Kasus Tewasnya Choirul Huda, PSSI Konsultasi Dengan FIFA

Meninggalnya Choirul Huda di lapangan membuat PSSI harus lebih memerhatikan pertolongan pertama di lapangan.

Kasus meninggalnya penjaga gawang Persela Lamongan Choirul Huda, pada pekan ke-29 Liga 1 2017, di Stadion Surajaya, ketika menjamu Semen Padang membuat seluruh komunitas sepakbola Indonesia terpukul.

Kiper 38 tahun itu meninggal dunia setelah bertabrakan dengan rekannya sendiri, Ramon Rodrigues, yang menyebabkan trauma pada bagian belakang leher dan punggung hingga menyebabkan masalah pada jantung.

Pertolongan pertama di lapangan ketika ada insiden seperti itu lantas jadi perhatian PSSI dan juga PT Liga Indonesia Baru selaku operator kompetisi. Huda sendiri sempat dilarikan ke rumah sakit, namun tak tertolong.

"PSSI menyadari bahwa perkembangan ini (pertolongan pertama) sudah cukup pesat. Kita ingin kasus ini menjadi refrensi, bahkan kita sharing ke FIFA. Ada case yang punya pendapat seharusnya itu ditangani tuntas di lapangan, tidak harus buru-buru ke rumah sakit dan seterusnya," buka wakil ketua umum PSSI, Joko Driyono.

"Komite di medis dan PSSI akan melakukan pendalaman terhadap kasus ini. Agar ke depan, penanganan yang demikian menjadi lebih efektif," sambung pria asal Ngawi itu.

Dalam sebuah pertandingan, perangkat ambulans, tandu, rumah sakit rujukan terdekat sudah menjadi sebuah standar. Kualitas dalam memberikan pertolongan pertama memang yang dirasa PSSI harus ditingkatkan di kemudian hari.

"Oleh karenanya, PSSI menyadari bahwa ini menjadi telaah yang sangat serius. Kami harus berdiskusi tidak hanya di level PSSI bahkan sampai ke FIFA. Banyak kejadian, ada sudden heart attack, cardiac arrest, benturan di kepala dan sebagainya."