Krisis Kemenangan & Seret Gol, Saatnya AS Roma Depak Rudi Garcia?

Waktu sudah hampir habis untuk Rudi Garcia. Tersingkirnya Roma dari Coppa Italia oleh Spezia membawa mereka mencapai titik nadirnya di musim ini.

Awan hitam mendadak semakin padat mengumpul dan menggantung di atas Stadio Olimpico. Para pemain AS Roma berjalan gontai masuk ke terowongan ruang ganti. Wajah murung semakin terlihat jelas di wajah pelatih mereka, Rudi Garcia.

Roma baru saja dipastikan tersingkir dari babak 16 besar Coppa Italia. Secara memalukan, mereka kalah 4-2 melalui adu penalti melawan wakil Serie B Spezia setelah bermain tanpa gol selama 120 menit di Olimpico, Rabu (16/12) malam WIB.

Hasil itu menggenapi catatan tanpa kemenangan Roma dalam tujuh laga terakhir. Mereka belum merasakan kemenangan sejak 8 November saat menggebuk rival sekota Lazio 2-0.

Sepanjang periode tersebut, Giallorossi hanya mampu mencetak empat gol. Bahkan dalam tiga partai terakhir, Roma malah nihil gol. Sebuah torehan yang tidak selaras dengan komposisi lini depan mereka yang disebut-sebut memiliki para attacante terbaik di Negeri Pizza.

Kondisi itu semakin diperparah dengan boikot yang dilakukan ultras Roma sejak awal musim. Stadion Olimpico pun kerap kosong setiap kali Roma melakoni laga gandang. Fans yang geram dengan performa Roma juga sempat mengirimkan wortel 50 kilogram di kamp latihan tim di Trigoria beberapa waktu lalu, sebagai wujud kekecewaan dan sindiran kepada Daniele De Rossi cs.

Garcia berada di ujung tanduk. Pemecatan sepertinya juga sulit dilakukan setelah pada pekan lalu Garcia mendapat dukungan penuh dari manajemen klub, termasuk presiden James Pallotta dan direktur olahraga Walter Sabatini. Pelatih asal Prancis itu juga kembali menegaskan bahwa ia tidak akan mengundurkan diri dari jabatannya.

“Saya akan bertahan dan berjuang sampai mati. Saya tidak akan mundur. Saya akan berbicara kepada pemain, tetapi kenyataannya kami tidak boleh mencari alasan atas kekalahan ini,” tutur Garcia selepas laga kontra Spezia.

Performa tak keruan yang ditunjukkan Roma di musim ini seperti mengulangi kembali sebuah periode krisis musim dingin yang selalu menjangkiti Roma dalam dua musim terakhir bersama Garcia. Ya, jika sudah terjatuh sekali, Roma memang sulit untuk bangkit.

Di musim 2013/14, Garcia mengantar Roma mengawali Serie A secra impresif lewat sepuluh kemenangan beruntun. Namun memasuki periode November hingga Januari, Roma tersendat-tersendat dan tampil inkonsisten. Kondisinya semakin parah di musim 2014/15 di mana Roma mengalami rentetan hasil seri secara keterlaluan sejak Desember hingga Maret.

Akibatnya jelas, Juventus masih tanpa lawan di Serie A. Digadang-gadangnya Roma sebagai perusak dominasi Juve hanya menjadi semacam gertak sambal. Roma pun harus puas menjadi runner-up dalam dua musim terakhir tersebut. Di musim ini Roma bukan hanya perlahan mulai melupakan target Scudetto, tetapi mereka juga terancam tak lolos ke Eropa musim depan.

Dari segi taktik, Garcia juga tidak memiliki skema alternatif dari formasi 4-3-3 andalannya. Sempat terlihat menjanjikan di awal, taktik tersebut ternyata mudah terbaca lawan. Terlihat betul bagaimana skema 4-3-3 sangat rentan terekspos kala Roma takluk 2-0 dari Atalanta pada akhir November lalu. Di satu sisi, Garcia juga tidak memiliki plan B jika strateginya tersebut tidak berjalan baik.

Jika lawan sanggup mematikan kedua sisi sayap Roma -- yang selama ini dipercayakan kepada Mohamed Salah, Iago Falque, Gervinho, atau Juan Iturbe -- praktis suplai bola ke area penalti akan mati total. Tidak heran jika bomber anyar Edin Dzeko saat ini baru menceploskan lima gol dari 20 kali penampilannya di semua ajang musim ini.

Miralem Pjanic dan Radja Nainggolan tidak lagi merajalela seperti biasanya. Visi permainan cemerlang dan tusukan mematikan dari lini kedua sudah jarang terlihat. Ini terbukti dengan gol terakhir Roma dari permainan terbuka di Serie A yang tercipta lebih dari satu bulan yang lalu saat melawan Lazio, yang menjadi kemenangan terakhir Roma hingga saat ini.

Lini belakang juga bermain terlalu tinggi saat tim dalam posisi menyerang. Akibatnya, Roma hanya menyisakan tiga orang saat menghadapi serangan balik: gelandang bertahan Daniele De Rossi dan dua bek sentral, Kostas Manolas dan Anthony Rudiger. Tanpa kegemilangan Wojciech Szczesny di bawah mistar, mungkin jumlah kebobolan Roma akan jauh lebih banyak.

Jika Garcia tidak ingin mundur, maka ia harus mencari langkah solutif secepatnya. Perubahan formasi bisa menjadi kunci. Sekarang zamannya tim tanpa satu formasi saklek. Pep Guardiola menunjukkannya di Bayern Munich lewat eksperimen yang nyaris selalu gonta-ganti formasi dan pemain di setiap pertandingan. Tidak perlu jauh-jauh, Massimiliano Allegri juga kerap mengganti taktiknya tergantung lawan yang ia hadapi sehingga Juventus kini mampu ia bangkitkan dari keterpurukan di awal musim.

Perubahan komposisi skuat juga mungkin akan dilakukan mengingat bursa transfer musim dingin sudah mendekat. Namun, jangan sampai kesalahan pada Januari 2015 terulang kembali sebagaimana pembelian Seydou Doumbia dan Victor Ibarbo ketika itu terbukti menjadi transfer gagal.

Kini tinggal bagaimana Garcia menjawab seluruh keraguan yang tertuju kepada dirinya dan pasukannya. Garcia adalah Pelatih Prancis Terbaik versi Football France dalam 2011, 2013, dan 2014, sehingga ia sudah pasti punya jawaban tersendiri yang tersimpan di dalam otaknya. Jika perubahan tidak juga dilakukan, pemecatan Garcia pun tinggal menghitung hari.

Beberapa pelatih sudah mengantre dan mengetuk pelan-pelan pintu masuk Olimpico, di antaranya Luciano Spalletti, Walter Mazzarri, hingga yang terbeken, Carlo Ancelotti. Ancelotti bahkan sudah mengutarakan niatnya untuk memimpin klub ibu kota itu suatu saat nanti. “Saya akan kembali ke dunia sepakbola musim depan, jika suatu tim menginginkan saya. Saya akan jujur, jika saya kembali ke Italia, tujuannya hanya untuk Milan. Ya, dan juga Roma,” tutur Don Carletto.

Dari yang kedatangannya diragukan, kemudian bersinar di luar ekspektasi, kini semua orang tahu kalau Garcia kembali layak diragukan. Tahun lalu, Daniele De Rossi sempat bercerita bahwa ia tidak tahu mengenal barang satu poin pun tentang Garcia ketika klub menggaet sang allenatore dari Lille.

“Siapakah dia sebenarnya? Saya mencari namanya di internet dan yang pertama kali muncul adalah sebuah video di mana dirinya memainkan lagu ‘El Porompompero’ dengan gitarnya. Hari ini, saya bersyukur kepada Tuhan bahwa kami sukses memiliki ‘El Porompompero’. Ini akan menjadi lompatan sejarah bagi Roma. Dia bisa membuat kami juara lagi,” ujar De Rossi.

De Rossi sepertinya harus meralat kembali omongannya itu. Performa terkini Roma menunjukkan bahwa Garcia masih belum cukup memadai untuk membawa Giallorossi menggapai impian menuju Scudetto pertamanya sejak 2001 silam.

Coppa Italia kini sudah terlepas. Di Serie A, Roma juga terperosok ke peringkat lima dengan sudah terpaut tujuh poin dari pemuncak klasemen Internazionale. Di Liga Champions, Roma diperkirakan hanya akan menjadi bulan-bulanan Real Madrid di babak 16 besar. Praktis, ini adalah musim yang lagi-lagi harus dilupakan oleh Garcia dan Roma.