Lantai Pertama Telah Dibangun, Berikutnya Apa Bagi Leicester City?

Manajer Leicester City Claudio Ranieri sukses mewujudkan lantai pertama untuk timnya, dan masa depan cerah kemungkinan menanti klub yang sempat tak diunggulkan tersebut.

“Pimpinan kami ingin membentuk sebuah tim yang sangat bagus dan itulah mengapa saya di sini. Kami ingin membangun fondasi kami terlebih dahulu dan, dengan fondasi besar, saya kemudian bisa membangun lantai pertama, lantai kedua dan seterusnya,” demikian ditekankan Claudio Ranieri ketika pertama kali diperkenalkan sebagai manajer Leicester City pada musim panas tahun lalu.

Di awal kedatangannya, Ranieri sempat diragukan bisa mengangkat prestasi klub berjuluk The Foxes itu. Itu wajar, karena pelatih asal Italia itu baru saja gagal bersama tim nasional Yunani yang tampil buruk selama menjalani kualifikasi Euro 2016, dengan pemecatan menghampirnya usai ditekuk Kepulauan Faroe pada November 2014.

Meski begitu, roda nasib mengantarnya ke King Power Stadium setelah pihak klub memberhentikan manajer Nigel Pearson akibat permasalahan fundamental, dengan sejumlah media di Inggris menyebutnya tidak terima dengan keputusan sepihak direksi Leicester yang memecat James Pearson (putra kandung Nigel), Adam Smith dan Tom Hopper akibat skandal orgy di musim panas 2015.

Pimpinan klub asal Thailand Vichai Srivaddhanaprabha lantas beralih pada Ranieri, dan tak sedikit pun ia meragukan keputusannya sebagaimana ia memberi The Tinkerman kontrak berdurasi tiga tahun dan kesempatan kedua untuk melatih klub di Inggris.

Seiring dengan itu, kritik kemudian datang menghampiri dengan legenda klub Gary Lineker dan manajer veteran Harry Redknapp mempertanyakan penunjukan Ranieri. Dalam hal ini, Rednkapp merasa kaget setelah mengetahui Ranieri bisa kembali ke Liga Primer meski gagal total di Yunani, selagi mantan penyerang Lineker menyebut kedatangannya sebagai langkah yang tidak menginspirasi.

Mencoba bijak, Ranieri mengatakan: “Saya mengerti, namun saya akan bekerja keras untuk membuat perubahan,” ujarnya kepada wartawan. “Saya menghargai semua orang namun masalah saya bukanlah Lineker atau Redknapp, fokus saya ada pada Leicester.

“Dengar, bagi saya bekerja itu adalah hal yang sangat penting. Saya mencintai pekerjaan saya, saya ingin meningkatkan semua pemain, saya ingin memperbaiki segalanya," janjinya di musim panas silam.

Di Leicester, Ranieri sejatinya hanya ditargetkan meraih 40 poin di awal musim untuk menghindarkan klubnya dari degradasi. Dan pada Desember, ia sukses mewujudkannya. Semenjak itu, pria berusia 64 tahun itu mengusung filosofi “jalani saja” dengan meminta pemainnya tampil bagus di setiap pertandingan.

Bak gayung bersambut, filosofi yang tidak diikuti dengan tuntutan macam-macam tersebut justru berhasil mengeluarkan kemampuan terbaik dari para pemainnya, dengan semua elemen di tim saling membantu untuk memenangkan pertandingan - dan itu adalah fondasi dasar yang merupakan modal besar.

Kesuksesan Ranieri sedikit banyak merupakan hasil dari keluwesannya dalam menjalankan roda manajerial, dengan ia tak segan mencoba fleksibel dan berbaur dengan pemainnya sebaik mungkin. Ia bahkan rela mentraktir para pemainnya pizza dan sampanye di tengah kompetisi, seperti saat pasukannya mencatatakan clean sheet perdana musim ini melawan Crystal Palace, yang tentu jarang dilihat dari seorang juru taktik mana pun.

Adapun di saat tim-tim lain terjungkal, Leicester malah konsisten mendulang angka dan siapa yang menyangka mereka baru kalah TIGA kali di kompetisi kasta tertinggi di Inggris musim ini, selagi mereka menjadi tim dengan catatan menang terbanyak; sebanyak 22 kali dari 36 laga perdana!

Hasil imbang 2-2 yang dipaksakan Chelsea pada Tottenham Hotspur dalam lanjutan Liga Primer matchday ke-36, Selasa (3/5) dini hari WIB, lantas membuat Leicester keluar sebagai juara dengan keunggulan tujuh poin di puncak, dan seluruh dunia kini dilanda euforia setelah melihat kisah dongeng yang sebelumnya tidak diprediksi, justru terjadi.

Ranieri kini telah berhasil mewujudkan lantai pertama timnya dengan memberikan gelar liga perdana, dan tentu ia akan berusaha untuk meningkatkan bangunannya. Jadi, apa berikutnya bagi Leicester?