Jerman Membuktikan Ke-Panser-an Mereka

Jerman pernah dikenal sebagai tim Panser, dan apa yang mereka tunjukkan dini hari tadi menegaskan status mereka.

Apa kesan Anda ketika melihat Jerman menundukkan Ukraina 2-0 dini hari tadi? Bermain stabil? Tetap menekan? Terus menciptakan peluang? Konsisten? Tangguh? Terkesan lamban?

Sebagian dari apa yang tertulis di atas mungkin ada di benak Anda, atau mungkin tidak sama sekali. Tapi bagaimana pun, Jerman sudah menunjukkan penampilan yang menjanjikan di Stade Pierre-Mauroy.

Ya, kelas Jerman sebagai juara dunia 2014 masih tersisa, meski pemain kawakan seperti Philipp Lahm dan beberapa lainnya memutuskan untuk menyerahkan masa depan timnas Jerman ke pemain yang lebih muda.

Harus diakui Joachim Low memegang peran tersendiri atas keberhasilan Jerman membukukan kemenangan, yang cukup meyakinkan di laga ini. Dia sudah memainkan strategi yang tepat, memberikan motivasi yang pas dan terus mengangkat mental pemainnya ke level yang dibutuhkan untuk meraih kemenangan.

Tapi yang kemudian paling mengesankan adalah bagaimana Jerman menyuguhkan level permainan mereka. Tak ada pergerakan yang mengejutkan, di luar rencana. Semua seakan tertata sejak awal. Lihat saja bagaimana gol-gol yang tercipta ke gawang Ukraina.

Gol Skodran Mustafi. Berawal dari tendangan bebas, bola diarahkan ke jalur berlari dan terbang Mustafi untuk kemudian diteruskan dengan sundulan keras. Sementara gol Bastian Schweinsteiger, Mesut Ozil menyuguhkan bola lewat umpan silang tepat di mana kaki gelandang Manchester United itu menjulur.

Selain itu, peluang demi peluang tercipta dengan kans gol di atas 50 persen. Hanya faktor keberuntungan dan kesigapan pemain lawan yang kemmudian menggagalkan gol tersebut.

Lihat saja catatan statistik bermain mereka. Dalam penguasaan bola, Jerman menguasai pertandingan dengan 68,1 persen, umpan mencapai 675, alias lebih dari dua kali lipat aksi umpan Ukraina, dengan akurasi mencapai 88,4 persen. Bahkan akurasi umpan di zona lawan mencapai 84,4 persen.

Giliran memberikan ancaman ke gawang lawan, Jerman rajin melakukannya di laga melawan Ukraina. 18 tendangan dilepaskan, sembilan mengarah ke gawang, empat sukses diblok, tapi dua berujung gol. Akurasi tendangan, 64,3 persen.

Apa yang kemudian disuguhkan Jerman tersebut mengingatkan kembali mengapa pernah ada julukan Panser untuk mereka. Panser sendiri merupakan kendaraan perang, yang lambat panas, namun konsisten, tangguh, kokoh dan pastinya merupakan kendaraan tempur produksi Jerman di tahun 1930an.

Mungkin untuk karakter lambat panas, hal itu sudah tak terlihat dari skuat Jerman di era Low. Sejak awal laga, Thomas Muller langsung menggebrak dan menekan pertahanan lawan, dengan kekuatan yang terukur dan ritme permainan yang terus terjaga. Karena alasan itu pemain Jerman bisa terus menjaga konsistensi bermain mereka selama 90 menit penuh.

Sedangkan soal konsistensi, kokoh dan tangguh, Anda masih bisa melihatnya sampai saat ini. Kekokohan bisa Anda saksikan dari lini per lini skuat Low. Sementara soal ketangguhan, ini lebih kepada sudut pandang psikologi. Secara mental dan semangat, penggawa Jerman masih mewarisi semangat bangsa Aria, yang dari sudut pandang positif merupakan semangat yang luar biasa.

Tapi apa pun itu, Jerman sudah menyuguhkan performa yang namun sangkil dan mangkus, efektif dan efisien.

Pastinya menjadi hal yang menarik untuk melihat bagaimana Jerman menegaskan status mereka sebagai tim unggulan di Euro 2016 ini, sekaligus menunjukkan kepantasan menyandang julukan sebagai tim Panser. Kita lihat seberapa jauh Jerman melangkah di Euro 2016 ini.

Menurut Anda?