Kilas Balik Piala AFF 2004

Skuat Garuda mengakhiri turnamen edisi kali ini dengan antiklimaks meski sempat menampilkan permainan impresif sejak awal.

OLEH ERIC NOVEANTO Ikuti di twitter

Penampilan timnas Indonesia pada gelaran Piala AFF 2004 boleh dibilang menjadi salah satu yang terbaik dalam sejarah partisipasi di turnamen tersebut. Di bawah arahan pelatih Peter Withe, yang mentereng dengan reputasi tingginya saat membawa Thailand juara di tahun 2000 dan 2002, Indonesia bermain atraktif dengan menjadi tim terbaik sepanjang babak penyisihan grup di Piala AFF edisi ini.

Ini adalah edisi kedua sejak sebelumnya, di mana Piala AFF digelar dengan menggunakan format dua negara sebagai tuan rumah. Skuat Garuda tergabung di Grup A bersama dengan tuan rumah Vietnam, serta Singapura, Laos, dan Kamboja. Sementara Malaysia menggelar laga Grup B dengan kontestan Thailand, Myanmar, Filipina ditambah partisipan baru, Timor Leste sebagai pengganti Brunei, yang menolak ikut sepanjang turnamen disponsori perusahaan bir Tiger.

Mengawali kompetisi dengan bayang-bayang kedahsyatan era baru Vietnam dengan mengandalkan generasi Le Cong Vinh, Indonesia di luar dugaan justru mampu tampil atraktif dan mengesankan sepanjang empat pertandingan fase grup, menjadi tim tersubur dengan torehan 17 gol ke gawang lawan, serta tanpa sekalipun kebobolan!

Ketajaman luar biasa pasukan Merah Putih tersebut tak lepas dari hadirnya seorang bintang muda bernama Boaz Solossa, meski usianya sangat belia kala itu, ia dipercaya Withe menjadi ujung tombak utama. Keberadaannya melengkapi trisula maut bersama dengan Ilham Jaya Kesuma dan Kurniawan Dwi Yulianto. Kombinasi mereka tak mampu dibendung Laos, Kamboja bahkan tuan rumah Vietnam yang dipermalukan 3-0 di hadapan pendukungnya sendiri waktu itu. Dari serangkaian laga itu, hanya Singapura yang sanggup menahan imbang tanpa gol.

Dengan catatan gemilang itu, Indonesia melangkah ke babak semi-final dengan status sebagai juara Grup A, didampingi Singapura yang menyisihkan Vietnam di tempat ketiga. Berbeda dari edisi sebelumnya, semi-final kali ini digelar kandang dan tandang. Begitu juga dengan babak final yang dimainkan dua kali seturut markas masing-masing tim.

Fase inilah menjadi saksi perlawanan heroik Indonesia atas Malaysia. Sebelumnya, pasukan Harimau Malaya melenggang ke semi-final setelah menuntaskan persaingan ketat Grup B sebagai runner-up. Di bawah Myanmar yang dilatih Ivan Kolev menjadi kuda hitam turnamen dengan menyingkirkan tim kuat Thailand dan lolos sebagai pemuncak grup.

Mengawali babak semi-final dengan optimisme tinggi, Indonesia justru dikejutkan dengan penampilan Malaysia yang berhasil membalikkan ketertinggalan menjadi kemenangan 2-1 di laga leg pertama di Jakarta. Akibatnya, penonton marah di luar stadion sehingga skuat Malaysia terkurung lama di ruang ganti pemain. Tekanan berat pun berada di pundak pemain saat bersiap melakoni leg kedua di Kuala Lumpur. Malaysia yang unggul agregat di atas angin, namun siapa sangka justru Indonesia, yang sempat tertinggal di babak pertama berbalik usai jeda. Tidak tanggung-tanggung empat gol sekaligus dilesakkan untuk mengubah agregat menjadi 5-3 untuk Indonesia!

Di partai puncak, Singapura yang di era tersebut mengandalkan sejumlah pemain naturalisasi seperti Itimi Dickson, Daniel Bennett, dan Agu Casmir berhasil membungkam Indonesia dalam dua pertemuan. Dalam laga leg pertama, Indonesia takluk 3-1 di kandang yang diwarnai cedera parah yang diderita Boaz Solossa akibat terjangan brutal Baihakki Khaizan. Sedangkan di pertemuan kedua, Indonesia tak mampu mengejar ketinggalan agregat skor setelah Singapura memetik keunggulan 2-1. Kemenangan tersebut menjadikan The Lions merengkuh trofi Piala AFF kali kedua dalam sejarah mereka.

//

RESPECT dan FAIR PLAY. Mari berikan komentar yang sehat dan bermanfaat dalam kolom komentar yang telah kami sediakan.