Juventus Bermain Api Scudetto

Juventus secara radikal menempatkan diri mereka sendiri di posisi sulit dalam perburuan meraih Scudetto musim ini.

"Sejujurnya duel ini lebih menentukan untuk Napoli karena kami unggul empat poin. Jika kalah, kami masih unggul satu poin dan bisa memetik poin di laga selanjutnya tanpa masalah," tutur pelatih Juventus, Massimiliano Allegri, jelang bentrok timnya kontra Napoli, Senin (23/4) dini hari WIB.

Satu sikap yang riskan ditunjukkan, menghadapi duel yang disebut La Gazzetta dello Sport sebagai "Pertandingan Terbesar Serie A Musim Ini". Ya, karena tidak hanya gengsi dan sejarah yang dipertaruhkan kedua tim, tapi juga kans merebut Scudetto.

Juve dan Napoli sebelumnya dipisahkan jarak empat poin, di peringkat dua teratas dengan I Bianconeri sebagai Capolista-nya. Plus Serie A Italia 2017/18 yang tinggal sisakan empat giornata, pemenang dari laga ini diyakini miliki kans yang lebih besar untuk akhiri musim dengan Scudetto.

Situasinya memang menguntungkan Juve, yang menstimulasi ketenangan Allegri dan mungkin seluruh skuatnya. Maklum, Si Nyonya Tua bermain di Allianz Stadium, tempat di mana Napoli selalu kalah, dan hasil imbang sebenarnya cukup untuk menjaga kans Scudetto tetap di level yang sama.

Namun sepertinya Juve lupa bahwa mereka akan menghadapi versi terbaik Napoli selepas era Diego Maradona. Allegri juga tampaknya lupa memeriksa jadwal, jika timnya harus bertandang ke markas Inter Milan dan AS Roma dalam dua dari empat giornata sisa.

Benar saja, ketenangan atau mungkin sikap meremehkan Juve terpampang dari starting XI yang diturunkan. Benedikt Howedes yang di partai itu baru memainkan partai ketiganya untuk Juve diturunkan sebagai bek kanan sejak menit pertama, sedangkan Alex Sandro diparkir untuk memberi tempat pada Kwadwo Asamoah di pos bek kiri.

Paulo Dybala yang dikecam media akibat performa buruknya belakangan, secara mengejutkan tetap jadi andalan di depan. Padahal Mario Mandzukic yang sedang on fire sudah kembali dari cedera ringan tengah pekan lalu. Tidak heran bila kemudian La Joya langsung ditarik keluar saat turun minum.

Keputusan yang salah juga dilakukan saat mengganti Giorgio Chiellini yang cedera di awal laga, dengan Stephan Lichtsteiner alih-alih Andrea Barzagli atau Daniele Rugani. Howedes yang tadinya jadi bek kanan digeser ke tengah, posisi yang bahkan di Schalke 04 sudah begitu lama tak dimainkannya.

Kejanggalan dalam pemilihan pemain diperburuk dengan performa Juve yang tak sesuai standar. Benar bahwa mereka diprediksi akan didominasi oleh sepakbola "Sarrismo" ala Napoli, tapi terlampau banyak kesalah passing dan positioning yang dilakukan oleh Gonzalo Higuain cs.

Hanya menguasai bola sebanyak 40 persen, akurasi operan Juve bahkan tak menyentuh angka 80 persen. Secara mengenaskan La Vecchia Signora bahkan mencatat rekor nol tembakan ke gawang lawan, di mana itu jadi yang pertama dalam sejarah mereka bermain di Allianz Stadium.

Di sisi lain, Napoli begitu sempurna baik dalam pemilihan pemain maupun taktik. Filosofi sepakbola cantik "Sarrismo" yang dicetuskan pelatihnya, Maurizio Sarri, membuat Allianz Stadium seakan jadi tempat bermain I Partenopei.

Hingga 60 persen penguasaan bola Napoli raih, plus 12 tembakan dengan empat di antaranya tepat sasaran. Lini pertahanan mereka juga tampil begitu disiplin, meski juga dibantu dengan payahnya positioning para attacante Juve.

Kredit khusus juga layak diberikan pada gelandang jangkarnya, Jorginho, yang mengerdilkan kualitas Miralem Pjanic sebagai dirijen lapangan dalam grande partita ini. Sang Oriundi tidak hanya brilian dalam mengatur tempo dan mengalirkan bola dengan mulus ke depan, tapi juga jadi tukang jagal yang merusak sirkulasi serangan Juve.

"Kami datang ke Allianz Stadium untuk mengambil inisiatif dan memaksa Juve hanya bermain lewat serangan balik. Mereka lantas hanya mengancam kami lewat bola mati. Secara keseluruhan, kami mendominasi penuh jalannya laga dan kemenangan adalah konsekuensi logis dari itu," ujar Sarri, seperti dikutip Mediaset Premium.

Keunggulan mutlak Napoli sejak menit pertama laga pada akhirnya terbayar oleh gol tandukan Kalidou Koulibaly dari situasi sepak pojok, satu menit jelang berakhirnya waktu normal. I Vesuviani pun membawa pulang kemenangan 1-0, yang jadi syarat mutlak mereka pertahankan mimpi indah Scudetto.

Juve? Secara radikal menempatkan diri sendiri di posisi sulit untuk pertahankan Scudetto ketujuh beruntun. Tim Hitam Putih bermain api di partai paling krusial musim ini, sesuatu yang mustahil dibayangkan dilakukan oleh tim yang begitu adidaya di Italia enam musim terakhir.

Benar bahwa Juve masih unggul satu poin, tapi seperti dibahas sebelumnya, La Vecchia Omcidi punya jadwal lebih berat ketimbang Napoli, dengan bertandang ke markas

Topics