Leicester City Juara, Bakal Jadi Dongeng Terbesar Dalam Sejarah Olahraga

Memimpin dengan selisih lima poin di puncak klasemen, menjadikan The Foxes berpotensi untuk mencatatkan dongeng yang sejajar dengan Nottingham Forest dalam buku sejarah.

Ada masa ketika bisnis besar mengubah peta persepakbolaan level tertinggi, yang menjadikan dongeng indah tidak bisa terjadi.

Posisi klasemen akhir ditentukan oleh seberapa besar dana gaji yang dimiliki klub, demikian juga dengan dana transfer yang dihabiskan. Semua orang sadar akan posisi tim masing-masing dan satu-satunya jalan yang biasanya melibatkan kegagalan.

Itulah mengapa, jika Leicester City menjuarai Liga Primer Inggris, bakal menjadi dongeng terhebat dalam sejarah dunia olahraga. Mereka telah melakukan hal yang tak hanya sulit dilakukan, tapi mendekati mustahil.

Mereka akan menjadi pemenang dengan dana terbatas dalam era yang mengandalkan uang besar, serta dalam olahraga di mana dana besar paling berpengaruh dibandingkan yang lainnya. Ada banyak kisah hebat - cerita tim kriket Australia atau dikenal dengan Botham's Ashes, petenis jerman Boris Becker yang memenangkan Wimbledon pada usia 17 tahun, Mark Edmondson petenis yang menjuarai Australian Open, John Daly pegolf profesional yang sukses di turnamen PGA, kegemilangan Muhammed Ali di dunia tinju - namun konteksnya berbeda satu sama lain.

Deretan cerita tersebut adalah kisah tentang eksploitasi kemampuan manusia. Ini adalah dunia yang bersaing mengandalkan kekuatan perusahaan. Karena Leicester akan menjadi yang terbaik di liga, di mana Manchester City menghabiskan £158 juta musim panas kemarin dan Manchester United membelanjakan dana £285 juta dalam dua musim terakhir, dibandingkan dengan dua pemain andalan mereka, Jamie Vardy adalah pemain dari non-liga yang hanya memiliki banderol £1 juta, serta winger dari divisi dua Prancis, Riyad Mahrez yang hanya ditebus senilai £450,000.

Vardy berpeluang menutup musim ini dengan raihan trofi sepatu emas sebagai top skor. Demikian juga Mahrez, kendati bermain dari sisi sayap tapi mampu mencatatkan jumlah assist lebih banyak dibandingkan pemain lainnya kecuali Mesut Ozil. Melihat catatan dalam tim ini, terutama dalam hal pembelian efektif, dengan mengandalkan pemain dari kasta lebih rendah serta buangan tim-tim lain maka akan menjadi dongeng yang indah.

Lihat lebih jauh ke dalam ruang ganti tim, maka akan ditemukan figur penting yang sukses membawa tim keluar dari cerita yang sejatinya hanya ada di dunia fiktif. Claudio Ranieri yang tampak seperti sosok yang ramah, pamah eksentrik mungkin muncul dalam cerita sebuah komik di antara karakter lainnya yang mendominasi alur cerita. Ia hadir dari reputasi bukan sebagai pemenang. Ia pernah kalah dari kesebelasan Kepulauan Faroe, ia bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Jose Mourinho atau Sir Alex Ferguson, tapi mungkin bakal bergabung dengan mereka sebagai manajer pemenang gelar juara.

Momentum juara Leicester akan menempatkannya sejajar dengan Brian Clough, yang sukses membawa Nottingham Forest menjuarai kasta tertinggi Inggris pada 1978, hanya 12 bulan setelah promosi yang lebih cepat dari potensi pencapaian Leicester musim ini. Tapi mereka punya manajer seperti Clough, yang sebelumnya pernah menjuarai liga bersama derby County dan memiliki kiper terbaik Inggris, yakni Peter Shilton. Seluruh elemen tersebut juga membawa Forest sukses meraih dua trofi Piala Champions Eropa dua kali secara beruntun, semua dicapai dalam periode enam tahun kepemimpinan Clough yang mengangkat prestasi tim dari papan bawah divisi dua.

Itu pencapaian abadi, prestasi yang sangat luar biasa, tapi dibukukan di era yang belum didominasi oleh kekuatan uang. Tanpa merendahkan pencapaian Clough dan Forest yang faktanya sukar untuk disaingi, tapi kisah sukses dalam dunia sepakbola yang tampaknya mustahil terjadi dalam dunia yang dikepung kekuatan finansial adalah cerita Alf Ramsey bersama Ipswich Town, sama seperti Forest, sukses menjuarai kasta tertinggi pada 1962 dengan kumpulan pemain yang kualitasnya tidak seperti dimiliki Forest.

Hellas Verona menjuarai Serie A Italia pada 1985 ketika liga itu berstatus sebagai yang terbaik di dunia, Juventus saat itu sangat dahsyat dan Napoli punya Diego Maradona. Kaiserslautern memenangkan Bundesliga Jerman seperti kisah Forest seusai promosi. Itu terjadi lebih dari 20 tahun yang lalu, dalam masa hidup penggawa Leicester saat ini, tapi itu dalam divisi yang telah menjadi mainan para miliarder.

Ada kisah mengagumkan lainnya yang penuh emosional, prestasi katarsis, seperti saat Manchester United memenangkan titel Eropa pertama, 10 tahun setelah bencana Munich dan pada puncak karier Matt Busby. Serta juga Zambia yang di luar dugaan meraih kesuksesan tertinggi dalam pentas Piala Afrika 2012, yang mereka dedikasikan kepada para suksesor mereka yang meninggal dalam kecelakaan pesawat di dekat Stadion Libreville. Itu adalah kisah pemenang yang mengharukan, ada tragedi yang menjadi inspirasi kemenangan mereka.

Dan di pentas sepakbola internasional, mungkin tercatat lebih banyak pembagian gelar kepada tim-tim non unggulan, seperti Denmark yang datang dari status tak terduga menjadi juara Piala Eropa 1992 dan ada Yunani yang mengulangi kisah serupa 12 tahun kemudian. Namun meski mereka melewati rival-rival kuat, mereka tetap tidak bersaing dengan tim-tim yang bisa mendatangkan pemain terbaik dan Leicester sedang melakukan hal itu.

Susunan skuat inti mereka hanya memiliki total banderol senilai £22 juta. Itu lebih sedikit ketimbang apa yang dibelanjakan Newcastle United pada Januari kemarin dan kini mereka berada di posisi ke-19. Juga lebih sedikit dari jumlah yang dibayarkan Everton saat mendatangkan Romelu Lukaku dan mereka masih tertahan di urutan ke-12. Jauh lebih sedikit dari dana yang dibelanjakan Chelsea untuk mendatangkan Diego Costa, Cesc Fabregas, Eden Hazard hingga Willian tapi mereka masih tertinggal 25 poin di belakang Leicester.

Maka itulah mengapa mereka merupakan dongeng indah dalam dunia yang sudah dikuasai kekuatan finansial. Tanda-tandanya akan datang, namun bakal mustahil untuk bisa diulangi. Sama seperti prestasi Forest yang memenangkan dua Piala Championship Eropa secara beruntun. Tapi faktanya, Leicester selangkah lagi berpesta pada abad ke-21, ketika klub-klub super telah menghabiskan seluruh sumber daya mereka untuk mendatangkan prestasi serta menutup celah bagi sisi yang tak memiliki kekuatan finansial memadai untuk menjadi juara.

Dengan dunia yang semakin memasuki era profesional, lebih pragmatis dan bisa dengan mudah diprediksi, maka akan sulit untuk menemukan kisah indah seperti ini. Hingga saat ini, Leicester yang mampu melakukannya.