Lika-Liku Piala Dunia Wanita

Jelang kick-off Piala Dunia Wanita di Kanada dini hari nanti, Goal menyajikan perjalanan panjang turnamen empat tahunan ini.


GOALOLEH    DEWI AGRENIAWATI     Ikuti di twitter


Bicara soal turnamen Piala Dunia Wanita 2015 yang akan mulai digelar pekan ini di Kanada, banyak yang mengira turnamen ini diperkenalkan kepada publik pada 1991. Padahal jauh sebelum itu, cikal bakal sepakbola wanita telah muncul.

Piala Dunia Wanita secara tidak resmi sebenarnya telah dimulai 21 tahun sebelumnya, tepatnya di ajang Coppa del Mondo di Italia pada 1970, lalu diikuti Mundial di Meksiko setahun kemudian, rangkaian turnamen Mundialito sepanjang 1980-an di Italia dan Fifa Women’s Invitation Tournament di Tiongkok pada 1988. Inggrid nyaris menjadi tuan rumah turnamen pada 1971, tapi gagal lantaran WFA [Asosiasi Sepakbola Wanita] menentangnya.

Barulah pada 1991, Fifa secara resmi menggelar Piala Dunia Wanita di Tiongkok. Namun di awal kemunculannya, tidak ada hadiah untuk sang kampiun, tidak ada sponsor bahkan pertandingan berlangsung hanya 80 menit. Amerika Serikat menjadi juara berkat sepasang gol Michelle Akers menekuk Norwegia 2-1 di laga puncak. Ironisnya, kebanyakan warga Amerika tidak tahu negaranya jadi juara karena turnamen ini tidak digelar di Negeri Paman Sam.

Baru pada pagelaran berikutnya di Swedia durasi pertandingan berjalan normal, 90 menit, namun urusan hadiah pesepakbola wanita harus menunggu hingga 2007 untuk memperebutkan total 3,7 juta poundsterling. Pada 1999 di Amerika, jumlah tim kontestan bertambah dari 12 menjadi 16. Di laga puncak, sebanyak 90.185 penonton memadati Stadion Rose Bowl di Los Angeles dan ini menjadi rekor penonton terbanyak di olahraga wanita hingga sekarang. Salah satu momen yang terus dikenang hingga sekarang adalah selebrasi Brandi Chastain setelah gol penaltinya menjadi penentu kemenangan.

Tiongkok seharusnya menjadi tuan rumah turnamen pada 2003, namun masalah virus SARS yang menerpa negara tersebut memaksa kejuaraan ini dipindah ke Amerika Serikat. Meski demikian, Tiongkok tetap lolos otomatis dan menggelar Piala Dunia Wanita edisi 2007. Sejumlah momen penting terjadi di edisi kali ini, mulai dari keterlibatan Inggris, selebrasi mencium sepatu Kelly Smith hingga gol cantik debutan Brasil, Marta, saat menghadapi Amerika. Jerman menjadi kampiun dua kali konsekutif pada 2003 dan 2007 setelah masing-masing menekuk Swedia dan Brasil.

Piala Dunia Wanita akhirnya makin mendapat perhatian dunia saat digelar di Jerman empat tahun lalu. Tak kurang dari 181 negara dengan 62,8 juta orang menyaksikan partai final di TV kala Jepang membekuk AS melalui drama adu penalti, sekaligus menjadi negara Asia pertama yang memenangkan Piala Dunia. Di Jerman sendiri orang lebih antusias menyaksikan pertandingan ini dibandingkan pertarungan tinju dunia antara Vladimir Klitschko dan David Haye. Tak hanya itu, kicauan di Twitter mencapai 7.196 per detik - melebihi tweet seputar pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton atau meninggalnya Osama bin Laden.

Popularitas Piala Dunia Wanita kian melejit, terbukti dengan kembali bertambahnya jumlah tim peserta menjadi 24 dari 16 untuk pagelaran di Kanada tahun ini. Para peserta pun tak lagi main-main ambil bagian dalam turnamen ini. Sekitar sepuluh tim memboyong koki sendiri dari negara asal, lima tim terbang dengan kelas bisnis, bahkan salah satu tim tercatat menyewa jet pribadi untuk melancarkan perjalanan mereka sepanjang turnamen.

Sayang, persiapan turnamen tahun ini di Kanada diwarnai kontroversi karena penggunaan lapangan dengan rumput artifisial, yang diyakini banyak pihak membuat pemain mudah cedera. Lebih dari 50 pemain memprotes kebijakan ini atas dasar diskriminasi gender. Mereka mengajukan gugatan kepada FIFA yang memutuskan pertandingan digelar di rumput sintesis. Padahal pada Piala Dunia pria, FIFA diyakini tidak akan membiarkan para pemain bermain di rumput yang “tidak aman”.

Pemain wanita terbaik 2012 Abby Wambach bahkan yakin para pemain pria akan melancarkan demonstrasi jika dipaksa tampil di rumput sintesis. Ujungnya, masalah kesamaan gender dan tuntutan bermain di lapangan rumput menyeruak menjadi perdebatan di sejumlah negara. Gugatan resmi pun kemudian diluncurkan pada 1 Oktber 2014 di pengadilan Ontario oleh sekelompok pemain internasional wanita untuk menentang FIFA. Asosias Sepakbola Kanada menegaskan, pada 1994 FIFA menghabiskan dana dua juta dollar untuk menanam rumput alami di New Jersey dan Detroit.

Gugatan para pemain ini kemudian mendapat dukungan dari berbagai selebriti dunia, termasuk aktor Tom Hanks, bintang NBA Kobe Bryant dan kiper timnas AS Tim Howard. Meski ada kemungkinan boikot, ketua kompetisi sepakbola wanita Tatjana Haenni memastikan turnamen tetap dimainkan di rumput artifisial dan tidak ada Rencana B. Barulah pada awal tahun ini gugatan terhadap FIFA dicabut para pemain.

Pro dan kontra penggunaan rumput sintesis sepertinya menjadi puncak gunung es atas ketidaksetaraan gender. Termauk soal hadiah sebesar $13,6 juta cuma sebagian kecil jika dibandingkan $406 juta yang ditawarkan di turnamen sepakbola pria di Brasil musim panas silam. Namun di tengah isu gap gender, sepakbola wanita sepertinya belum bisa lepas dari kaum adam, di mana hanya delapan dari 24 tim di Kanada yang dibesut juru taktik wanita.

Lalu, bagaimanakah Piala Dunia Wanita 2015 akan berjalan? Dengan delapan debutan dan digelar di rumput sintesis ajang ini diyakini bakal menarik.

Get Adobe Flash player

 

 
Topics