mascherano memang terbilang pemain langka di masa-masa itu, pemain yang mengidolakan Claude Makelele tersebut memainkan peran yang sama di lapangan dengan sang idola. Saking tak banyak pemain yang bisa berperan seperti itu, sampai ada julukan Makelele Role, dan Mascherano disebut salah satu pemain yang bisa memainkan peran langka tersebut. "Saya selalu mencirikan diri saya seperti Makelele, meskipun saya tak bisa menjelaskan kenapa," ujarnya.

"Ketika saya masih muda, saya selalu berusaha untuk meniru Makelele. Saya pikir dia adalah salah satu pemain gelandang bertahan terbaik,” ungkapnya.

Namun banyak yang menyebut, bahwa daya jelajah dari Mascherano melebihi dari daya jelajah Claude Makelel sendiri. Laman resmi FIFA pernah menyatakan: "Sebagai pemain yang mengidolakan sosok Claude Makelele, Mascherano mampu menjelajahi lapangan dua kali lipat dari sang idola."

2010 pun jadi tahun yang spesial bagi Mascherano, Diego Maradona yang datang sebagai pelatih mengatakan bahwa dirinya memiliki kekaguman kepada Mascherano. Sehingga tak segan memberikan ban kapten Albiceleste kepada sang pemain di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan.

"Saya ingin Mascherano menjadi kapten karena saya percaya dia adalah pemain Argetnina yang paling ideal berkostum Argentina - rela berkertingat, berkorban, menjadi profesional, dekat dengan rekan setim.

"Saya akan memintanya. Dia akan menjadi kapten," tegas Maradona.

Mascherano pun sempat menolak untuk mengemban tugas berat itu. "Kapten adalah orang yang selalu didengar oleh rekan setim. Dan saya merasa tidak pantas karena saya bukan tipe yang banyak berbicara di ruang ganti," beber Mascherano.

Namun akhirya, El Jefecito atau si kepala kecil menerima mandat dari Maradona dan jadi pemimpin Lionel Messi cs di Afsel. "Dia sempat menolak dan saya coba meyakininya. Dia merupakan pemain yang hampir mirip dengan saya," jelas Maradona.

Sayangnya perjalanan Argentina di Afsel tak begitu indah. Mereka harus tersingkir dari Jerman di babak perempat-final, bahkan Argentina dibantai dengan skor 4-0.

Maradona pun lengser dan tak lagi mengawal Argentina di Copa America 2011, namun sosok The Little Chief tetap mendapat kepercayaan pelatih anyar Sergio Batista untuk menjadi kapten. Lagi-lagi, di ajang tersebut Argentina tidak beruntung meski bermain sebagai tuan rumah. Uruguay yang akhirnya menjadi kampiun mengadang jalan Argentina di babak perempat final.

Kini, Mascherano tak lagi menjabat sebagai seorang kapten tim Tango. Namun sosoknya tetap penting bagi pelatih Alejandro Sabella di Piala Dunia 2014. Terbukti dengan koleksi caps yang terus bertambah hingga kini ia menjadi salah satu dari sedikit centurion Argentina.

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.

Topics