Kutukan Juara Turnamen, Ada Apa?

Dalam setahun terakhir, klub yang menjadi juara dalam sebuah turnamen, prestasinya langsung terpuruk pada turnamen yang mereka ikuti berikutnya.

Berbagai turnamen level nasional sudah digelar di Indonesia dalam setahun terakhir. Itu tidak terlepas dari vakumnya kompetisi di tanah air. 

Kevakuman itu terjadi setelah PSSI memutuskan untuk menghentikan Indonesia Super League (ISL) 2015, meski sempat berjalan sekitar dua pekan. Itu karena, mereka kesulitan mendapatkan izin keramaian dari pihak Kepolisian, lantaran adanya surat keputusan Menpora nomor 01307 tertanggal 17 April 2015.

SK tersebut berisi tentang sanksi administratif yang tidak mengakui segala kegiatan organisasi PSSI pusat, termasuk penyelenggaraan ISL saat itu. Setelah itu, turun juga sanksi suspensi dari FIFA per tanggal 30 Mei 2015.

Kembali lagi soal turnamen, berbagai klub sudah merasakan bagaimana manisnya menjadi juara. Tapi, para klub juara itu juga merasakan bagaimana pahitnya terpuruknya prestasi mereka di turnamen berikutnya.

Tercatat, deretan klub yang menjadi juara sebuah turnamen dalam setahun terakhir adalah Arema Cronus (Sunrise of Java Cup 2015 dan Bali Island Cup 2016), PSMS Medan (Piala Kemerdekaan), Persib Bandung (Piala Presiden), Mitra Kukar (Piala Jenderal Sudirman), dan Pusamania Borneo FC (Piala Gubernur Kalimantan Timur).

Dari daftar juara itu bisa dilihat, belum ada klub yang menjadi juara dalam sebuah turnamen, kemudian langsung menjadi juara lagi di turnamen yang mereka ikuti berikutnya. Bahkan, dalam empat turnamen terakhir, terkesan para juara itu seperti terkena "kutukan".

Kutukan yang dimaksud adalah, setelah juara prestasi klub-klub tersebut justru terjun bebas pada turnamen yang mereka ikuti berikutnya. Contoh pertama kita bisa lihat Persib.

Persib yang begitu prima penampilannya saat Piala Presiden, langsung terpuruk di Piala Jenderal Sudirman dengan hanya menempati peringkat empat fase penyisihan grup. Kemudian, juara Piala Jenderal Sudirman, Mitra Kukar, menduduki posisi buncit klasemen grup B di Piala Gubernur Kaltim. Padahal, mereka tampil di kandang sendiri.

Lebih lanjut, ada Arema yang usai menjuarai Bali Island Cup 2016 harus puas hanya menjadi peringkat ketiga Piala Gubernur Kaltim. Dan yang teranyar adalah, PBFC sang juara Piala Gubernur Kaltim harus menelan pil pahit tersingkir lebih awal di Piala Bhayangkara. Saat ini, tim Pesut Etam sudah menelan tiga kali kekalahan di fase grup A Piala Bhayangkara.

Yang menjadi pertanyaan, apa yang membuat klub-klub tersebut bisa seperti itu? Jika dilihat dari sisi teknis, sebenarnya ada beberapa hal yang bisa membuat klub-klub tersebut menjadi inkonsisten seperti itu.

Tim Juara di turnamen Prestasi berikutnya
Persib Bandung Piala Presiden Peringkat 4 grup Piala Jenderal Sudirman
Mitra Kukar Piala Jenderal Sudirman Juru kunci grup Piala Gubernur Kaltim
Arema Cronus Bali Island Cup Peringkat tiga Piala Gubernur Kaltim
Pusamania Borneo Piala Gubernur Kaltim Gagal lolos grup Piala Bhayangkara

Pertama, dari segi komposisi pemain yang cepat berubah. Tak bisa dimungkiri selama setahun terakhir klub hanya mengontrak pemain mereka dengan durasi per turnamen, atau ada juga yang membayar pemainnya per pertandingan.

Praktis, sistem kontrak seperti itu membuat pemain dengan cepat bisa berpindah ke klub lain, dari turnamen yang satu ke turnamen yang lainnya. Contohnya, Mitra Kukar yang gagal mempertahankan beberapa pemain andalan mereka di Piala Jenderal Sudirman, membuat mereka mendatangkan banyak pemain anyar untuk Piala Gubernur Kaltim.

Tapi dengan waktu persiapan yang singkat, tim yang ketika itu masih dilatih Jafri Sastra gagal membuat para pemain lama dengan yang baru cepat menyatu. Hasilnya, mereka menjadi juru kunci di grup B Piala Gubernur Kaltim. Itu juga tidak terlepas dari kualitas beberapa pemain anyar yang mereka datangkan ternyata jauh dari harapan.

Kemudian, kita bisa lihat juga dari jadwal padat yang terdapat di turnamen. Bayangkan, klub dalam enam hari bisa melakoni tiga pertandingan. Tentunya, itu adalah jadwal yang tidak ideal. Mengingat, proses pemulihan kondisi pemain sulit untuk bisa mencapai kondisi bugar 100 persen di pertandingan berikutnya, lantaran hanya mendapatkan jeda satu hari.

Itu yang dialami PBFC di Piala Bhayangkara. Hal itu yang juga menjadi salah satu alasan dari tim pelatih PBFC kenapa prestasi mereka terpuruk di turnamen hajatan Kepolisian Republik Indonesia itu. 

Di samping itu, ada juga beberapa faktor non teknis seperti pemain yang mengalami kejenuhan, lantaran jarak antarturnamen yang saling berdekatan.

Setidaknya, hal-hal tersebut yang bakal menjadi pelajaran bagi seluruh klub jika kompetisi benar-benar bergulir kembali. Di sisi lain, sekali lagi ini menjadi bukti bahwa seluruh klub membutuhkan adanya kompetisi, bukan hanya turnamen saja.

Pasalnya, jika kompetisi kembali digulirkan, klub dapat melakukan persiapan jangka panjang. Bongkar pasang pemain relatif lebih stabil jika dibandingkan dengan mengikuti turnamen. Lihat saja, beberapa tim dengan mudahnya mencopot pemain dari satu turnamen ke turnamen lain.

Belum lagi dengan keharusan melakukan persiapan pertandingan di kota penyelenggaraan turnamen. Dengan sistem liga, klub sudah dapat mengukur kekuatan karena jadwal sudah ditentukan sejak awal. Berapa kali bermain kandang dan berapa kali pula melakukan lawatan sudah dapat dikalkulasi terlebih dahulu.

Tambahan lain, klub dapat melakukan pembinaan berjenjang dengan mengorbitkan pemain muda binaan sendiri. Sistem turnamen sangat menyulitkan pemain muda untuk berkembang. Contohnya, penerapan regulasi menurunkan pemain U-21 di Piala Jenderal Sudirman. Beberapa pemain muda hanya dimainkan sekitar sepuluh menit sekadar formalitas memenuhi peraturan itu. 

Meski, pada turnamen Piala Bhayangkara aturan itu sedikit diperbaiki dengan harus menurunkan secara penuh minimal satu pemain U-21 dalam satu pertandingan.

Selain itu, jumlah pertandingan dalam turnamen juga menyulitkan pemain muda. Tidak mungkin kita berharap seorang pemain muda dapat langsung menemukan performa terbaik dalam jangka pendek. Kalau klub yang dibelanya terhenti di fase grup, terhenti pula perkembangannya.

Jadi, kita benar-benar merindukan datangnya kembali sistem liga.