Jose Mourinho Dan Hukum Karma

Jose Mourino terdepak dari Stamford Bridge dengan melihat para rivalnya yang ia ledek akhir musim lalu - dan beberapa tahun lalu - bersaing memperebutkan gelar juara.


GOALOLEH   TEGAR PARAMARTHA   


Mungkin masih banyak yang ingat bagaimana Jose Mourinho mengekspresikan kegembiraannya usai mengantar Chelsea juara musim lalu saat acara penghargaan tahunan klub.

Ia menampilkan sebuah tayangan yang meledek para rivalnya di Liga Primer Inggris, yaitu Arsenal. Manchester City dan Manchester United.

Pertama, ia menyebut skuat asuhan Louis van Gaal hanya bermain berputar-putar di atas lapangan tanpa gawang sehingga tidak mencetak gol meski menguasai banyak bola. Kemudian, ia menyerang City yang ia sebut bermain dengan satu gawang, sehingga tidak bisa menjadi juara.

Terakhir, ia meledek Arsenal yang ia sebut bermain sesuai aturan FIFA, dengan dua gawang, mampu mencetak gol dan juga kemasukan, namun hanya meminta bermain Januari hingga April (di mana The Gunners meraih hasil sangat positif).

Namun, tidak ada yang menyangka, beberapa bulan kemudian, Mourinho mengantar The Blues ke dalam periode yang sangat kelam hingga mengakibatkan The Special One terdepak dari kursinya.

Sepanjang karirnya, Jose Mourinho kerap yang mendapatkan tawa terakhir. Pelatih tersukses dalam satu dekade terakhir, bersama arsitek Bayern Munich Pep Guardiola, selalu mampu 'menaklukkan' rival-rivalnya. Bagaimanapun juga, musim ini tidak demikian.

Pada pertandingan terakhir, The Blues bertandang ke markas Leicester dalam laga lanjutan Liga Primer Inggris. Ia berhadapan dengan tim kejutan dan juga rival lamanya, Claudio Ranieri.

Mou menggantikan Ranieri di Chelsea pada periode pertamanya 2004 silam. "Ini adalah akhir dari siklus," ujarnya saat itu. Tetapi, kemudian ia menyerang pelatih asal Italia tersebut ketika keduanya bekerja di Serie A Italia, Mourinho di Inter sementara Ranieri di Juventus.

"Ranieri memiliki mentalitas sosok yang tidak perlu kemenangan," ujarnya pada 2008. "Dia hampir 70 tahun, dia telah menjuarai Piala Super dan trofi kecil lain dan dia sudah terlalu tua untuk mengubah mentalitasnya. Dia tua dan dia tidak memenangkan apapun."

Pelatih Italia itu sebenarnya berusia 56 tahun ketika itu, sementara dia juga memenangkan banyak trofi yang seharusnya lebih diapresiasi oleh Mourinho: Copa del Rey dan Piala Super UEFA bersama Valencia plus Coppa Italia dan Piala Super Italia bersama Fiorentina. Namun, bagaimanapun juga, Inter asuhan Mou mampu mengalahkan Juve besutan Ranieri dalam persaingan gelar juara dan mempertahankan reputasinya sebagai jawara mind games.

Tetapi di King Power Stadium, situasi berbalik, skuat asuhan Mourinho terjungkal oleh tuan rumah Leicester besutan Ranieri. The Foxes merangsek ke puncak klasemen, sementara The Blues hanya satu poin di atas zona merah.

Beruntung situasi tidak lebih buruk karena sebelumnya, Mourinho telah memperbarui komentarnya terhadap Ranieri. "Saya pikir dia memenangkan penghargaan pelatih terbaik bulan ini," ujarnya. "Dia harus menjadi pelatih terbaik setengah musim...enam bulan pertama." Meski, ia tetap tidak bisa menahan untuk melanjutkan dengan sedikit sindiran. "Tahun lalu, Ranieri didepak Yunani karena kalah dari Kepulauan Faroe. Sekarang, di puncak liga. Ini menarik."

Tentu, bukan hanya Ranieri yang pernah merasakan komentar pedas dari pelatih asal Portugal tersebut. Arsene Wenger menjadi salah satu favorit Mou. Eks pelatih Real Madrid itu melabeli Wenger sebagi spesialis dalam kegagalan tahun lalu. Dia juga mempertanyakan mengapa pelatih asal Prancis itu bertahan lama di kursi pelatih The Gunners.

"Setiap manajer lain dalam tekanan. Steve dalam tekanan, saya dalam tekanan, Brendan Rodgers dalam tekanan, Manuel Pellegrini dalam tekanan, semuanya dalam tekanan," ujar Mou pada September silam.

"Kami tidak boleh menderita kekalahan. Kami tidak boleh tampil di bawah ekspektasi. Kami harus mencapai target. Jadi saya bersimpati kepada semua manajer dan juga saya yakin mereka juga bersimpati kepada saya karena ini tugas yang sulit."

"Atas dasar alasan tertentu, ada satu yang berada di luar daftar itu. Dia tidak masuk dalam daftar, tapi itu bagus buatnya."

Ketika ditanyakan siapa manajer yang dimaksud, Mourinho menjawab tanpa menyebutkan nama.

"Dia boleh membicarakan wasit sebelum pertandingan, dia boleh membicarakan wasit setelah pertandingan, dia boleh mendorong orang di area teknis, menangis di pagi hari, menangis di sore hari, tidak ada yang terjadi. Dia tidak berprestasi, tapi bertahan di pekerjaannya, dia masih bisa menjadi raja. Sungguh sebuah keistimewaan," pungkasnya.

Kemudian, ada pelatih Manchester City, Manuel Pellegrini. Pelatih asal Cile itu digantikan Mou di Real Madrid dan ketika Pellegrini mengunjungi Santiago Bernabeu sebagai pelatih Malaga, Mou mengatakan: "Jika Madrid memecat saya, saya akan hengkang ke klub besar di Inggris atau Italia. Saya tidak akan pergi ke Malaga."

Tetapi, sungguh ironis, kali ini bukan Mou yang mendapat tawa terakhir. Kedua rivalnya itu - ditambah dengan Ranieri dan Manchester United besutan Louis van Gaal - berada di empat besar dan bersaing ketat untuk menjadi juara Liga Primer Inggris musim ini, sementara Mou sudah terdepak dari Chelsea, yang malah terancam degradasi.

Karma telah menghukum Mou, tetapi kiprah dan kebangkitannya di dunia sepakbola sebagai The Special One akan masih terus ditunggu dan dinantikan.