Kemenpora Tegur Keras Insiden Kematian Bobotoh & Siap Panggil Semua Suporter

Menpora Imam Nahrawi berharap Ricko jadi korban penganiayaan suporter yang terakhir.

Meninggalnya Ricko Andrean, suporter Persib Bandung yang coba melindungi Jakmania namun malah dikeroyok, membuat Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) berduka dan juga kecewa.

Ricko mengalami luka berat hingga dirawat beberapa hari setelah insiden pengeroyokan pada partai klasik antara Persib dan Persija Jakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, 22 Juli lalu. Pemuda 22 tahun itu pun akhirnya dipanggil Yang Maha Kuasa, Kamis (27/7).

Menpora Imam Nahrawi tak mau kejadian serupa sampai terulang di masa mendatang. Imam pun ingin mengkoordinasi semua pimpinan kelompok suporter agar bisa mengontrol para anggotanya sehingga tak ada Ricko lainnya.

"Pemerintah memberikan peringatan keras agar peristiwa seperti ini tidak terulang lagi. Agar persatuan lewat sepakbola yang kita harapkan benar-benar nyata," buka Imam di hadapan awak media, Jumat (28/7) siang.

"Tidak boleh lagi jatuh korban. Dalam waktu dekat pemerintah akan segera mengundang pimpinan suporter dan tentu pemilik klub. Kita diskusi bersama, cari format bersama, kita namakan islah suporter nasional Indonesia," papar dia.

Secara simbolis, sebenarnya sudah ada tanda perdamaian antara Bobotoh dan The Jak lewat pentolan mereka Yana Umar dan Ferry Indrasjarief. Sayangnya, hal itu hanya simbol semata yang diikuti para anggota kedua kelompok suporter tersebut sehingga insiden Ricko terjadi.

"Ricko Andrean ini harus menjadi yang terakhir, tidak boleh terulang lagi jatuh korban. Cukup sahabat kita jadi saksi bahwa sepak bola tanah air harus bersatu padu, tidak boleh semata-mata emosi karena dendam," beber Imam.

"Kami segera mengundang pimpinan suporter di tanah air dan melakukan islah suporter nasional Indonesia karena kita sudah dapat gambaran yang bagus dari pimpinan suporter Persija dan Persib. Dalam kesempatan ini akan kami undang PSSI, klub, Kepolisian, dan pimpinan suporter seluruh tanah air. Kita bikin komitmen bersama."