Kisah Remuntada Ala Crotone

Remuntada ala Crotone, jadi kisah heroik yang tertutup hegemoni Scudetto keenam Juventus dan perpisahan Francesco Totti dengan AS Roma.

"Pemandangan yang gila di pekan terakhir Serie A!" ujar Sergio Chesi, seorang jurnalis Goal Italia. Juventus memang sudah memastikan Scudetto keenam beruntun sepekan sebelumnya. Konstelasi klasemen papan atas juga sudah dipastikan di waktu yang sama.

Namun pemandangan "gila" memang benar-benar tersaji di giornata pamungkas Serie A Italia musim ini. Dimulai dari pemecahan rekor Moise Kean sebagai pencetak gol termuda dalam sejarah Serie A. Secara mengejutkan dalam 24 jam berselang, Pietro Pellegri yang setahun lebih muda membuat rekor Kean jadi seumur jagung.

Segalanya kemudian ditutup dengan momen puncak purna abdi Francesco Totti selama 25 tahun di AS Roma. Walau begitu sejatinya ada satu lagi momen heroik, yang tertutup oleh gemerlap sederet adegan di atas.

Adalah kesuksesan klub kecil dari pesisir Italia Selatan, Crotone, raih target salvezza (bertahan di Serie A) pada pekan pamungkas. Keberhasilan yang diinspirasi oleh drama remuntada (comeback) Barcelona di Liga Champions, Maret lalu.

Sehari setelah dibuat takjub oleh remuntada Barca, pelatih Crotone, Davide Nicola, menggunakan istilah tersebut ketika ditanya soal kans kecil timnya selamat di Serie A musim ini.

Maklum kala itu Crotone cuma mampu petik 14 poin dari 27 giornata yang sudah digelar. Jumlah poin yang membuat mereka terpuruk di peringkat 19 klasemen, terpaut delapan poin jauhnya dari zona aman di peringkat 17, yang diduduki Empoli.

"Bukan hanya Barcelona yang bisa lakukan remuntada, kami juga bisa! Saya percaya kami bisa memutar balik keadaan ini dan tetap bertahan di Serie A musim depan," seru Nicola, seperti dikutip Sky Sport Italia.

Sebuah pernyataan yang membuat tertawa para penikmat Serie A, karena berbeda kelas, setelah komentar tersebut Crotone justru kalah dua kali beruntun dari Napoli dan Fiorentina. Segalanya tampak makin suram dan konyol lantaran di sembilan giornata sisa, mereka dinanti lawan-lawan berat macam Inter, AC Milan, Juventus, sampai Lazio.

Nicola, otak di balik keheroikan Crotone

Siapa sangka, titik balik hadir di momen tersebut. Sembilan giornata final, sembilan partai final, dan Crotone punya kewajiban raih poin sebanyak-banyaknya. Nicola sadar benar akan hal itu. Dia pun mengubah pendekatan taktikal pada tim asuhannya.

"Kalian tidak punya pilihan lain! Kalian harus tampil mati-matian di setiap detik dalam sembilan giornata terakhir. Percayalah, akan ada kejaiban untuk kita atau kalian malah mau jadi pecundang!" seru Nicola pada tim asuhannya usai digebuk Fiorentina 1-0, seperti dikutip La Stampa.

Formasi 4-4-2 tetap dipertahankan, komposisinya pun tak banyak diubah. Namun sepakbola yang dimainkan Crotone jadi jauh lebih atraktif, alih-alih terus bermain defensif menilik komposisi skuatnya yang bahkan tidak lebih mahal dari banderol transfer Alex Sandro kala dibeli Juve dari Porto.

Hasil yang didapat kemudian terbilang fantastis. Crotone tak terkalahkan di tujuh giornata lanjutan, dengan petik lima kemenangan! Dalam periode tersebut mereka mampu menaklukan Inter dan menahan Milan.

Duet lini depan, Diego Falcinelli dan Marcelo Trotta, jadi bintang terdepan dalam rentetan hasil positif tersebut. Kontribusi sembilan gol mereka persembahkan dalam bentuk gol dan assist.

Selain itu jangan lupakan pula peran kiper utama sekaligus kapten tim, Alex Cordaz. Dia hanya kebobolan lima gol dan membuat rerata nyaris tujuh penyelamatan di setiap partainya. Pengaruhnya di ruang ganti juga besar.

Crotone kemudian jadi satu-satunya penantang salvezza di zona degradasi, setelah Palermo dan Pescara dipastikan mentas di Serie B musim depan. Hingga giornata 36 Il Pitagorici duduk di peringkat 18 lewat koleksi 31 poin, terpaut satu poin dari Empoli dan dua poin dari Genoa.

Bencana lantas terjadi di pekan selanjutnya, karena mereka harus menghadapi Juve di J Stadium yang butuh kemenangan untuk pastikan Scudetto keenam beruntun. Rekor tak terlahkan selama tujuh partai beruntun pun terhenti, karena mereka dibantai 3-0.

Pada momen itu, segala keindahan mendadak berubah suram. Jarak poin Crotone memang tetap satu poin dengan Empoli yang di saat bersamaan telan kekalahan dari Atalanta. Namun Genoa sukses raih kemenangan, sehingga persaingan salvezza tinggal menyisakan Crotone dan Empoli dengan sisakan satu giornata.

Semuanya makin sulit, karena di giornata pamungkas Crotone harus hadapi Lazio -- penghuni empat besar klasemen -- sementara Empoli cuma bertandang ke Palermo, klub yang sudah pasti terdegradasi. Jika Crotone menang, mereka harus berharap Empoli tak raih hasil serupa untuk penuhi misi salvezza.

Mengetahui situasi sulit timnya, Nicola yang anak asuhnya baru saja terkapar di J Stadium justru mengucap nazar yang membuat semua orang geleng kepala. "Saya berjanji akan mengendarai sepeda dari Crotone ke Turin, jika kami sukses bertahan di Serie A!" serunya, seperti dikutip Sky Italia. Asal tahu saja, jarak antara Crotone ke Turin mencapai 1.200 kilometer!

Namun keajaiban yang diagung-agungkan secara mengejutkan benar terjadi. Bermain di hadapan publiknya sendiri, para pemain Crotone tampil bak kesetanan. Mereka bahkan unggul cepat 2-0 dalam waktu 22 menit hingga akhirnya menang meyakinkan lewat skor 3-1!

"Remuntada!" serentak menggema di Stadio Ezio Scida, dengan hegemoni suporternya yang menandingi Camp Nou. Mereka bahkan langsung turun memenuhi lapangan, untuk menjunjung tinggi para pahlawannya. Crotone memastikan diri bertahan di Serie A musim depan dengan kemenangan terebut, seturut Empoli yang secara tak terduga kalah 2-1 dari Palermo.

Sekali lagi, sepakbola kembali tunjukkan keajibannya lewat aksi heroik Crotone sekalipun terjadi di liga yang dipandang mulai tak kompetitif lagi. "Crotone menampilkan sepakbola yang sangat menarik dan menunjukkan sekali lagi bahwa keajaiban selalu ada di sepakbola. Seperti yang saya lakukan bersama Leicester City lalu," sanjung Claudio Ranieri di Sky Sport Italia.