Kejatuhan Sunderland, Terjun Dari Liga Primer Inggris Ke League One Dalam Kurun Dua Tahun

Klub berjuluk The Black Cats itu dipastikan akan meramaikan kompetisi kasta ketiga di Inggris setelah menjadi juru kunci di Championship musim ini.

Sunderland memasuki fase ketidakpastian dan hal itu dibenarkan oleh manajer Chris Coleman setelah klubnya terdegradasi ke League One menyusul kekalahan 2-1 dari Burton Albion di matchday ke-44 Championship, Sabtu (21/4) malam WIB.

Dengan hasil tersebut, klub berjuluk The Black Cats itu lantas dikonfirmasi bakal turun kasta dan ini terasa luar biasa mengingat di musim lalu mereka adalah peserta Liga Primer Inggris.

Setelah memecat David Moyes yang berperan besar dari proses kejatuhan mereka pada akhir musim kemarin, Sunderland mengarungi kompetisi Championship kali ini dengan kondisi compang-camping. Sejumlah hasil buruk lantas menerpa John O’Shea beserta kolega hingga memaksa direksi klub memecat manajer Simon Grayson di matchday ke-18.

Sunderland lantas mengangkat Coleman sebagai manajer anyar mulai pertengahan November kemarin, dengan ia memiliki rekam jejak mentereng karena pernah mengantar Wales ke semi-final Euro 2016. Akan tetapi, harapan Sunderland untuk bisa survive di Championship tidak terwujud karena kejatuhan mereka seperti tidak terbendung.

Degradasi ke League One pun dikonfirmasi pada malam tadi setelah Sunderland kalah dari Burton di kandang sendiri, dan klub penghuni Stadium of Light itu harus rela berstatus sebagai juru kunci di dua divisi dalam dua tahun beruntun.

Coleman selaku manajer yang turut terbenam hanya bisa meminta maaf. Ia mengatakan: “Konfirmasi degradasi adalah puncak dari kehancuran buat semua orang [yang terhubung dengan Sunderland]. Kami memulai musim dengan realistis setelah sebelumnya terdegradasi dari Liga Primer dan melihat kondisi keuangan kami, itu akan menjadi tantangan besar untuk segera kembali ke divisi teratas."

“Meski begitu, kami tidak membayangkan atau mengira bakal menghadapi prospek bermain di League One, yang membuat posisi ini semakin sulit untuk diterima. Terlepas kesulitan yang kami hadapi, fans kami bersinar terang. Mereka terus mendukung tim dalam jumlah ribuan, dan itu luar biasa untuk dilihat."

“Kami benar-benar menyesal bahwa kami belum mampu memberi mereka hasil positif seperti halnya dukungan mereka yang luar biasa. Ini juga merupakan pukulan besar buat staf kami, yang telah bekerja tanpa kenal lelah sepanjang musim dalam situasi yang menguji dan tidak pasti ini."

“Kami hanya bisa memberikan pujian atas ketangguhan dan dedikasi mereka karena mereka itu juga merupakan penggemar klub dan seperti pendukung kami, mereka merasakan sakit."

“Selagi kami merasa hancur hari ini, masih ada keinginan yang membara untuk membangun ulang dan menyegarkan kembali klub ini. Adapun untuk mencapai itu, harus diakui bahwa kami berada dalam periode ketidakpastian dalam kaitan dengan kepemilikan klub di masa depan dan resolusi akan menjadi faktor pendorong soal bagaimana kami bergerak maju."

“Sunderland AFC itu lebih dari sekadar klub. Ini adalah sebuah institusi yang sudah menjadi jantung dari kota dan komunitas ini selama hampir 140 tahun terakhir."

“Klub ini dibangun berdasarkan hasrat berakar yang dengan bangga diwariskan dari generasi ke generasi, dan semangat abadi yang tak tergoyahkan ini memberi kita kekuatan dan ketabahan yang mana kita butuhkan saat menghadapi tantangan."

“Lewat dukungan yang tulus dari fans kami, Sunderland AFC akan bangkit kembali,” tutup Coleman.