Keagungan Francesco Totti Di AS Roma

Selama 25 tahun mengabdi untuk AS Roma, Francesco Totti mampu torehkan sederet statistik agung yang membanggakan.

Hari yang tak pernah diinginkan itu akhirnya tiba. Di usia 40 tahun Francesco Totti menyudahi masa abdi luar biasanya untuk satu-satunya klub yang dia bela dan satu-satunya klub yang dia cintai, AS Roma.

Seperempat abad membela panji kebesaran sebuah klub jelas bukan periode singkat. Seperti diungkapkan Totti, Anda yang saat kanak-kanak dahulu menggemarinya mungkin sekarang sudah jadi seorang ayah.

Selama itu pula Totti memberikan kebahagiaan hakiki pada Romanisti dan khalayak sepakbola dunia. Keanggunan dribble-nya, tekniknya yang sangat tinggi, tembakan geledek nan akuratnya, sampai emosinya yang kerap meluap ala Gladiator sejati bangsa Romawi.

"No Totti, No Party" begitu semboyan para Romanisti sejati selama 25 tahun lamanya. Ketika suporter Real Madrid, Barcelona, hingga Manchester United baru bisa bahagia saat timnya merengkuh gelar, Romanisti hanya butuh Totti.

Ya, sesederhana dan seistimewa itu.

Memulai kisah legendarisnya ada 28 Maret 1993 berkat jasa besar Sinisa Mihajlovic, Totti menjadi pemain yang paling sering tampil dalam sejarah Roma. Hingga laga pamungkasnya akhir pekan lalu, dia sudah tampil sebanyak 786 kali untuk Tim Serigala.

Mayoritas waktu bermain Il Capitano tentu hadir di Serie A Italia, lewat jumlah 619 penampilan. Jumlah itu membuatnya jadi pemain kedua berpenampilan terbanyak sepanjang sejarah Serie A, di bawah Paolo Maldini.

Di kancah Eropa, Totti tampil sebanyak 103 kali, dengan 57 di antaranya terjadi di kancah Liga Champions. Sayang tak satu pun gelar Eropa dimenangkannya. Paling banter dia membawa Roma melaju ke babak delapan besar Liga Champions.

Berbicara jumlah gol, lagi-lagi tak ada yang lebih baik dari Totti di Roma. Sebanyak 307 gol dicetaknya, dengan 250 di antaranya terjadi di Serie A. Koleksi yang membuatnya cuma kalah dari Silvio Piola, top skor sepanjang masa Serie A lewat torehan 274 gol.

Jika ditanya yang mana gol terbaiknya, Totti akan senang hati menjawab; "setiap gol yang saya cetak ke gawang Lazio". Faktanya semakin manis karena Er Pupone juga merupakan top skor sepanjang masa Derby della Capitale, berkat koleksi 11 gol sejajar dengan Dino Da Costa.

Melalui gelontoran gol-nya, Totti pun pernah didaulat menerima penghargaan sepatu emas Eropa. Gelar individu bergengsi itu didapat setelah dirinya jadi capocannoniere Serie A musim 2006/07 melalui lesatan 26 gol.

Jika harus mengungkap apa yang kurang dalam karier fantastis Totti, jawabannya sudah pasti raihan gelar kolektif. Untuk pemain sebesar dirinya, adalah ironi melihat fakta bahwa hanya ada tujuh gelar yang sanggup dimenangkannya.

Satu Scudetto, dua Coppa Italia, dan tiga Piala Super Italia, dipersembahkannya untuk Roma. Sementara di Timnas Italia, dari 58 caps dan sembilan gol, Totti mampu membawa La Nazionale jadi kampiun Piala Dunia 2006.

Ya, kenyataannya Totti memang tidak berada di klub sebesar Real Madrid atau Barcelona yang setiap musim punya kapasitas memenangkan gelar. Masa edarnya bersama Gli Azzurri juga tergolong singkat, karena memutuskan pensiun usai melegenda di Piala Dunia 2006.

Totti sebenarnya bisa saja menambah dua bahkan tiga kali lipat koleksi gelarnya, dengan hijrah ke klub yang lebih besar di masa jayanya. Namun terus bertahan bersama I Lupi selalu jadi pilihannya, prioritasnya. Sebuah keputusan yang hanya mampu dipahami Romanisti sejati.

Akhir kata, untuk segala yang pernah Totti berikan di sepakbola; Grazie per tutto e arrivederci al capitano di Roma!

Topics