Klub S-League Tolak Wacana Sriwijaya FC

Bos Balestier Khalsa menegaskan, sebaiknya FAS memasukkan kembali tim yang dicoret dibanding menerima klub asing.

Keinginan Sriwijaya FC mengikuti kompetisi di Singapura mendapat penolakan dari Balestier Khalsa. Bos salah satu klub S-League ini, S Thavaneson, menegaskan, federasi sepakbola Singapura (FAS) lebih baik memberdayakan klub lokal.

Sebelumnya, manajer Sriwijaya FC Robert Heri menegaskan, wacana ikut S-League bukan sebagai gertakan terkait keputusan menteri pemuda dan olahraga (Menpora) Imam Nahrawi yang menunda pagelaran Indonesia Super League (ISL) 2015.

Hingga saat ini, FAS mengaku masih belum menerima proposal, maupun pendekatan dari Sriwijaya FC terkait keinginan Laskar Wong Kito berkompetisi di Singapura. “Kami belum mendengarnya secara resmi dari Sriwijaya FC,” ujar juru bicara FAS Gerard Wong dikutip laman asiaone.

Terkait wacana Sriwijaya FC, Thavaneson menegaskan, dibandingkan harus mengambil klub dari luar Singapura, FAS sebaiknya memasukkan kembali klub yang tercoret dari S-League. Sebelumnya, peserta S-League berkurang dari 12 menjadi sepuluh klub di musim ini.

Tanjong Pagar United dicoret dari keikutsertaan, karena dianggap tak memenuhi persyaratan, sedangkan Hougang merger dengan Woodlands Wellington. Dengan demikian, hanya tujuh klub lokal tersisa yang berlaga di S-League musim ini.

Sementara tiga lainnya berasal dari luar Singapura, yakni DPMM Brunei Darussalam, Albirex Niigata (Jepang), dan Harimau Muda Malaysia. “Jika kita ingin menambah klub, seharusnya berasal dari tim yang dicoret tahun ini. Tujuan utama kita adalah mengembangkan klub lokal, serta memberikan kesempatan kepada klub dan pemain lokal,” cetus Thavaneson.

“Kita juga perlu mengirim pesan, S-League dibentuk bukan untuk klub-klub asing yang datang ketika menghadapi masalah di liga domestik mereka.” Sinchi FC menjadi klub Tiongkok pertama yang berpartisipasi di S-League pada 2003.

Namun, keikutsertaan klub asing di S-League diwarnai berbagai kisah, baik manis dan buruk. DPMM dan Albirex meraih kesuksesan di dalam maupun luar lapangan.

Liaoning Guangyuan tersandung skandal pengaturan skor, dan Beijing Guoan akibat keributan massal di lapangan. Sedangkan Sporting Afrique gulung tikar pada 2006 setelah satu tahun mengikuti S-League. Kendati demikian, hal itu tidak membuat klub lokal membuka pintu bagi tim asing.

Di saat Thavaneson melakukan penolakan, chairman Hougang United Bill Ng menerimanya dengan tangan terbuka. “Selama FAS mempunyai tekad, dan meyakini klub-klub ini mandiri, dan cukup bagus, kita perlu melanjutkan menerima klub asing dengan tangan terbuka. Liga ini sudah menjadi kosmopolitan, dan seharusnya tetap seperti itu,” imbuh Bill Ng.elah kami sediakan.