Julien Faubert Usung Target Tiga Besar

Julien Faubert menegaskan tidak punya penyesalan dalam pilihan hidup serta memilih Indonesia bukan karena merasa ingin menebus karier.


WAWANCARA EKSKLUSIF   AGUNG HARSYA     Ikuti @agungharsya di twitter


Setelah membeberkan alasan memilih Indonesia sebagai tempat melanjutkan karier, Julien Faubert menetapkan target tinggi bersama Borneo FC pada Liga 1 Indonesia musim ini.

Goal Indonesia mendapatkan kesempatan mewawancarai secara eksklusif eks pemain West Ham United dan Real Madrid itu pada acara peluncuran PUMA FUTURE di Jakarta, Jumat (9/3) sore.

"Sepakbola Indonesia sungguh sengit, sangat gesit. Sebagai pemain Anda harus selalu siap, harus selalu berlari. Itu cocok dengan sepakbola saya karena saya tipe pemain yang menyenangi kontak fisik, serta juga bermain dan berlari. Saya menyenangi sepakbola Indonesia meski saya belum terjun di liga. Saya baru bermain di Piala Presiden. Itu menjadi ujian pertama yang bagus buat saya. Saya menyukainya, jadi kita lihat seperti apa di liga nanti," bilang Faubert.

Saat ditanyakan tentang target tim, pemain 34 tahun ini menjawab tanpa ragu.

"Target kami jelas. Bos [Nabil Husein] punya proyek untuk klub dengan menjadikannya di tingkat tertinggi Indonesia. Saya seorang pemenang, saya senang menang, saya ingin menang. Jujur, ekspektasi kami adalah tiga besar. Saya yakin bisa mewujudkannya. Kami harus lebih dahulu membangun mentalitas pemenang, tapi target klub adalah tiga besar di Liga 1," cetusnya.

Borneo menjadi klub profesional kedelapan yang diperkuat Faubert sepanjang karier. Kiprahnya terbilang penuh warna-warni, seperti ketika direkrut Real Madrid dengan status pinjaman dari West Ham United. Faubert hanya tampil dua kali untuk Los Blancos dan menjadi sasaran ejekan banyak fans.

Kepindahan ke Borneo bisa dianggap menjadi bentuk pemulihan karier, tapi Faubert tidak mau terbebani dengan masa lalu.

"Saya sering berpindah klub karena saya ingin mengenali budaya lain. Saya melancong ke mana-mana ketika di Turki, begitupun ketika di Madrid atau di Inggris," jawabnya.

"Ini bukan semacam penebusan, melainkan sebuah awal dari sesuatu. Dalam hidup, saya pikir kita harus selalu bersikap terbuka, selalu belajar dari budaya yang baru. Saya di sini juga untuk belajar tentang budaya Indonesia. Jadi, ini bukan lah penebusan. Saya melakukan hal-hal yang saya senangi dan tanpa penyesalan. Tidak ada penyesalan... Tidak ada yang disesali."

Jika bisa mengubah masa lalu, apakah ada yang hendak dilakukan Faubert?

"Tidak. Saya takkan mengubah pilihan saya karena hal terburuk dalam hidup adalah hidup dengan penyesalan. Saya selalu memutuskan dari hati. Saya membuat pilihan yang terkadang tidak dipahami orang, tapi saya maju terus," sambungnya.

"Banyak orang di Prancis tidak habis pikir saya datang ke Indonesia. Saya jelas tahu kenapa. Saya tidak pernah menyesali apa pun. Itu lah karakter saya. Saya pria yang kuat. Saya selalu menatap ke depan dan tak pernah menyesali apa pun."

Faubert bercita-cita ingin melanjutkan karier sebagai pelatih saat gantung sepatu kelak.

"Jujur, saya ingin melatih. Saya akan mengambil lisensi kepelatihan di sini di Indonesia karena saya ingin menjadi seorang pelatih," ujarnya.

"Saya ingin terus berkiprah di dunia sepakbola, jadi kenapa tidak menjadi pelatih dan berbagi pengalaman saya di sepakbola internasional serta level tertinggi? Untuk saat ini saya fokus ke Borneo dan liga, tapi di akhir karier, ya saya ingin menjadi pelatih."

LIMA ARTIKEL TOP PEKAN INI I
1. Timnas Indonesia U-16 Menang Besar Di Laga Perdana Turnamen JENESYS
2. Cukup Tiga Menit, Pelajaran Brutal Juventus Untuk Tottenham
3. Mario Balotelli: Dani Alves Bicara Sampah!
4. Cristiano Ronaldo Sang Mr. Champions League Perlihatkan Pada Dunia, Real Madrid Masih Perkasa
5. Jadwal, Hasil & Klasemen Timnas Indonesia U-16 Di Turnamen JENESYS