Jeonbuk Hyundai Motors, Sang Raja Yang Jadi Pecundang

Kebesaran klub raksasa Korea Selatan yang sudah berusia 23 tahun tersebut harus runtuh tahun ini akibat skandal pengaturan skor.

Akhir November tahun lalu menjadi momen yang berkesan dalam sejarah perjalanan Jeonbuk Hyundai Motors di kancah Asia sebagaimana mereka sukses mengangkat trofi Liga Champions.

Keberhasilan raksasa Korea Selatan tersebut mengalahkan wakil Uni Emirat Arab (UEA) Al Ain dengan agregat 3-2 dalam dua partai final sanggun memastikan titel kontinental kedua mereka sejak 23 tahun berdirinya klub.

Pencapaian brilian itu membuat mereka berhak mewakili Asia -- selain jatah tuan rumah Jepang yang diambil Kashima Antlers -- dalam gelaran Piala Dunia Antarklub 2016, di mana langkah mereka hanya sebatas sampai perempat-final.

Jeonbuk sendiri merupakan salah satu klub yang paling disegani di pentas sepakbola domestik Korea Selatan era modern. Klub yang memiliki julukan Noksekjunsa atau berarti pasukan hijau punya koleksi empat gelar juara kasta tertinggi yang dikenal dengan nama K-League Classic (2009, 2011, 2014, 2015) ditambah dengan lima trofi lokal lainnya.

Kim Hyung-Il Jeonbuk Hyundai

Awalnya didirikan pada 1993 dengan nama Wansan Puma FC, namun masa hidup klub yang digagas oleh Oh Hyung-Kun itu tak bertahan lama. Setahun berikutnya, rencana untuk berpartisipasi pertama kalinya di ajang K-League harus tertunda akibat masalah finansial dan transisi kepemilikan klub.

Sempat bertahan dengan dukungan dana dari perusahaan minuman beralkohol Bobae, klub berganti nama menjadi Chonbuk Buffalo untuk mengikuti kompetisi profesional perdana mereka. Akan tetapi dalam perjalanannya masalah finansial kembali menghampiri yang berujung pada pembubaran klub di akhir musim.

Di tahun yang sama, perusahaan manufaktur otomotif raksasa Hyundai Motors datang untuk menyelamatkan nasib klub. Nama pun diubah menjadi Jeonbuk Dinos pada awalnya setelah proses akuisisi tuntas pada 12 Desember 1994. Uniknya, pihak otoritas liga menyatakan Chonbuk Buffalo dan Jeonbuk Hyundai Motors adalah dua klub yang berbeda sehingga secara sejarah dan statistik, klub yang dinaungi Hyundai Motors baru resmi tercatat mulai per tuntasnya akuisisi dengan mengabaikan sejarah pada era sebelum itu.

Dalam perjalanannya di kompetisi profesional, Jeonbuk berkembang menjadi salah satu kekuatan Korea Selatan yang disegani di turnamen Asia. Trofi Liga Champions Asia 2006 menjadi kisah sukses internasional pertama mereka setelah mengalahkan klub Suriah, Al Karamah.

Jeonbuk Hyundai coach Choi Kang-Hee

Choi Kang-hee merupakan pelatih tersukses yang pernah menangani Jeonbuk dengan sanggup membimbing tim meraih empat gelar juara liga domestik serta sepasang trofi Liga Champions Asia (2006 dan 2016). Diangkat pada 2005 lalu, Jeonbuk menjadi satu-satunya klub yang ditangani pria berusia 57 tahun tersebut hingga saat ini terlepas dari dua tahun periodenya melatih tim nasional Korea Selatan (2011-2013).

Sepanjang kampanye Liga Champions Asia musim lalu, praktis sama seperti kebanyakan klub-klub Korea Selatan lainnya, Jeonbuk banyak bertumpu pada kualitas para penggawa lokal mereka yang dikombinasikan dengan deretan legiun asing asal Brasil sebagai pelengkap. Salah satu bintang yang masih trus menjadi andalan adalah striker veteran berusia 37 tahun, Lee Dong-gook yang sudah menorehkan 126 gol dari 244 penampilan sejak 2009 silam.

Namun sayang, nama besar klub tercoreng dengan skandal pengaturan skor yang kembali mencuat belakangan ini di Korea Selatan. Kasus sebenarnya bermula pada 2013 yang kemudian pengadilan pada Mei tahun lalu menyatakan dua wasit bersalah karena menerima dana sekitar $4,000 dari salah seorang tim pengintai Jeonbuk.

Buntut dari kejadian tersebut, Jeonbuk mendapat hukuman pengurangan sembilan poin dan denda sebesar $91,000 setelah terbukti terlibat dalam skandal pengaturan skor. Dengan pemotongan poin signifikan itu, Jeonbuk gagal meraih gelar juara K-League Classic untuk kali ketiga secara beruntun dan harus rela menyaksikan rival mereka, FC Seoul berpesta.

Tak sampai di situ, hukuman lebih lanjut turut dijatuhkan pihak Asosiasi Sepakbola Asia (AFC) di awal tahun ini yang melarang klub asal Jeonju tersebut untuk tampil di pentas Liga Champions Asia tahun ini dengan jatah mereka dialhkan pada Jeju United. Itu berarti Jeonbuk dipastikan tak bisa mempertahankan trofi yang mereka rengkuh tahun sebelumnya, dan sang raja pun harus jadi pecundang.